Kadar abu wood pellet yang dipersyaratkan untuk industri seperti pembangkit listrik bisa sampai 6% menurut pellet fuel institute (PFI) Amerika. Tetapi kimia abu menjadi pertimbangan penting pada pemakaian pembangkit listrik tersebut. Korea Selatan misalnya saat ini mensyaratkan kadar klorin maksimal 500 ppm (500 mg/kg) atau Jepang mensyaratkan kadar potassium maksimal 1000 ppm (1000 mg/kg). Hal ini membuat produksi wood pellet mengikuti spesifikasi tersebut apabila spesifikasi belum sesuai. Sejumlah pretreatment khusus perlu dilakukan untuk mencapai spesifikasi tersebut. Potensi wood pellet dari kebun energi di Indonesia sangat besar, demikian juga pellet fuel dari limbah pertanian atau perkebunan seperti tandan kosong sawit yang diperkirakan jumlahnya mencapai kurang lebih 38 juta ton per tahun. Tetapi sekali lagi spesifikasi pellet (wood pellet atau agro waste pellet) yang diproduksi perlu disesuaikan dengan kebutuhan pembangkit listrik di Jepang atau Korea Selatan - dua negara yang sangat tergantung dengan energi - tentunya apabila produsen pellet tersebut berorientasi export. pertanyaan selanjutnya pretreatment seperti apa yang perlu dilakukan pada produksi pellet tersebut? InsyaAllah kita bahas pada kesempatan yang lain.
Tampilkan postingan dengan label tanaman trubusan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tanaman trubusan. Tampilkan semua postingan
Senin, 11 Maret 2019
Efisiensi Pembangkit Listrik Lebih Tinggi Menuntut Kualitas Bahan Bakar Lebih Tinggi
Saat kita hendak mengisi bahan bakar kendaraan kita di SPBU tentu kita memilih bahan bakar apa yang paling cocok dengan kendaraan kita. Kendaraan kita akan bisa berjalan dengan optimal jika menggunakan bahan bakar yang sesuai. Kualitas bahan bakar terlalu tinggi (over spec) ataupun terlalu rendah (under spec) hanya akan memberikan kinerja yang kurang optimal. Secara teknis kendaraan tersebut telah dirancang dengan rasio tekanan tertentu pada sistem pembakarannya, apabila bahan bakar dengan kualitas terlalu tinggi maka pada kompresi rendah menjadi sulit terbakar sempurna, dan demikian juga sebaliknya. Pada operasional kendaraan bahkan bahan bakar yang terbakar sebelum waktunya atau setelah waktunya akan menghasilkan performa yang tidak optimal. Bahan bakar dengan kualitas tinggi juga memiliki harga lebih tinggi sehingga secara ekonomi juga tidak menguntungkan, demikian juga dengan bahan bakar kualitas rendah, walaupun lebih murah tetapi performa juga dibawah standar.
Analogi diatas juga kurang lebih sama untuk pembangkit listrik. Semakin tinggi tingkat efisiensi semakin tinggi kualitas bahan bakar yang dipersyaratkan karena kondisi operasi juga di atas rata-rata biasanya, misalnya kompresi, temperatur dan sebagainya. Kalau pada bensin kualitas dinyatakan dengan angka oktan, atau pada solar atau minyak diesel kualitas dinyatakan dengan angka cetan, maka pada bahan bakar padat seperti wood pellet ukuran kualitas dinyatakan dengan nilai kalori. Unsur-unsur lain yang juga diperhatikan pada bahan bakar yakni unsur-unsur yang bisa merusak alat atau mesin yang digunakan. Khusus pada wood pellet kandungan potassium dan klorin yang tinggi bisa berefek buruk pada pembangkit listrik tersebut. Potassium akan menjadi deposit/fouling pada pipa boiler sehingga menurunkan efisiensinya, sedangkan khlorin yang bersifat korosif akan memperpendek umur pakai pembangkit listrik tersebut.
Pada tahun 2030 Jepang akan menerapkan penggunaan pembangkit listrik dengan efisiensi yang lebih tinggi yakni minimum 41% sedangkan sebagian besar efisiensi pembangkit listrik batubara saat ini berkisar 30-35%. Untuk mencapai tingkat efisiensi lebih dari 41% teknologi yang digunakan adalah ultra supercritical pulverized coal. Teknologi ultra supercritical pulverized coal pada dasarnya adalah pengembangan lanjut teknologi pulverized coal yang paling banyak digunakan oleh pembangkit listrik batubara atau lebih dari 95% di seluruh dunia. Perbedaan teknologi ultra supercritical pulverized dengan pulverized adalah pada penggunaan tekanan dan temperature lebih tinggi sehingga efisiensinya juga lebih tinggi. Modifikasi pembangkit listrik juga bisa dilakukan untuk peningkatan efisiensi tersebut. Penggunaan bahan bakar biomasa seperti wood pellet bisa dengan cara cofiring maupun full firing (100% wood pellet). Karakteristik bahan bakar yang digunakan juga akan berpengaruh pada teknologi boiler yang digunakan.
Kadar abu wood pellet yang dipersyaratkan untuk industri seperti pembangkit listrik bisa sampai 6% menurut pellet fuel institute (PFI) Amerika. Tetapi kimia abu menjadi pertimbangan penting pada pemakaian pembangkit listrik tersebut. Korea Selatan misalnya saat ini mensyaratkan kadar klorin maksimal 500 ppm (500 mg/kg) atau Jepang mensyaratkan kadar potassium maksimal 1000 ppm (1000 mg/kg). Hal ini membuat produksi wood pellet mengikuti spesifikasi tersebut apabila spesifikasi belum sesuai. Sejumlah pretreatment khusus perlu dilakukan untuk mencapai spesifikasi tersebut. Potensi wood pellet dari kebun energi di Indonesia sangat besar, demikian juga pellet fuel dari limbah pertanian atau perkebunan seperti tandan kosong sawit yang diperkirakan jumlahnya mencapai kurang lebih 38 juta ton per tahun. Tetapi sekali lagi spesifikasi pellet (wood pellet atau agro waste pellet) yang diproduksi perlu disesuaikan dengan kebutuhan pembangkit listrik di Jepang atau Korea Selatan - dua negara yang sangat tergantung dengan energi - tentunya apabila produsen pellet tersebut berorientasi export. pertanyaan selanjutnya pretreatment seperti apa yang perlu dilakukan pada produksi pellet tersebut? InsyaAllah kita bahas pada kesempatan yang lain.
Kadar abu wood pellet yang dipersyaratkan untuk industri seperti pembangkit listrik bisa sampai 6% menurut pellet fuel institute (PFI) Amerika. Tetapi kimia abu menjadi pertimbangan penting pada pemakaian pembangkit listrik tersebut. Korea Selatan misalnya saat ini mensyaratkan kadar klorin maksimal 500 ppm (500 mg/kg) atau Jepang mensyaratkan kadar potassium maksimal 1000 ppm (1000 mg/kg). Hal ini membuat produksi wood pellet mengikuti spesifikasi tersebut apabila spesifikasi belum sesuai. Sejumlah pretreatment khusus perlu dilakukan untuk mencapai spesifikasi tersebut. Potensi wood pellet dari kebun energi di Indonesia sangat besar, demikian juga pellet fuel dari limbah pertanian atau perkebunan seperti tandan kosong sawit yang diperkirakan jumlahnya mencapai kurang lebih 38 juta ton per tahun. Tetapi sekali lagi spesifikasi pellet (wood pellet atau agro waste pellet) yang diproduksi perlu disesuaikan dengan kebutuhan pembangkit listrik di Jepang atau Korea Selatan - dua negara yang sangat tergantung dengan energi - tentunya apabila produsen pellet tersebut berorientasi export. pertanyaan selanjutnya pretreatment seperti apa yang perlu dilakukan pada produksi pellet tersebut? InsyaAllah kita bahas pada kesempatan yang lain.
Selasa, 10 Maret 2015
10 Keuntungan Dengan Membuat Kebun Energi Untuk Produksi Wood Pellet
Keterjaminan pasokan bahan baku adalah salah satu faktor
kunci dari keberhasilan usaha wood pellet. Ada 2 cara untuk mendapatkan bahan
baku yang umum dilakukan saat ini :
a. Membeli dari pemilik atau sumber bahan baku.
b. Mengusahakan sendiri ketersediaan bahan sendiri.
Sedangkan cara ke-3 dan ini masih belum banyak dilakukan
pengusaha wood pellet adalah dengan cara campuran atau mix, yakni sebagian
mengusahakan sendiri ketersediaan bahan bakunya dan sebagian sisanya membeli
dari pemilik atau sumber bahan baku.
Sedangkan ditinjau dari jenis biomasa bahan bakunya ada 2
macam, yakni
a. Biomasa kayu
b. Biomasa yang non-kayu seperti limbah-limbah pertanian
(tandan kosong sawit, tongkol jagung, sekam padi dan sebagianya). Saat ini
biomasa kayu masih menjadi prioritas untuk dipelletkan menjadi produk wood
pellet karena sejumlah keunggulan dibanding biomasa non-kayu yang umumnya
merupakan limbah-limbah pertanian, yang dimasukkan dalam kategori biomass
pellet atau agri-waste pellet.
Perbandingan antara wood pellet dan biomass pellet / agri-waste pellet
bisa dibaca disini.
Sedangkan biomasa kayu apabila ditinjau lebih khusus untuk
produksi wood pellet maka sumber bahan baku dibedakan menjadi 2 macam :
a. Limbah-limbah
industri pengolahan kayu.
b. Kayu dari produk kebun energi.
Sedangkan ditinjau dari kekeringan bahan baku, maka ada
bahan baku kering dan baha baku basah. Tingkat kekeringan bahan baku juga harus
diatur sehingga bisa menghasilkan wood pellet berkualitas.
Kebun energi sebagai sumber bahan baku yang diusahakan
sendiri memiliki banyak keunggulan, antara lain :
1. Kebun energi bisa dibuat sendiri sehingga kontrol bahan
baku internal usaha wood pellet lebih mudah, seperti fluktuasi pasokan,
perubahan harga pasar, tidak tergantung sumber-sumber kayu limbah dan
sebagainya.
2. Produk samping dari kebun energi berupa hijauan bisa
dimanfaatkan untuk peternakan seperti sapi atau kambing, dan peternakan lebam
madu yang memanfaatkan bunga dari tanaman kebun energi.
3. Lokasi pabrik wood pellet bisa sangat dekat atau bahkan
berada ditengah-tengah kebun energi (raw material oriented), sehingga
biaya/harga bahan baku murah.
4. Kebun energi juga menyerap CO2 dari atmosfer (Carbon negative), aplikasi wood pellet merupakan Carbon neutral sehingga bisa masuk
dalam perdagangan karbon, kegiatan mitigasi perubahan iklim melalui aforestasi (penanaman/penambahan stok karbon), dan pembangunan unit SFM (Sustainable Forest Management).
![]() |
| Photo-Photo Pembibitan Tanaman Kaliandra Untuk Pembuatan Kebun Energi Seluas 1200 ha |
5. Pola penyediaan bahan baku mix (campur) dengan sebagian
kebun energi milik perusahaan (inti) dan sebagian yang lain milik masyarakat
(plasma) bisa dilakukan. Pola ini akan mengikutsertakan peran masyarakat dan
mengembangkannya.
6. Penghasilan tambahan dengan memanfaatkan sela tanaman
kebun energi dengan tanaman lain (model agroforestry) sehingga budidaya
bersifat polikultur yang lebih tahan penyakit.
7. Lahan tidur atau bahkan lahan marginal yang jumlahnya
jutaan hektar bisa dimanfaatkan secara efektif.
8. Menyuburkan dan memperbaiki kondisi tanah termasuk
pencegahan erosi. Akar tanaman kaliandra yang berbentuk bintil-bintil mampu mengikat
nitrogen sehingga menyuburkan tanah.
9. Tanaman cepat panen dan tumbuh (trubus) lagi, tanpa perlu
penanaman ulang. Tanaman kebun energi seperti kaliandra hanya ditanam sekali
lalu trubus atau tumbuh lagi setelah ditebang (panen) hingga puluhan tahun,
hasil lebih banyak dan perawatan sangat mudah.
10. Pengembangan atau perbesaran kapasitas pabrik wood pellet sangat dimungkinkan selama lahan masih tersedia. Dan saat ini masih ada
jutaan hektar yang potensial untuk pembuatan kebun energi tersebut.
Minggu, 24 Agustus 2014
Wood Pellet untuk Green…Green World!
Tumbuhnya kesadaran manusia akibat kerusakan lingkungan
berupa perubahan iklim dan pemanasan global menumbuhkan berbagai upaya untuk
mengurangi besarnya dampak kerusakan lingkungan tersebut. Sumber penyebab
kerusakan lingkungan tersebut karena keserakahan manusia melalui aktivitas
ekonominya dengan mengeksploitasi alam secara berlebihan. Manusia hendaknya
menjadi pengelola alam ini secara bijaksana bukan malah sebaliknya akibat
kepentingan sesaat hawa nafsunya. Tumbuhnya kesadaran tersebut harus terus
dipelihara dan diatur sedemikian rupa sehingga membuahkan berbagai upaya
konkrit. Tanpa peraturan yang jelas dan mengikat aktivitas semua manusia dimuka
bumi maka mustahil upaya perbaikan alam tersebut akan terlaksana dengan baik.
Kita saksikan saat ini berbagai perusahaan hingga negara ingin
mendapat pengakuan sebagai perusahaan atau negara yang paling peduli masalah
lingkungan tidak terkecuali di Indonesia. Dengan begitu mereka berlomba-lomba dengan program Go Green-nya seperti CO2 Reduction atau pengurangan emisi CO2 dan semacamnya. Dengan pengakuan tersebut umumnya
mereka ingin mendapat tempat tersendiri dikalangan
konsumen ataupun mitra-mitra mereka sehingga produk ataupun program-program
mereka nantinya juga mudah diterima kalangan-kalangan tersebut. Aktivitas
tersebut juga menimbulkan aktivitas ekonomi baru yakni Green Economy. Seberapa besar Green Economy atau Green Business ini?
Jawabnya tentu saja tergantung seberapa besar program mitigasi perubahan iklim
dan lingkungan dalam entitas perusahaan atau negara yang bersangkutan hingga
dalam lingkup global.
Wood pellet adalah salah satu solusi yang populer untuk
mitigasi masalah lingkungan dan perubahan iklim tersebut. Wood pellet yang
berasal dari biomasa kayu merupakan bahan bakar karbon netral dan merupakan
sumber energi terbarukan dengan syarat biomasa kayu sebagai sumber bahan baku
wood pellet tersebut harus diusahakan
secara berkesinambungan dan tidak merusak lingkungan. Ketersediaan bahan baku
yang kontinyu adalah salah satu faktor kunci suksesnya usaha produksi wood
pellet, sehingga karena keterbatasannya saat ini pellet tidak hanya dari kayu tetapi juga dari limbah-limbah
pertanian atau perkebunan yang bisa disebut biomass pellet atau agri-wastepellet. Kebun energi dengan tanaman trubusan atau SRC adalah salah satu cara
menghasilkan biomasa kayu sebagai sumber bahan baku wood pellet lebih cepat dan
bisa berkesinambungan. Potensi Indonesia sangat besar untuk kebun energi
tersebut dan akan lebih baik bila diintegrasikan dengan sektor yang lain.
Selasa, 22 Oktober 2013
Menggalakkan Kebun Energi
![]() |
| Photo diambil dari sini |
Keterjaminan pasokan bahan baku adalah mutlak diperlukan
bagi kelangsungan industri wood pellet , briket maupun biofuel lainnya. Bahan baku yang homogen
menjadi lebih baik karena memudahkan proses dibandingkan bahan baku yang
hetogen, misalnya bahan baku yang semuanya berasal dari batang pohon akan lebih
baik dibandingkan bahan baku dari campuran dari batang, pelepah, daun, akar dan
sebagainya. Jenis tanaman trubusan dengan umur pendek dan berulangkali bisa
dipanen adalah pilihan ideal sebagai tanaman kebun energi. Luasnya lahan kritis
di Indonesia yang mencapai ratusan ribu bahkan jutaan hektar sangat potensial
dimanfaatkan sebagai kebun energi dengan menanam tanaman trubusan atau SRC
tersebut.
Kaliandra dan gamal adalah dua jenis tanaman trubusan untuk kebun
energi yang telah banyak dibudidayakan sebagai penopang industri wood pellet. Kedua
tanaman trubusan tersebut banyak dipilih karena memerlukan prasyarat tumbuh dan
berkembang yang mudah bahkan bisa hidup di lahan-lahan kritis. Hal tersebut
memungkinkan didapat dua keuntungan sekaligus yakni, keberlangsungan pasokan
bahan baku untuk industri wood pellet dan penghijauan untuk mencegah erosi,
banjir dan sebagainya. Panen bisa dilakukan setelah umur tanaman sekitar 1
tahun dan selanjutnya pada tahun berikutnya bisa dipanen lagi, hingga puluhan
kali. Sri Lanka adalah salah satu negara yang karena tidak tersedianya energi fossil
maka menyandarkan energinya dari biomassa, khususnya tanaman gamal tersebut. Selain batangnya bisa dimanfaatkan sebagai
bahan baku industri wood pellet, daunnya bisa sebagai pakan ternak, tambahan
lagi untuk kaliandra dan gamal, bunganya bisa dimanfaatkan untuk peternakan
lebah madu.
Wood pellet yang dihasilkan dari bahan baku kayu kaliandra
maupun gamal memiliki nilai kalor tinggi, yakni lebih dari 4000 kkal/kg, kadar
abu rendah dan kandungan lignin tinggi sehingga memudahkan proses pemelletan di
industri wood pellet tersebut. Wood pellet untuk dengan aplikasi utamanya
sebagai sumber energi terbarukan termasuk kategori bahan bakar carbon neutral,
hal ini karena sumber biomasa kayunya dari fotosintesis dengan menggunakan CO2
dari atmosfer dan ketika dimanfaatkan sebagai sumber energy dilepaskan lagi ke
atmosfer. Jadi secara neraca tidak ada penambahan CO2 diatmosfer atau carbonneutral.
Adanya permintaan dari sejumlah negara seperti Korea Selatan dengan wood pellet hanya dari bahan biomasa kayu akan semakin menguatkan lagi penggalakan kebun energi ini untuk bisnis yang berkelanjutan. Hal ini karena biomasa kayu memiliki sejumlah kelebihan pada nilai kalor, kadar abu dan kimia abu-nya dibandingkan biomasa lainnya khususnya limbah-limbah agroindustri. Senyawa-senyawa seperti klorin, sulphur dan nitrogen menjadi perhatian penting dalam standar wood pellet tersebut.
Adanya permintaan dari sejumlah negara seperti Korea Selatan dengan wood pellet hanya dari bahan biomasa kayu akan semakin menguatkan lagi penggalakan kebun energi ini untuk bisnis yang berkelanjutan. Hal ini karena biomasa kayu memiliki sejumlah kelebihan pada nilai kalor, kadar abu dan kimia abu-nya dibandingkan biomasa lainnya khususnya limbah-limbah agroindustri. Senyawa-senyawa seperti klorin, sulphur dan nitrogen menjadi perhatian penting dalam standar wood pellet tersebut.
Langganan:
Postingan (Atom)
Biochar, Kesehatan Tanah dan Keberlanjutan Produktivitas Sawit
Tanah sehat pasti subur, tetapi tanah subur belum tentu sehat. Tanah yang sehat memiliki kehidupan mikroorganisme seperti cacing dan organis...
-
Sejak pakan ternak menjadi komoditas perdagangan atau produk komersial dimulai pada awal 1800an ketika alat transportasi dan penggerak alat-...
-
EFB (empty fruit bunch) atau tandan kosong kelapa sawit banyak dihasilkan oleh pabrik-pabrik sawit dan bahkan cenderung menjadi limbah yan...
-
Aspek pasar adalah faktor penting bagi suatu produksi, tidak terkecuali wood pellet . Pengenalan terhadap karakteristik pasar yang baik, j...



















