Tampilkan postingan dengan label bahan bakar karbon netral. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bahan bakar karbon netral. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 April 2018

5 Pabrik Wood Pellet Terbesar Di Dunia

Referensi dibutuhkan untuk membuat sesuatu yang tidak kalah kualitasnya atau bahkan bisa lebih baik, demikian juga untuk pabrik atau produksi wood pellet. Indonesia dengan potensi tanah yang luas, subur dan beriklim tropis perlu mendapatkan referensi yang lengkap dan berkualitas khususnya pada produksi wood pellet sehingga bisa mengoptimalkan potensinya. Diversifikasi energi juga sangat dibutuhkan Indonesia sehingga memiliki ketahanan dan kedaulatan energi yang kuat, apalagi dengan kondisinya saat ini yang telah menjadi nett importir minyak bumi, bahkan diproyeksikan dalam rentang kurang lebih 10 tahun mendatang minyak bumi Indonesia akan habis. Uraian dibawah ini tentang 5 pabrik wood pellet terbesar saat ini yang bisa dijadikan referensi. 

1. Enviva
Enviva didirikan pada tahun 2004, saat ini Enviva mengoperasikan 7 pabrik wood pellet dengan total produksi lebih dari 3 juta ton/tahun. Sebagian produksi wood pelletnya dieksport ke Inggris dan Eropa. Sejumlah pelabuhan digunakan Untuk pengapalan atau export wood pelletnya, yakni pelabuhan Chesapeake, Virginia; pelabuhan Wilmington, Carolina Utara, dan pelabuhan dari pihak ketiga di Mobile, Alabama dan Panama City, Florida. Enviva belum lama juga mengumumkan untuk kontrak menyuplai (off-take contract) dengan Marubeni untuk menyuplai 100.000 tons/tahun wood pellet ke pembangkit listrik baru mulai tahun 2022 selama 10 tahun. 

Bahan baku Enviva terutama bersumber kayu dari 1.183 hutan industri di 77 kabupaten dan di lima negara bagian Tenggara. Hutan di Tenggara terus tumbuh dan berkembang, dengan jumlah total lahan hutan di area Enviva sebagai suplai utama meningkat 320,842 hektar dari tahun 2011 hingga 2015, menurut US Forest Service. Inventarisasi di area tersebut telah tumbuh sebesar 10 persen selama periode waktu yang sama dan terus meningkat karena hutan tumbuh pada tingkat yang lebih cepat daripada yang dipanen.
2. Graanul Invest
Graanul Invest adalah produsen wood pellet terbesar di Eropa dan berdiri sejak tahun 2003. Kapasitas produksi produsen ini berkisar 2,3 juta ton/tahun dengan mengoperasikan 11 pabrik wood pellet. Pada tahap awal perusahaan ini mengoperasikan 2 pabrik wood pellet, satu di Imavere, Estonia dan satunya di Alytus, Luthuania. Perkembangan selanjutnya dengan mengakuisisi pabrik dan pembangunan pabrik baru, hingga saat ini mengoperasikan 11 pabrik wood pellet. Pelabuhan Untuk eksportnya yakni pelabuhan Riga di Latvia dan pelabuhan Tallinn, Parnu dan Kunda di Estonia. 
3. Drax Biomass
Drax selain sebagai pengguna wood pellet terbesar saat ini dengan lebih dari 10 juta ton/tahun, juga merupakan produsen wood pellet terbesar di dunia. Drax biomass sebagai produsen wood pellet mulai beroperasi sejak 2017 dengan total produksi sekitar 1,5 juta ton/tahun. Drax biomass memiliki kantor pusat di Atlanta dan saat ini mengoperasikan 3 pabrik wood pellet di negara bagian Lousiana dan Mississipi. Produk wood pelletnya digunakan untuk menyuplai pembangkit listriknya di Inggris dengan pengapalan melalui Baton Rouge Transit di sungai Mississippi pada pelabuhan Greater Baton Rouge, Lousiana. 
4. Pinnacle 
Pinnacle berdiri sejak tahun 1989 dan saat ini mengoperasikan 6 pabrik wood pellet di British Columbia, Canada dengan bahan baku terutama adalah limbah-limbah hutan. Kapasitas produksinya dikisaran 1,4 juta ton per tahun dan produk wood pelletnya di export ke Eropa, Inggris dan Asia. Pabrik-pabrik wood pellet dari Pinnacle berada di jalur utama kereta api, sehingga transportasi ke pelabuhan menggunakan kereta api. Pelabuhan yang digunakan yakni Westview terminal di Prince Rupert, yang merupakan pelabuhan milik perusahaan tersebut dan Fibreco terminal di pelabuhan Vancouver. Untuk menambah produksinya Pinnacle saat ini sedang membangun pabrik wood pellet di Entwistle, Alberta dan Smithers, British Columbia. 
5.An Viet Phat 
An Viet Phat adalah produsen wood pellet dari Vietnam beroperasi sejak 2014 dengan kapasitas saat ini lebih dari 800.000 ton/tahun. An Viet Phat juga merupakan produsen wood pellet terbesar di Asia dan produsen wood briquette terbesar di dunia. Pasar atau tujuan export untuk produk wood pelletnya yakni Korea dan Jepang, dengan porsi lebih besar ke Korea. Export dilakukan dari pelabuhan Ho Chi Minh.

Rusia sebagai negara besar tetapi produksi wood pelletnya masih dibawah 5 besar produsen-produsen di atas. Produsen wood pellet terbesar Rusia yakni Vyborg hanya memiliki kapasitas 300.00 ton/tahun, peringkat keduanya yakni Arkaim di pantai baratnya. Selanjutnya di negara itu banyak produsen-produsen wood pellet kapasitas kecil di bagian barat laut dan terutama untuk memenuhi pasar pemanas di Eropa.

Sebagian besar di kawasan lain juga belum besar untuk produksi wood pellet tersebut. Australia saat ini hanya 2 pabrik wood pellet yang mengeksport produknya yakni - Plantation Energy dan Altus. Produksi wood pellet dari Plantation Energy yakni sekitar 250.000 ton/tahun sedangkan Altus hanya 75.000 ton/tahun. Target export dari wood pellet Australia terutama Jepang. Kawasan Timur Tengah juga sama seperti Afrika sangat sedikit produsen wood pellet dan dari yang sedikit itu produknya juga hanya digunakan di dalam negerinya. Kawasan Amerika Latin ada sejumlah produsen wood pellet kecil dan satu yang terbesar yakni Tanac di Brazil dengan kapasitas 400.000 ton/tahun. Semua produk wood pellet dari Tanac di export ke pembangkit listrik biomasa Drax di Inggris.

Berdasarkan referensi di atas, semestinya produsen wood pellet Indonesia juga bisa menyaingi mereka. Hal ini karena potensi bahan baku yang sangat besar di Indonesia. Produksi wood pellet dari kebun energi dan terintegrasi dengan peternakan domba maupun domba dan sapi serta peternakan lebah madu, akan mengoptimalkan lahan dan memberi hasil yang maksimal pula. Selain itu kalau dilihat dari pabrik-pabrik wood pellet terbesar di dunia saat ini juga memulai usahanya relatif belum lama. Hanya Pinnacle yang memulai sebelum tahun 1990, sedangkan rata-rata memulai di atas tahun 2000, bahkan Drax Biomass mulai beroperasi tahun 2017 dan  An Viet Phat sejak 2014. Fakta-fakta di atas semakin membuktikan tentang pengembangan energi berbasis Al Qur'an dan hadist nabi juga mengisyaratkan bahwa bumi akan kembali makmur dan hijau sebelum kiamat. 

"Tidak akan terjadi hari kiamat, sebelum harta kekayaan telah tertumpuk dan melimpah  ruah,  hingga  seorang  laki-laki  pergi  ke  mana-mana  sambil membawa  harta  zakatnya  tetapi  dia  tidak  mendapatkan  seorangpun  yang bersedia  menerima  zakatnya  itu.  Dan  sehingga  tanah Arab  menjadi  subur makmur  kembali  dengan  padang-padang  rumput  dan  sungai-sungai "  (HR.Muslim).

Bisakah Indonesia menjadi raksasa wood pellet? InsyaAllah bisa. 

Jumat, 08 Desember 2017

Kebun Energi Yang Multipurpose

Pengalaman adalah guru terbaik, begitu pepatah mengatakan. Begitu juga dalam masalah energi terbarukan khususnya yang berbasis biomasa, yakni program produksi biodiesel dari jarak pagar yang kandas karena mengalami kegagalan, serta bioetanol dari singkong (ubi kayu) dan tebu yang juga tragis karena juga mengalami kegagalan. Perlu kita kaji dan analisa penyebab kegagalan tersebut supaya kegagalan tersebut tidak terulang lagi. Pada kebun energi jarak pagar untuk bahan baku biodiesel ternyata produktivitas biji jarak pagar kecil dan tidak bisa bersaing dengan minyak diesel (solar) di pasaran. Selain itu daun jarak pagar juga tidak bisa digunakan untuk pakan ternak, sedangkan apabila diambil kayunya untuk sumber energi selain jumlahnya tidak banyak juga jelas akan mengganggu produktivitas biji jaraknya, sebagai produk utamanya. 
Jarak Pagar 
Singkong
Sedangkan pada produksi bioetanol dari ubi kayu dan tebu ternyata ada konflik kepentingan antara sektor pangan dan energi. Kembali petunjuk Al Qur'an harus dijadikan rujukan dan pegangan untuk masalah tersebut, yang bisa dibaca disini. Import gula Indonesia saat ini masih 1,3 juta ton sedangkan untuk tapioka masih import dengan kisaran 1 juta ton. Artinya untuk memenuhi sektor pangan saja yang prioritasnya lebih penting masih kekurangan apalagi untuk sektor energi. Tetapi masih mendingan bahwa konflik kepentingan antara pangan dan energi tersebut tidak sampai menimbulkan huru-hara seperti yang terjadi di Mexico beberapa waktu yang terkenal dengan huru-hara Tortila. Belajar dari kasus kegagalan tersebut, seharusnya bukan membuat kita mundur ke belakang apalagi era bioeconomy akan semakin besar porsi energi dari tumbuh-tumbuhan baik pepohonan maupun tanaman semusim. 
Lantas bagaimana solusinya untuk bisa bangkit dari kegagalan masa lalu dan punya peran signifikan dalam era bioeconomy ini? Kembali Al Qur'an memberi petunjuk bahwa energi itu berasal dari pepohonan dan buah-buahan. Lebih jelas mengenai hal tersebut bisa dibaca disini dan disini. Contoh praktisnya kebun energi multipurpose yang berasal dari pepohonan adalah solusi tersebut. Pepohonan tersebut termasuk kelompok leguminoceae yang mampu berproduksi dalam waktu singkat dengan produktivitas kayu yang tinggi yakni 1 tahun saja, dan tidak perlu replanting atau penanaman ulang hingga 20 tahun. Selain pepohonan tersebut juga menghasilkan daun yang kaya protein sehingga sangat bagus untuk pakan ternak juga akarnya mampu mengikat nitrogen sehingga menyuburkan tanah. Tahapan produksi wood pellet dari kebun energi bisa dibaca disini


Wood pellet yang dihasilkan bisa juga multipurpose, yakni selain digunakan untuk bahan bakar pembangkit listrik dan boiler, juga bisa sebagai bahan bakar rumah tangga untuk memasak. Selain masalah lingkungan berupa perubahan iklim karena konsentrasi CO2 di atmosfer yang telah melampaui ambang batas, ternyata masalah kelangkaan bahan bakar khususnya LPG (Propane) banyak terjadi di sejumlah daerah. Masalah kelangkaan LPG tersebut memicu masalah sosial karena masyarakat yang sudah tergantung dengan bahan bakar tersebut, menjadi tidak siap dengan bahan bakar selain itu. Tungku-tungku kayu sudah ditinggalkan, kalau pun masih ada ketersediaan kayu bakar juga terbatas, apalagi untuk musim penghujan. Wood pellet bisa menjadi solusi masalah tersebut, apalagi telah banyak kompor-kompor wood pellet yang efisien dengan hampir tidak ada polusi asap. 

Apabila dihitung dengan harga LPG maka harga wood pellet juga lebih murah, yakni dengan nilai kalori yang sama dua setengah kg wood pellet (nilai kalor 4.400 kkal/kg) dengan harga Rp 3750,- sementara satu kilo LPG (nilai kalor 11.000 kkal/kg) Rp 6000,- Penghematan yang bisa dilakukan Rp 2250/kg atau 37,5% yang berarti lebih dari sepertiganya. Selain itu penggunaan wood pellet juga lebih aman, tidak akan meledak seperti halnya LPG. Selang yang rusak lalu terjadi kebocoran gas banyak menyebabkan terjadinya ledakan. Penyimpanan wood pellet juga mudah seperti menyimpan beras. Dengan kemasan-kemasan kecil misalnya 5 kg atau 10 kg, maka penggunaan wood pellet semakin praktis dan mudah didistribusikan. Kesimpulannya : kebun energi yang multipurpose dengan pohon-pohon leguminoceae akan memberikan banyak manfaat, utamanya energi, lalu peternakan domba hingga kesuburan tanah. Bahkan lebih jauh lagi Al Qur'an dalam Surat  Yaasiin ayat 33 menyebut pohon-pohon leguminoceae tersebut merupakan tanaman perintis yang bisa menghidupkan tanah-tanah yang mati. 

Senin, 01 Februari 2016

Wood Pellet Ditengah Murahnya Harga Energi Dunia

Energi adalah salah satu kebutuhan vital bagi manusia, tanpa energi manusia akan menderita dan binasa.  Bentuk energi yang bermacam-macam itulah yang menopang dan memudahkan kehidupan manusia. Energi panas misalnya dibutuhkan untuk menjaga suhu sesuai kebutuhan, energi mekanik dibutuhkan untuk membawa suatu benda, energi listrik untuk penerangan, panas, juga penggerak berbagai motor listrik dan sebagainya. Matahari adalah makhluk ciptaan Allah SWT sebagai sumber energi utama bagi manusia  di bumi dan manusia bisa mendapatkannya secara gratis, sedangkan energi fossil yakni migas dan batubara menempati peringkat kedua yang manusia saat ini perlu membayar untuk bisa mendapatkan dan memanfaatkannya. Energi fossil inilah yang berabad-abad setelah revolusi industri pada pertengahan abad 19 menjadi primadona dan memiliki peran strategis dalam percaturan politik-ekonomi dunia (geopolitik-geoekonomi). Sampai hari ini dan diproyeksi hingga beberapa dekade ke depan energi fossil khususnya migas (BBM) akan mendominasi kebutuhan energi manusia di dunia.

Ketersediaan energi yang murah dan berlimpah adalah harapan dan cita-cita bagi semua manusia. Apabila manusia bisa mendapatkan energi dengan harga murah apalagi dengan kualitas baik tentu manusia akan memilih hal tersebut. Gas adalah jenis bahan bakar terbaik karena mampu terbakar lebih sempurna (secara teoritis/stoikhiometris dan praktis) diikuti dengan bahan bakar cair, selanjutnya bahan bakar padat.  Perkembangan teknologi terbaru telah membuat negara adidaya saat ini yakni Amerika Serikat mampu untuk memproduksi (mengekstraksi) migas dalam jumlah besar dari dalam perut buminya. Teknologi pengolahan minyak serpih (shale gas) yang sudah ekonomis membuat diprediksi oleh IEA (International Energy Agency) bahwa dalam tahun 2017 Amerika Serikat akan mampu menandingi produksi minyak mentah dari Arab Saudi. Sesuatu hal yang tidak pernah diduga sebelumnya, sehingga Amerika Serikat selain telah menjadi produsen migas juga dalam waktu dekat akan menjadi 'raja' eksportir migas (raja minyak baru) tersebut, yakni dengan produksi minyak mentah 11,1 juta barrel perhari (1 barrel = 158,9 liter) atau 500.000 barrel perhari diatas kapasitas Arab Saudi hari ini dan diperkirakan meningkat menjadi 13,1 juta barrel per hari pada 2019 dan mampu stabil selama 10 tahun. Bahkan analisa terakhir mengatakan bahwa pada tahun 2020 shale gas bisa menyediakan hingga setengah pasokan gas Amerika Serikat. Hukum pasar berlaku yakni ketika supply meningkat dan demand relatif tetap, maka harga akan turun, sehingga harga minyak mentah pada 2013 dikisaran 90 USD/barrel saat ini hanya berada dikisaran 30 USD/barrel-nya. Konsekuensi lainnya adalah jatuhnya harga batubara dari USD 192 per metrik ton pada Juni 2008 menjadi USD 96 per metrik ton pada September 2012, hal ini dikarenakan banyak industri yang beralih menggunakan migas karena harganya murah yang sebelumnya menggunakan batubara. Batubara dianggap bahan bakar kotor karena masalah abu dan tingginya emisi karbon. Shale gas menghasilkan emisi karbon yang secara signifikan lebih sedikit dibandingkan dengan batubara (shale gas mengeluarkan sekitar setengah dari emisi karbon batubara).

Revolusi shale gas akan mampu mendongkrak ekonomi Amerika keluar dari krisis ekonominya karena bisa menciptakan jutaan lapangan kerja baru. Potensi shale gas yang sangat berlimpah memang potensi luar biasa tetapi masih terlalu dini bahwa shale gas menjadi salah satu faktor penentu di pasar energi global. Setelah Amerika Utara bisa diperkirakan potensi sekitar 1.000 triliun kaki kubik shale gas yang cukup memasok kebutuhan gas alam Amerika Serikat selama 50 tahun atau lebih, tidak mau kalah China juga mengklaim potensi cadangan shale gas yang katanya lebih besar dari AS dan berambisi untuk memproduksi 100 miliar kubik gas sebelum 2020. Sedangkan Indonesia diperkirakan memiliki potensi 1000-2000 triliun kaki kubik shale gas sehingga ada potensi Indonesia menjadi negara dengan potensi shale gas terbesar di dunia.  Tentu hal tersebut akan berdampak positif apabila pengelolaannya sesuai amanat UUD 1945 dan ancaman terjadinya krisis energi akibat ketergantungan dari bahan bakar impor juga teratasi. Pergeseran peta geoenergi nantinya juga akan berdampak terhadap kebijakan energi di berbagai negara yang berimbas juga terhadap harga komoditas baik gas maupun minyak bumi.

Dalam sejarahnya Amerika Serikat juga tidak serta merta bisa mengekstraksi minyak serpih tersebut secara tiba-tiba. Perjalanan panjang dengan berbagai ujicoba telah mereka lalui sebelum kesuksesannya hari ini. Shale gas ini pertama kali diekstraksi di Fredonia, New York tahun 1821. Namun produksi shale gas untuk industri baru dimulai pada tahun 1970-an akibat perang Yom Kippur. Perang Yom Kippur pada awal 1973 ini menyebabkan krisis energi ketika anggota OAPEC (Organization of Arab Petroleum Exporting Countries) –Mesir dan Syria juga anggota OAPEC menyatakan embargo minyak. Pada akhir 1974 harga minyak dari 3 USD per barrel menjadi sekitar 12 USD per barrel. Krisis minyak tersebut menyebabkan tekanan politik dan ekonomi global yang sifatnya jangka pendek dan juga jangka panjang. Selanjutnya pada tahun 1979 terjadi krisis minyak kedua di Amerika Serikat sehingga minyak menjadi 39,50 USD per barrel. Pada rentang tahun 1970an tersebut Amerika Serikat juga memulai produksi shale gas pada skala industri karena tuntutan pemenuhan energi terutama dalam negerinya termasuk riset dan pengembangan energi baru seperti biomasa. Tetapi dari serangkaian ujicoba, pengeboran shale gas hingga era 1980 masih belum ekonomis. Baru pada tahun 1988, Mitchell Energy menemukan teknologi slick-water fracturing yang ekonomis. Shale gas yang sebagian besar juga terdiri atas metana merupakan gas alam non konvensional. Jika pada lam konvensional yang biasanya ditemukan di cekungan lapisan bumi pada kedalaman kurang lebih 800 m atau lebih, maka shale gas terdapat di lapisan bebatuan (shale formation) di kedalaman lebih dari 1500 m. Lapisan bebatuan (shale formation) tersebut kaya akan material organik sehingga dapat menjadi sumber energi.
Energi terbarukan diantaranya dari biomasa seperti wood pellet dan wood briquette juga merasakan dampak juga terkait murahnya harga minyak mentah dunia tersebut. Energi terbarukan seperti wood pellet dan wood briquette yang juga telah lama sulit bersaing dengan batubara, dan dengan tersedianya shale gas yang murah, ini bisa memperburuk di sektor energi terbarukan tersebut. Bahkan sebagian dari energi terbarukan sebagian juga masih dalam penelitian dan pengembangan sehingga masih membutuhkan banyak insentif sebelum mencapai pada level komersialnya. Ketika sebagian besar sumberdaya digenjot untuk produksi energi migas, hal ini juga semakin berakibat berkurangnya perhatian atau perlambatan pada sektor energi terbarukan. Berbagai rencana strategis seperti bauran energi nasional (national energy mix policy) suatu negara bahkan level global ternyata juga bisa berubah akibat temuan teknologi untuk mengekstraksi (memproduksi) minyak serpih (shale gas) tersebut.

Tinjauan aspek lingkungan-lah yang akhirnya tetap mendukung pengembangan dan penggunaan energi terbarukan. Minyak serpih (shale gas) adalah bahan bakar karbon positif (walupun pembakaran gas menghasilkan emisi karbon lebih sedikit) sedangkan penggunaan energi terbarukan adalah sumber energi atau bahan bakar karbon netral. Tidak dipungkiri juga bahwa dalam pengeboran shale gas diperlukan air dalam jumlah besar dan menghasilkan limbah air (dan kimia) yang juga membutuhkan penanganan lebih lanjut. Selain itu potensi terjadinya kebocoran gas metana dari sumur shlae gas yang bisa menurunkan efek pengurangan karbon dioksida dan manfaat iklim dengan beralih dari batubara ke shale gas.

Walaupun kebijakan lingkungan dari berbagai konferensi tingkat dunia terkesan pasang surut dalam implementasi energi terbarukan sebagai solusi mitigasi bencana perubahan iklim dan pemanasan global, tampaknya sebagian besar negara-negara tersebut masih berkomitmen untuk melanjutkan berbagai kebijakan lingkungan yang dibuatnya. Pilihan sulit antara bahan bakar murah tetapi merusak lingkungan atau lebih mahal tetapi memperbaiki bumi dan berkesinambungan akan menjadi polemik yang terjadi erus menerus. Perusakan hutan tropis di berbagai wilayah Indonesia ternyata terus berlangsung tanpa dapat dikendalikan. Diduga setiap detiknya terjadi penebangan hutan tropis seluas lapangan bola, sehingga setiap tahunnya terjadi pembukaan hutan tropis sekitar 150.000 kilometer persegi (15 juta ha). Keserakahan manusia untuk ekspoitasi  sumber daya alamnya untuk mendorong laju pertumbuhan ekonomi akan dihadapkan berbagai bencana lingkungan apabila tidak terkendali.

Rabu, 06 Mei 2015

Wood Pellet Untuk Sektor Industri di Indonesia

Energi memiliki peran vital dalam suatu industri. Energi juga merupakan salah satu komponen biaya tertinggi dalam proses produksi. Berbagai upaya dilakukan oleh industri dalam rangka menekan biaya energi ini sehingga pada akhirnya memberikan marjin keuntungan usaha yang lebih besar. Kenaikan harga BBM akan sangat berdampak bagi industri karena sedikit banyak akan mengurangi keuntungan mereka. Dan apabila harga jual produk mereka naikkan sedangkan daya beli masyarakat menurun hal itu juga hanya berpotensi menambah kerugian pada industri yang bersangkutan. Energi dan khususnya BBM selalu memiliki peran strategis bagi kelangsungan berjalannya ekonomi dan stabilitas politik suatu negara. 


Wood pellet adalah salah satu energi alternatif yang sangat potensial khususnya pada sektor industri baik menengah maupun besar, karena subsidi BBM level industri ini umumnya sudah ditiadakan. Sebagai perbandingan dengan nilai kalor gas LPG sekitar 11.000 kkal/kg sedangkan wood pellet atau pellet bahan bakar memiliki nilai kalor sekitar 4.000 kkal/kg, berarti satu kg LPG setara dengan dengan tiga kg wood pellet. Gas LPG non-subsidi kemasan 12 kg saat ini harganya berkisar Rp 12.000,-/kg, sedangkan wood pellet harga perkg-nya sekitar seper-enamnya atau Rp 2.000/kg. Hal ini sehingga akan menghemat sekitar 80% apabila melakukan subtitusi bahan bakar ke jenis bahan bakar ini. Hal ini tentu sangat menarik disamping bahan bakar wood pellet juga bahan bakar terbarukan dan ramah lingkungan. Apabila dibandingkan dengan batubara dengan kadar abu tinggi, benruk tidak seragam, kadar air tinggi dan kandungan sulfur lebih tinggi sehingga menimbulkan penanganan masalah pencemaran yang serius, maka jelas wood pellet jelas lebih unggul. Berbeda halnya dengan sejumlah negara, secara khusus Indonesia juga belum ada kebijakan untuk pemakaian wood pellet.

Apabila industri tersebut sebelumnya telah menggunakan bahan bakar seperti kayu bakar atau batubara, maka konversi ke wood pellet lebih mudah dibandingkan apabila sebelumnya menggunakan bahan bakar gas (LPG) atau minyak. Wood pellet sebagai bahan bakar membutuhkan tungku atau unit pembakaran (combustor) khusus sehingga proses pembakarannya bisa optimal dengan efisiensi tinggi atau terjadinya kehilangan panas ke lingkungan sangat kecil.  Unit pembakaran ini juga yang akan menentukan seberapa efektif penggunaan wood pellet untuk subtitusi bahan bakar fossil seperti bahan bakar minyak (BBM) dan bahan bakar gas (LPG).  Ada beberapa unit pembakaran wood pellet yang umum digunakan oleh industri khususnya skala industri menengah-besar yakni, jenis grate combustor dan stoker combustor.  Sedangkan sektor-sektor penggunaan wood pellet atau pellet bahan bakar (pellet fuel) bisa dibaca disini.

Selasa, 03 Februari 2015

Fungsi Ganda Cyclone Pada Pabrik Wood Pellet dan Wood Briquette



Cyclone adalah alat yang terutama untuk mengeliminasi debu pada pabrik wood pellet dan wood briquette karena bahan bakunya berupa partikel kecil seperti serbuk atau powder, yakni serbuk kayu. Walaupun ukuran partikel lebih besar bisa jadi mayoritas tetapi partikel yang ukurannya sangat lembut seperti debu pasti akan selalu ada dan beterbangan sehingga kalau tidak diatasi secara maksimal akan menimbulkan masalah kesehatan terutama pernafasan dan penglihatan. Cyclone cukup efektif dan murah dibandingkan alat eliminasi debu lainnya sehingga sangat populer digunakan pada industri ini.

Cyclone juga bisa dirangkai dan dirancang secara khusus tergantung dari penggunaannya. Dalam banyak kasus di pabrik wood pellet dan wood briquette cyclone dipasang tidak hanya satu tetapi dua, yang satu sebagai cyclone primer dan lainnya sebagai cyclone sekunder. Cyclone primer akan menangkan ukuran partikel lebih besar sedangkan cyclone sekunder menangkan ukuran partikel halus, dan partikel sangat halus lalu dibuang ke atmosfer sehingga sudah bisa ditoleransi oleh lingkungan. Ukuran partikel yang halus dari cyclone sekunder selanjutnya dicampur lagi dengan ukuran yang lebih besar (kasar) selanjutnya keduanya akan diumpankan untuk dipadatkan atau dicetak dalam pelletiser pada wood pellet atau extruder pada wood briquette.

Sebuah alat berupa silo atau hopper bisa ditambahkan setelah cyclone tersebut sebagai penampung sementara sebelum ke alat cetak tersebut diatas.   Dalam beberapa kasus bahkan cyclone dengan konfigurasi seperti diatas juga berfungsi ganda yakni sebagai penampung sementara sebelum pemadatan atau pencetakan tersebut. Konfigurasi cyclone seperti diatas juga selain mengeliminasi debu sebagai fungsi utama juga akan meminimalisir hilangnya bahan baku serta mengeliminasi alat tambahan seperti bag filter dan sebagainya.

Jumat, 03 Oktober 2014

Permintaan Wood Pellet Diprediksi Mencapai 50 Juta Ton Pada Tahun 2024



Sebagai energi alternatif wood pellet memiliki peningkatan permintaan cukup signifikan, walaupun dibanding energi primer yakni dari energi fossil prosentasenya juga belum seberapa. Sebuah studi menyatakan bahwa pada tahun 2014 estimasi permintaan wood pellet  hingga 23 juta ton dan pada tahun 2024 akan mencapai 50 juta ton secara global. Ketersediaan bahan baku dan keberlangsungan pasokannya tetap menjadi issue penting untuk suksesnya produksi wood pellet secara berkesinambungan. Sedangkan untuk pasar Eropa dan Amerika Utara adalah pasar utama diikuti kemudian oleh Asia. Eropa dan Amerika Utara mengunakan wood pellet sebagai pemanas ruangan (space heating) disamping untuk industri sedangkan Asia penggunaan wood pellet terutama untuk industri. 



Photo diambil dari sini
Studi tersebut berfokus pada European industrial market, European heating market, North American heating market, dan Asian industrial market. Prediksi permintaan global tersebut lebih detailnya sebagai berikut :
- European Industrial Markets—termasuk Belgia, Denmark, Belanda, Swedia dan Inggris.
- European Heating Markets—termasuk  Austria, Denmark, Prancis, Jerman, Italia dan Swedia
- Asian Industrial Markets—Termasuk Korea dan Jepang
- North American Markets—Termasuk Amerika Serikat dan Kanada
 
Diagram Carbon-Flow

Dilihat dari aspek lingkungan pemanfaatan bahan bakar wood pellet dari biomasa berkayu adalah strategi carbon neutral. Sedangkan pemanfaatan biomasa sebagai carbon negative dengan biochar tampaknya belum menjadi perhatian ataupun kombinasi carbon neutral dan carbon negative dengan pemanfaatan teknologi paling cocok untuk itu yakni continous slow pyrolysis nampaknya juga belum mengarah ke situ.

OPT Briquette dan EFB Briquette untuk Konsumsi Boiler Biomasa Industri Kapasitas Menengah

Semakin berkembangnya bisnis utilitas yakni khuususnya penyeadiaan steam/kukus dan listrik untuk industri berbasis energi terbarukan khususn...