Tampilkan postingan dengan label biomass energy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label biomass energy. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 November 2017

Migrasi Dari Fossil Based Economy ke Bioeconomy

Melengkapi tulisan tentang bioeconomy di Go Biomass, Go Bioeconomy!, tulisan singkat dibawah ini mencoba mempertajam dan memberi berbagai kaidah atau guideline serta motivasi untuk bersama-sama menangkap peluang bioeconomy secara syar'i dengan menggunakan petunjuk Al Qur'an dan Hadist. Bila pada era fossil based economy, negeri-negeri yang kaya minyak (petro dollar) menjadi negeri-negeri makmur dengan kekayaan yang melimpah, maka di era bioeconomy mendatang kesempatan beralih ke negeri-negeri yang memiliki kekayaan biomasa terbanyak. Biomasa dari tumbuh-tumbuhan dan hewan akan hidup dan berkembang dengan baik di negeri-negeri yang banyak air dan matahari, sehingga negeri-negeri itulah yang berpeluang besar unggul di era bioeconomy nantinya. Hal-hal kunci yang perlu untuk diperhatikan, dipahami dan dikelola dengan baik antara lain bisnis, ekonomi, pertanian, kehutanan, peternakan, perikanan, pangan, energi, industri, biochemical dan biomaterial.

Eropa mencanangkan bioeconomy pada 2030. Di sektor energi penggunaan energi terbarukan dalam RED I ( Renewable Energy Directive) dengan target 20-20-20 yakni efisiensi energi dinaikkan 20%, lalu pemakaian energi terbarukan mencapai porsi 20% pada 2020, akan segera berakhir dan sedang disiapkan RED II yang diusulkan pemakaian energi terbarukan menjadi 27% pada tahun 2030. Porsi energi terbarukan di Eropa baik di RED I maupun RED II biomasa memegang porsi sekitar 70%-nya. Negara-negara di Amerika Utara yakni Amerika Serikat dan Kanada juga mencanangkan energi terbarukan secara masif, misalnya US Department Energy and Agriculture mencanangkan produksi biomasa kering sebanyak minimal 1 milyar ton pada tahun 2040. Sedangkan di Kanada sejumlah negara bagian bahkan telah banyak menutup PLTU dengan batubara dan gas, serta selanjutnya menggunakan energi terbarukan khususnya biomasa. Kota Alberta di Kanada mencanangkan penghentian semua pembakaran batubara dan gas alam pada tahun 2030. Sedangkan di Asia, dua negara di Asia Utara yakni Jepang dan Korea Selatan telah mencanangkan penggunaan energi terbarukan secara masif sejak tahun 2012.  Negara-negara di Asia lainnya juga mencanangkan program penggunaan energi terbarukan, seperti Indonesia pada Kebijakan Energi Nasionalnya, Malaysia dengan National Renewable Energy Policy and Action Plan , Thailand dengan Alternative Energy Development Plan. 
Bioeconomy seperti apa yang akan kita usung? Apa bedanya dengan bioeconomy yang diterapkan di barat dan belahan dunia lain? Mengapa kita memilih bioeconomy tersebut? Bioeconomy dengan berlandaskan Al Qur'an dan Hadist itulah, bioeconomy yang akan kita usung. Bukan seperti di barat yang bingung masih mana tanaman pangan dan mana untuk energi? Bingung mana tanaman biji-bijian untuk pangan manusia dan mana untuk pakan ternak?  Rerumputan misalnya jelas untuk pakan ternak, tetapi biji-bijian bisa untuk pakan ternak dan lebih banyaknya untuk pangan manusia. Buah-buahan umumnya untuk pangan manusia, tetapi bisa juga dalam jumlah lebih sedikit untuk energi. Kayu-kayuan sebagian besar untuk energi. Dengan pembagian yang jelas masalah pangan, pakan, dan energi jangan sampai kita mengalami krisis pangan akibat bahan pangan dipakai untuk energi seperti huru-hara tortilla di Meksiko, maupun terjadi kelangkaan kedelai akibat China menyedot habis produksi kedelai dunia untuk pakan ternaknya. Berdasarkan penyebutan ayat-ayat Al Qur'an tentang pakan, pangan dan energi, maka akan dihasilkan porsi seperti illustrasi grafik dibawah ini. Setidaknya ada 7 ayat di Al Qur'an yang membicarakan tentang pangan, 6 ayat tentang pakan dan 2 ayat tentang energi. Mayoritasnya tanaman untuk pangan manusia, kemudian dalam jumlah hampir sama untuk pakan ternak dan dalam jumlah yang lebih kecil untuk energi. Aplikasi dan penjelasan bisa lebih rinci disini dan disini

Ketahanan pangan, energi dan air, harus dilakukan bersamaan. Dan yang penting adalah ini tugas kita sebagai muslim. Apabila peran ini tidak kita ambil, sudah pasti peran tersebut akan diambil oleh orang lain. Apabila hal itu terjadi kepentingan ekonomi, politik maupun kepentingan lainnya yang lebih kuat daripada untuk menjaga kehidupan itu sendiri. Terlebih lagi Allah SWT mengingatkan kita untuk tidak meninggalkan generasi lemah (QS 4:9), tugas untuk memakmurkan bumi (QS 11:61) dan untuk menjaga keseimbangan di alam (QS 55 : 8-9). Sedangkan untuk melaksanakan tugas itu Allah SWT memberi kita petunjuk beserta penjelasannya (QS 2:185), agar bisa menjawab seluruh persoalan dan tantangan jaman kita ini (QS 16:89)-bahkan Allah juga akan mengajari ilmu yang kita belum tahu, bila kita terus meningkatkan ketakwaan kita (QS 2:282).
Dengan serangkaian panduan yang amat detail tersebut, maka bisa dibayangkan bila urusan menjaga keamanan pangan, energi dan air ini dikelola oleh orang yang tidak menggunakan petunjuk-Nya. Dengan mudah mereka akan mengeksploitasi kebutuhan pangan manusia, mengkooptasi mata-mata air yang seharusnya untuk kepentingan bersama dan mengendalikan supplai energi dunia untuk kepentingan ekonomi segelintir manusia saja. Inilah masalah besar dan berat, tetapi bila kita menyerahkan ke orang lain seperti yang kita alami hari-hari ini, kita mengalami krisis tiga dimensi sekaligus, yaitu pangan, air dan energi. Maka seberat apapun, kita harus mulai belajar memikulnya.

Dengan demikian menjadi mudah dipahami, mengapa Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam mengingatkan umat ini untuk bersyirkah (kerjasama ekonomi) dalam tiga hal :"Orang-orang muslim itu bersyirkah dalam tiga hal, dalam hal padang rumput (lahan), air dan api (energi)". (HR. Sunan Abu Daud). Tiga hal yang diluar sana disebut FEW (Food, Energy, Water), dan menjadi perebutan bahkan menjadi alasan perang, sedangkan dalam dunia Islam malah bisa menjadi titik awal pemersatunya. 

Photo diambil dari sini 
Jauh sebelum dunia modern mengenalkan konsep bioeconomy, muslim sudah selama 1000 tahun lebih berjaya memakmurkan bumi di sebagian besar wilayah dunia, yaitu pada dari masa di Andalusia kemudian dilanjutkan oleh Turki Usmani - Dan baru berakhir ketika penjajah Napoleon memasuki Mesir di awal abad 19. Beberapa waktu lalu Chinese Academy of Science mengadakan workshop di Beijing, judulnya Workshop on Agriculture Culture and Sustainable Development in Asia dengan pembicara Andrew M Watson, professor Sejarah Ekonomi dari University of Toronto -Canada. Professor tersebut sangat menguasai sejarah pertanian Islam, karena lebih dari 30 tahun sebelumnya menerbitkan buku "Agricultural Innovation in the Early Islamic World, The Diffusion of Crops and Farming Techniques, 700-1100" (Cambridge University Press, New York 1983). 
Sang professor-pun mengakui bahwa di rentang waktu sangat panjang tersebut, memang pertanian Islam-lah yang maju. Dia mencatat misalnya, di masa sebelum Islam, pertanian bangsa Romawi, Byzantium dan sebagainya, masih sangatlah sederhana. Paling banter lahan hanya di pakai sekali dalam setahun, dan lebih seringnya hanya sekali dalam dua tahun. Pajak tanah yang tinggi di wilayah Romawi kala itu juga semakin mempersulit aktivitas pertanian. Bahkan semua istilah keren yang kini digandrungi oleh banyak petani modern seperti permaculture, organic farming, natural farming, sustainable agriculture dan lain sebagainya sesungguhnya hanyalah baru sebagian kecil dari Islamic Agriculture yang meliputi aspek yang sangat luas dari dunia pertanian. Maka di pergantian jaman dari fossil-based economy ke arah bio-based economy atau bioeconomy inilah muslim kembali kembali berjaya. InsyaAllah. 

Senin, 01 Februari 2016

Wood Pellet Ditengah Murahnya Harga Energi Dunia

Energi adalah salah satu kebutuhan vital bagi manusia, tanpa energi manusia akan menderita dan binasa.  Bentuk energi yang bermacam-macam itulah yang menopang dan memudahkan kehidupan manusia. Energi panas misalnya dibutuhkan untuk menjaga suhu sesuai kebutuhan, energi mekanik dibutuhkan untuk membawa suatu benda, energi listrik untuk penerangan, panas, juga penggerak berbagai motor listrik dan sebagainya. Matahari adalah makhluk ciptaan Allah SWT sebagai sumber energi utama bagi manusia  di bumi dan manusia bisa mendapatkannya secara gratis, sedangkan energi fossil yakni migas dan batubara menempati peringkat kedua yang manusia saat ini perlu membayar untuk bisa mendapatkan dan memanfaatkannya. Energi fossil inilah yang berabad-abad setelah revolusi industri pada pertengahan abad 19 menjadi primadona dan memiliki peran strategis dalam percaturan politik-ekonomi dunia (geopolitik-geoekonomi). Sampai hari ini dan diproyeksi hingga beberapa dekade ke depan energi fossil khususnya migas (BBM) akan mendominasi kebutuhan energi manusia di dunia.

Ketersediaan energi yang murah dan berlimpah adalah harapan dan cita-cita bagi semua manusia. Apabila manusia bisa mendapatkan energi dengan harga murah apalagi dengan kualitas baik tentu manusia akan memilih hal tersebut. Gas adalah jenis bahan bakar terbaik karena mampu terbakar lebih sempurna (secara teoritis/stoikhiometris dan praktis) diikuti dengan bahan bakar cair, selanjutnya bahan bakar padat.  Perkembangan teknologi terbaru telah membuat negara adidaya saat ini yakni Amerika Serikat mampu untuk memproduksi (mengekstraksi) migas dalam jumlah besar dari dalam perut buminya. Teknologi pengolahan minyak serpih (shale gas) yang sudah ekonomis membuat diprediksi oleh IEA (International Energy Agency) bahwa dalam tahun 2017 Amerika Serikat akan mampu menandingi produksi minyak mentah dari Arab Saudi. Sesuatu hal yang tidak pernah diduga sebelumnya, sehingga Amerika Serikat selain telah menjadi produsen migas juga dalam waktu dekat akan menjadi 'raja' eksportir migas (raja minyak baru) tersebut, yakni dengan produksi minyak mentah 11,1 juta barrel perhari (1 barrel = 158,9 liter) atau 500.000 barrel perhari diatas kapasitas Arab Saudi hari ini dan diperkirakan meningkat menjadi 13,1 juta barrel per hari pada 2019 dan mampu stabil selama 10 tahun. Bahkan analisa terakhir mengatakan bahwa pada tahun 2020 shale gas bisa menyediakan hingga setengah pasokan gas Amerika Serikat. Hukum pasar berlaku yakni ketika supply meningkat dan demand relatif tetap, maka harga akan turun, sehingga harga minyak mentah pada 2013 dikisaran 90 USD/barrel saat ini hanya berada dikisaran 30 USD/barrel-nya. Konsekuensi lainnya adalah jatuhnya harga batubara dari USD 192 per metrik ton pada Juni 2008 menjadi USD 96 per metrik ton pada September 2012, hal ini dikarenakan banyak industri yang beralih menggunakan migas karena harganya murah yang sebelumnya menggunakan batubara. Batubara dianggap bahan bakar kotor karena masalah abu dan tingginya emisi karbon. Shale gas menghasilkan emisi karbon yang secara signifikan lebih sedikit dibandingkan dengan batubara (shale gas mengeluarkan sekitar setengah dari emisi karbon batubara).

Revolusi shale gas akan mampu mendongkrak ekonomi Amerika keluar dari krisis ekonominya karena bisa menciptakan jutaan lapangan kerja baru. Potensi shale gas yang sangat berlimpah memang potensi luar biasa tetapi masih terlalu dini bahwa shale gas menjadi salah satu faktor penentu di pasar energi global. Setelah Amerika Utara bisa diperkirakan potensi sekitar 1.000 triliun kaki kubik shale gas yang cukup memasok kebutuhan gas alam Amerika Serikat selama 50 tahun atau lebih, tidak mau kalah China juga mengklaim potensi cadangan shale gas yang katanya lebih besar dari AS dan berambisi untuk memproduksi 100 miliar kubik gas sebelum 2020. Sedangkan Indonesia diperkirakan memiliki potensi 1000-2000 triliun kaki kubik shale gas sehingga ada potensi Indonesia menjadi negara dengan potensi shale gas terbesar di dunia.  Tentu hal tersebut akan berdampak positif apabila pengelolaannya sesuai amanat UUD 1945 dan ancaman terjadinya krisis energi akibat ketergantungan dari bahan bakar impor juga teratasi. Pergeseran peta geoenergi nantinya juga akan berdampak terhadap kebijakan energi di berbagai negara yang berimbas juga terhadap harga komoditas baik gas maupun minyak bumi.

Dalam sejarahnya Amerika Serikat juga tidak serta merta bisa mengekstraksi minyak serpih tersebut secara tiba-tiba. Perjalanan panjang dengan berbagai ujicoba telah mereka lalui sebelum kesuksesannya hari ini. Shale gas ini pertama kali diekstraksi di Fredonia, New York tahun 1821. Namun produksi shale gas untuk industri baru dimulai pada tahun 1970-an akibat perang Yom Kippur. Perang Yom Kippur pada awal 1973 ini menyebabkan krisis energi ketika anggota OAPEC (Organization of Arab Petroleum Exporting Countries) –Mesir dan Syria juga anggota OAPEC menyatakan embargo minyak. Pada akhir 1974 harga minyak dari 3 USD per barrel menjadi sekitar 12 USD per barrel. Krisis minyak tersebut menyebabkan tekanan politik dan ekonomi global yang sifatnya jangka pendek dan juga jangka panjang. Selanjutnya pada tahun 1979 terjadi krisis minyak kedua di Amerika Serikat sehingga minyak menjadi 39,50 USD per barrel. Pada rentang tahun 1970an tersebut Amerika Serikat juga memulai produksi shale gas pada skala industri karena tuntutan pemenuhan energi terutama dalam negerinya termasuk riset dan pengembangan energi baru seperti biomasa. Tetapi dari serangkaian ujicoba, pengeboran shale gas hingga era 1980 masih belum ekonomis. Baru pada tahun 1988, Mitchell Energy menemukan teknologi slick-water fracturing yang ekonomis. Shale gas yang sebagian besar juga terdiri atas metana merupakan gas alam non konvensional. Jika pada lam konvensional yang biasanya ditemukan di cekungan lapisan bumi pada kedalaman kurang lebih 800 m atau lebih, maka shale gas terdapat di lapisan bebatuan (shale formation) di kedalaman lebih dari 1500 m. Lapisan bebatuan (shale formation) tersebut kaya akan material organik sehingga dapat menjadi sumber energi.
Energi terbarukan diantaranya dari biomasa seperti wood pellet dan wood briquette juga merasakan dampak juga terkait murahnya harga minyak mentah dunia tersebut. Energi terbarukan seperti wood pellet dan wood briquette yang juga telah lama sulit bersaing dengan batubara, dan dengan tersedianya shale gas yang murah, ini bisa memperburuk di sektor energi terbarukan tersebut. Bahkan sebagian dari energi terbarukan sebagian juga masih dalam penelitian dan pengembangan sehingga masih membutuhkan banyak insentif sebelum mencapai pada level komersialnya. Ketika sebagian besar sumberdaya digenjot untuk produksi energi migas, hal ini juga semakin berakibat berkurangnya perhatian atau perlambatan pada sektor energi terbarukan. Berbagai rencana strategis seperti bauran energi nasional (national energy mix policy) suatu negara bahkan level global ternyata juga bisa berubah akibat temuan teknologi untuk mengekstraksi (memproduksi) minyak serpih (shale gas) tersebut.

Tinjauan aspek lingkungan-lah yang akhirnya tetap mendukung pengembangan dan penggunaan energi terbarukan. Minyak serpih (shale gas) adalah bahan bakar karbon positif (walupun pembakaran gas menghasilkan emisi karbon lebih sedikit) sedangkan penggunaan energi terbarukan adalah sumber energi atau bahan bakar karbon netral. Tidak dipungkiri juga bahwa dalam pengeboran shale gas diperlukan air dalam jumlah besar dan menghasilkan limbah air (dan kimia) yang juga membutuhkan penanganan lebih lanjut. Selain itu potensi terjadinya kebocoran gas metana dari sumur shlae gas yang bisa menurunkan efek pengurangan karbon dioksida dan manfaat iklim dengan beralih dari batubara ke shale gas.

Walaupun kebijakan lingkungan dari berbagai konferensi tingkat dunia terkesan pasang surut dalam implementasi energi terbarukan sebagai solusi mitigasi bencana perubahan iklim dan pemanasan global, tampaknya sebagian besar negara-negara tersebut masih berkomitmen untuk melanjutkan berbagai kebijakan lingkungan yang dibuatnya. Pilihan sulit antara bahan bakar murah tetapi merusak lingkungan atau lebih mahal tetapi memperbaiki bumi dan berkesinambungan akan menjadi polemik yang terjadi erus menerus. Perusakan hutan tropis di berbagai wilayah Indonesia ternyata terus berlangsung tanpa dapat dikendalikan. Diduga setiap detiknya terjadi penebangan hutan tropis seluas lapangan bola, sehingga setiap tahunnya terjadi pembukaan hutan tropis sekitar 150.000 kilometer persegi (15 juta ha). Keserakahan manusia untuk ekspoitasi  sumber daya alamnya untuk mendorong laju pertumbuhan ekonomi akan dihadapkan berbagai bencana lingkungan apabila tidak terkendali.

Kamis, 24 Desember 2015

Sukses Pengapalan Wood Pellet Dengan Panamax Vessel Akan Mengakselerasi Export Wood Pellet Dunia?

Aspek logistik merupakan aspek penting dalam usaha wood pellet, baik logistik bahan baku ke pabrik wood pellet maupun logistik produk wood pellet hingga sampai ke pasar atau diterima oleh konsumen. Pada logistik produk wood pellet, saat ini kapal masih menjadi andalan utama untuk export jumlah besar antar negara atau antar benua. Untuk pengapalan produk wood pellet dengan volume 10.000 ton ke atas hampir semua menggunakan pengapalan curah (bulk shipment) atau kemasan kontainer menjadi tidak efektif untuk volume tersebut. Semakin besar volume atau kapasitas wood pellet yang bisa diangkut biasanya harganya akan menjadi semakin murah per-unitnya. 


Baru-baru ini sebuah kapal cargo tipe Panamax-class vessel, The Popi S yang berkapasitas angkut 60.000 ton telah berhasil mengangkut wood pellet dari pelabuhan Prince Rupert, British Columbia, Kanada produksi Pinnacle Renewable Energy ke pelabuhan Immingham di Inggris yang memakan waktu kurang lebih sebulan, dan tercatat sebagai pengapalan pertama Panamax-class vessel yang sukses. Drax pembangkit listrik di Inggris dengan biomasa yakni wood pellet adalah konsumen  wood pellet terbesar saat ini, dengan konsumsi sekitar 6 juta ton/tahun. Pengapalan ke pelabuhan-pelabuhan di Inggris hampir semua menggunakan pengapalan curah (bulk shipment) dengan kapasitas 25.000 ton vessel , sehingga untuk mencapai volume 6 juta ton/tahun dibutuhkan 240 kali pengapalan. Apabila dibandingkan dengan kapasitas Panamax-class vessel yakni 60.000 ton maka hanya dibutuhkan 100 kali pengapalan. 


Saat ini penggunaan Panamax-class vessel sebagai standar angkut wood pellet untuk kapasitas besar sedang banyak dikaji. Kelengkapan kapal berupa alat pemadam kebakaran (fire protection system) seperti gas CO2 atau gas inert menjadi wajib bagi Panamax-class vessel nantinya karena wood pellet dikategorikan bahan yang berbahaya dalam bentuk curah (bulk) pada kapasitas besar. Ketika  telah diratifikasi sepenuhnya maka semua Panamax-vessel akan bisa digunakan sebagai pengangkut wood pellet. Tentu hal ini akan bagus bagi semua produsen wood pellet di seluruh dunia. Aspek teknis seperti kedalaman laut di pelabuhan dan kecepatan memuat (loading) wood pellet ke kapal dengan standard  2.000 ton/jam menjadi faktor penting lainnya untuk menggunakan Panamax vessel.

Walaupun terlihat masih jauh dibandingkan kondisi di Indonesia, yang saat ini hampir semua wood pellet di export dengan kontainer, tetapi besar kemungkinan dalam waktu yang tidak begitu lama Indonesia akan menyusul mengingat potensi besar yang dimilikinya untuk menyuplai bahan bakar biomasa dalam jumlah besar dan berkesinambungan. Penggalakan kebun energi sebagai sumber bahan baku menjadi salah satu keunggulan penting bagi Indonesia. Apalagi kebun energi tersebut diintegrasikan dengan sektor peternakan dan/atau pertanian maka hal tersebut juga menjadi solusi kekurangan pangan (daging, susu, karbohidrat, madu, dsb).  Sebagai estimasi jarak pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta dengan dengan pelabuhan Immingham, Inggris adalah  6.300 mil laut atau diperkirakan akan menempuh perjalanan kurang dari 1 bulan, sedangkan jarak dari pelabuhan Prince Rupert, Kanada ke Immingham adalah lebih dari 11.000 mil laut dan menempuh waktu perjalanan sekitar 1 bulan. Dengan perhitungan biaya transportasi bisa lebih murah, maka peluang Indonesia menyuplai wood pellet ke Eropa juga lebih besar.

Kamis, 01 Oktober 2015

Italia, Pengguna Wood Pellet Untuk Pemanas Ruangan Terbesar di Eropa

Berbeda dengan kawasan Asia pada umumnya yang menggunakan wood pellet untuk bahan bakar pembangkit listrik atau boiler pada sejumlah industri, kawasan Eropa dan Amerika menggunakan wood pellet sebagai pemanas ruangan dalam jumlah besar. Jumlah penggunaan wood pellet untuk pemanas ruangan (home heating) di kawasan tersebut tidak terlalu jauh berbeda dengan penggunaan wood pellet untuk pembangkit listrik dan boiler industri. Italia adalah negara di Eropa yang tercatat sebagai pengguna wood pellet terbesar untuk pemanas ruangan yakni 2,5 juta ton pada tahun 2013 dengan proyeksi kenaikan 15% setiap tahunnya atau menurut ekspektasi heating market growth dan pernyataan National Renewable Energy Action Plan, penggunaan wood pellets akan mencapai 3,5 juta ton pada 2015 dan 5 juta ton pada 2020.

Pertumbuhan penggunaan pellet tersebut akibat program insentif unik dari pemerintah Italia tentang energi terbarukan, yakni Conto Termico (Feed-in-tarrifs for heating and cooling), yang dilakukan oleh Kementrian Pengembangan Ekonomi pada akhir 2012.  Insentif Conto Termico tersebut didasarkan pada nominal power (kW), estimasi jam operasi (berdasar pada zone iklim), koefisien insentif, dan level emisinya. Insentif tersebut diberikan pada setiap 2 tahun untuk stove dan 5 tahun untuk boiler. Potongan pajak (tax deduction) juga diberikan dalam 10 tahun untuk 50% pengeluaran biaya pembelian dan pemasangan pellet stove. Keputusan tersebut menganggarkan 700 juta Euro untuk proyek-proyek yang diimplementasikan pihak-pihak swasta (individual, blok apartement dsb). Italia sebagai salah satu negara di Eropa maka upaya-upaya tersebut diatas adalah bagian dari EU Renewable Directive, yang menginstruksikan pemakaian energi terbarukan hingga 20% dalam bauran energi mereka pada tahun 2020.  



Saat ini sekitar 2 juta stove dan 200.000 boiler terpasang di rumah-rumah di Italia, dan pemasaran kedua produk tersebut cukup stabil dan kuat. Salah satu produsen pellet stove bahkan telah membuat suatu aplikasi yang memungkinkan untuk berkomunikasi dan berinteraksi jarak jauh dengan pellet stove tersebut menggunakan smart phone. Untuk menghidupkan dan mematikan, mengeset temperature, memprogram jam operasi, atau bahkan mendengarkan proses pembakaran dalam pellet stove tersebut. Aplikasi tersebut juga bisa memberitahu ketika stove kehabisan pellet, atau jika pembakaran yang terjadi tidak sempurna atau bahkan memanggil penyedia layanan purna-jualnya. Adanya kaca yang mampu melihat nyala api dan peningkatan efisiensi hingga 94% dengan konveksi alamiah adalah keunggulan lain dari pellet stove tersebut.



Besarnya permintaan pellets tersebut ternyata tidak bisa dipenuhi sepenuhnya oleh produksi dalam negeri, atau hanya satu bagian kecil saja yang masih bisa dicukupi dari produksi dalam negeri, sehingga Italia mengandalkan import pellet untuk memenuhi kebutuhannya tersebut.  Kondisi produksi wood pellet dari kawasan Eropa sendiri juga tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan tersebut sehingga import dari dari benua lain juga meningkat. Produksi wood pellets Italian diperkirakan hanya 300.000 ton/tahun sedangkan kebutuhan mencapai lebih dari 3.000.000 ton untuk tahun ini.



Kualitas wood pellets untuk pemanas rumah tangga pada umumnya lebih tinggi daripada wood pellets industri. Kualitas premium ENplus A1 pellets adalah kualitas standar yang digunakan untuk pemanas ruangan. Premium A1 pellets adalah level kualitas tertinggi wood pellet khususnya untuk private end user. Selain itu hampir 60% dari supplier pellet tersebut juga telah mendapatkan sertifikat ENplus. Sejumlah distributor juga mengatakan bahwa sertifikat ENplus bagus untuk sejumlah perusahaan Italia tetapi tidak dibutuhkan oleh mayoritas. Hal ini karena sertifikat Enplus tersebut membutuhkan biaya tambahan ekstra yang dampaknya berpengaruh pada harga pasar wood pellet yang sensitif.        

Wood pellet didatangkan ke Italia dengan menggunakan 3 cara. Bulk shipment yang datang dengan kapal adalah biaya termurah tetapi dengan hampir semua distributor di Italia dengan kapasitas kecil, mereka tidak mampu menangani volume besar tersebut. Pilihan kedua adalah menerima pellet yang telah dikantongi (bagged) atau bulk containers, tetapi sebagian besar distributor lebih menyukai dengan dikantongi (kemasan plastik). Cara ketiga adalah dengan truk, yang bisa setiap hari datang dengan kemasan plastik 15 kg atau ukuran besar (jumbo bag). Italia juga bisa dikatakan konsumen wood pellet dalam kemasan terbesar di Eropa.

Senin, 14 September 2015

EFB Pellet Potensi Besar di Indonesia dan Malaysia Belum Digarap

Wood pellet masih menempati grade tertinggi bahan bakar biomasa dibandingkan pellet bahan bakar dari biomasa selain kayu. Hal ini karena combustion properties-nya yang lebih baik dibandingkan bahan yang lainnya. Tetapi seiring besarnya kebutuhan energi biomasa yang besar maka perlu dicarikan sejumlah alternatif lainnya. Tandan kosong sawit atau tankos atau empty fruit bunch (EFB) adalah bahan baku potensial untuk dipellet. Saat ini Indonesia adalah negara penghasil minyak sawit terutama crude palm oil (CPO) terbesar di dunia dengan luas kebun sawit lebih dari 7 juta hektar serta ratusan pabrik untuk mengolah buah kelapa sawit tersebut. Pohon sawit membutuhkan suhu hangat, sinar matahari, dan curah hujan tinggi sehingga hanya sebagian daerah saja yang mengusahakannya di dunia yakni Asia, Afrika dan Amerika Selatan. Produksi minyak kelapa sawit didominasi oleh Indonesia dan Malaysia dengan jumlah antara 85-90% produksi minyak sawit dunia. Tandan kosong sendiri adalah limbah dari produksi CPO yang jumlahnya banyak dan saat ini umumnya belum dimanfaatkan dengan baik.






Faktor lain yang mendorong hal tersebut adalah ketika penyediaan bahan baku kayu dengan cara menanam semacam kebun energi dirasa lebih lama dan membutuhkan modal lebih besar, atau ketika ketersediaan bahan baku berupa biomasa berkayu berasal dari limbah-limbah pengolahan kayu sudah terbatas, maka tandan kosong sawit bisa menjadi kandidat kuat. Sedangkan faktor dari pabrik sawit sendiri bahwa banyak juga industri tersebut yang kewalahan untuk menangani limbah tankos itu sendiri. Hal-hal tersebut semakin mendorong pengolahan tankos untuk dipelletkan menjadi EFB pellet atau pellet tankos.



Sedangkan dari sisi combustion properties karena EFB pellet kualitasnya dibawah wood pellet, sehingga seharusnya juga digunakan teknologi yang lebih pas (cocok) sesuai karakter produk EFB Pellet. Teknologi pembakaran jenis fluidized bed menjadi pilihan terbaik karena mampu secara optimal meng-handle EFB pellet sekaligus mampu mereduksi kandungan sejumlah sifat-sifat negatifnya. Teknologi fluidized bed combustion tersebut juga sudah lama dikembangkan sehingga seharusnya untuk mencapai kondisi optimum pembakaran EFB pellet menjadi hal yang mudah dilakukan.       

Rabu, 19 Agustus 2015

Masuk ke Pasar Global Wood Pellet




Pada kenyataannya pertumbuhan bisnis yang massif dari wood pellet  saat ini berasal dari dorongan sejumlah kebijakan di Eropa, lebih khusus lagi terutama bisnis listrik di Inggris. Pada tahun 2020 konsumsi wood pellet diperkirakan sebesar 22 juta ton.  Dua pembangkit listrik di Inggris saja yang 100% menggunakan wood pellet yakni Drax dan Eggborough, membutuhkan 10 juta ton setiap tahunnya. Kebutuhan besar wood pellet besar lainnya adalah dari negara-negara Eropa Barat terutama Italia. Sedangkan di Asia, Jepang dan Korea adalah dua negara yang paling banyak mengkonsumsi wood pellet. Sedangkan pada tahun 2024 diprediksi produksi wood pellet akan mencapai 50 juta ton secara global.




Kanada adalah salah satu produsen utama wood pellet yang menyuplai kebutuhan sejumlah negara diatas. Luasnya hutan sehingga melimpahnya sumber bahan baku yang menjadikan Kanada sebagai salah satu produsen wood pellet. Rusia adalah negara besar lainnya yang mulai memproduksi wood pellet. Luasnya hutan dan melimpahnya sumber bahan baku menjadikan Rusia sebanding dengan Kanada dalam produksi wood pellet tetapi masalah infrastruktur terutama yang masih menjadi penghalang  utama perkembangan industri wood pellet di Rusia. Bagaimana dengan Indonesia? Indonesia juga mempunyai peluang besar untuk ikut berkecimpung pada bisnis wood pellet tersebut. Walaupun luas hutan yang bisa dijadikan sebagai sumber bahan baku tidak seluas Kanada maupun Rusia, tetapi iklim di Indonesia di daerah tropis yang membuat matahari bersinar sepanjang tahun adalah berkah tersendiri. Alhamdulillah, inilah salah satu kenikmatan dari Allah SWT yang harus kita syukuri.  Hutan-hutan atau kebun energi dengan tanaman rotasi cepat (SRC) seperti Kaliandra bisa dibudidayakan dengan produktivitasnya 4 kali lipat dibandingkan daerah subtropis seperti Kanada atau Rusia untuk tanaman sejenis seperti Willow atau Poplar.  Selain itu pengguna wood pellet di Asia seperti Korea dan Jepang juga akan mencari wood pellet dari kawasan Asia sebelum ke Kanada atau Rusia.



Masalah kelestarian alam atau lingkungan adalah hal penting yang harus diperhatikan, sehingga keberlangsungan usaha dan kelestarian lingkungan adalah dua hal yang secara simultan terus dijaga. Pembangkit listrik adalah pasar utama wood pellet dengan kebutuhan besar dan jangka panjang untuk itulah kerberlangsungan lingkungan tersebut perlu menjadi perhatian serius. Hampir semua pembeli wood pellet untuk pembangkit listrik juga akan mensyaratkan adanya sustainable forest management practice dan sertifikasi (semacam FSC atau SVLK)  tentang asal bahan baku yang bisa dipertanggungjawabkan artinya tidak merusak hutan. Secara khusus untuk kondisi Indonesia, dengan kebun atau hutan energi tanaman Kaliandra dengan diintegrasikan dengan kegiatan peternakan kambing atau sapi nantinya siklus kerberlangsungan dan kelestarian alam akan terjaga.

Pembangkit listrik tenaga uap dengan bahan bakar batubara adalah salah satu penyumbang CO2 terbesar di atmosfer, sehingga apabila bisa digantikan sampai 100% atau full dengan wood pellet sebagai bahan bakar karbon netral akan mengurangi emisi CO2 secara signifikan. Pembangkit listrik Rodenhuize 180 MW di Ghent, Belgia adalah salah satu contohnya. Pada awalnya Rodenhuize adalah PLTU batubara selanjutnya pada tahun 2011 menggunakan 100% wood pellet. Sebelumnya pada tahun 2005 pembangkit tersebut dimodifikasi sehingga bisa bekerja dengan co-firing coal dan wood pellet dan pada tahun 2011 pembangkit tersebut beralih 100% dari batubara (coal) dengan wood pellet. Beralihnya ke wood pellet dari batubara (coal) telah membuat pembangkit listrik Rodenhuize mengurangi 1,6 juta ton emisi CO2. Pola seperti Rodenhuize sepertinya bisa menjadi referensi dan akan diikuti oleh pembangkit-pembangkit listrik batubara lainnya terutama pada negara-negara yang telah menerapkan kebijakan lingkungan pada sektor energinya untuk berlomba-lomba menurunkan suhu bumi.

Sabtu, 29 Maret 2014

Indonesia Can Develop Biomass Energy

Lack of non-renewable energy sources and an increasing need for renewable energy sources has forced Indonesia to shift gears and refocus its attention, it was revealed during the UN Framework Conference on Climate Change.

“Indonesia has tremendous potential to produce biomass, the market is there, we just need a policy to move forward,” Yetti Rusli, the special staffer for climate change at the Forestry Ministry told the Jakarta Globe during the side event of the conference.

“It’s no longer enough to have our full attention to anticipating climate change or emission reduction, it’s time for us to think about added values” she said.

Yetti said Indonesia could be one of the biggest biomass producers worldwide with its massive potential.

“We are very fortunate to have sunshine 11 hours a day, not to mention we are only second to Brazil when it comes to richness of biodiversity,” she said.

Unlike Brazil, Yetti said, Indonesia has the upper hand with most land being owned by the state.

“The private sector only has the licence to manage the land, they didn’t own it, unlike in Brazil where most land is owned by corporations.”

With the system, she said, it would be easier for the government to introduce a new policy, including prioritizing the production of new energy sources aside from emission reduction.

Unfortunately, feasibility studies about the potential of biomass production in Indonesia are still scarce.

However, she said, Indonesia could use studies that have been done by developed countries and make adjustments to suit domestic needs.

“Studies are conducted to obtain details and to determine the direction of the policy, to create a policy we can simply use best practices from developed countries.

“Even though we have different climate conditions, the need for a new source of energy is the same” Yetti said.

“Energy security in Indonesia is very fragile because we still have to subsidize it, even though the government has gradually reduced subsidies we still need to catch up with the oil prices, which have been very unstable. To answer this insecurity we need to come up with a renewable source of energy,” the Forestry Ministry staffer said. “Earlier there used to be a focus on developing nuclear energy as the new source of energy.”

She added that since the Fukushima incident, everybody started to look for something else, something more environmentally friendly, such as wind, solar, or biomass.

Producing biomass energy, Yetti said, would not be a totally foreign concept in Indonesia as a country which has been using firewood for centuries.

The experience could easily be translated into a more modern technique after thorough research, she said.

“It’s no longer enough to talk about stopping forest fires or encroachment, we need more.”

Moving forward

The Forestry Ministry has started a pilot project to see the feasibility of producing wood pellets, the material used to produce bio-methanol — believed to be carbon neutral — by planting red calliandra ( Calliandra Calothyrsus ) in Bangkalan, Madura.

Calliandra is a nitrogen-fixing tree that helps in fixing the soil condition, and is very easy to prune,” Yeti said.

“The trees are quite large and are a good source of nutrition for livestock,” she added.

The government has allocated 170 hectares of land for the Calliandra plantation in Madura, but the community managed to add more and now has 200 hectares of land to cultivate. The construction of a wood pellet factory is now underway in Bangkalan and it is estimated the factory will be able to produce 4,000 metric tons of wood pellets every year.

“It’s not much, but this is a start and people will learn how to cultivate calliandra and produce wood pellets,” she said.


  
Local success

State plantation firm, Inhutani has managed to secure a business deal with a South Korean consortium consisting of several large companies who have pledged their commitment to build a wood pellet factory in Indonesia, which will be able to produce up to 100,000 tons of wood pellets every year.

“After South Korea, our next target is Sweden, the biggest user of wood pellets in Europe, and then the Netherlands and Italy,” she said.

According to Yetti, biomass production is the most feasible option for Indonesia in the near future because other green products, such as carbon credits are still being negotiated and will take a very long time.

“At the same time the developed countries have been asked to reduce emissions so the need for environmentally friendly energy is very high, which is why the transition product like biomass is in high demand,” she said.

The scheme to reduce emissions, Yetti said, can be combined with agro-forestry,

“As we know the agriculture sector has been accused as one of the main contributors of the emission,” she said.

Trees can retain water and regulate the water cycle, preventing damage to crops and help in the recovery of the agricultural area,” she added.

Head of Indonesian Agricultural Environment Research Insitute at the Ministry of Agriculture (IAERI), Prihasto Setyanto said climate change has a direct impact on the Indonesian agriculture sector.

“People think climate change will impact their lives in the future — in the next few decades — but it’s not true, it’s happening now, it’s affecting our daily lives,” he said.

Prihasto said the agriculture sector has a lot of potential and can be used as a very powerful tool to help reducing carbon emissions.

One of the programs is the sustainable food reserve garden where people are encouraged and educated to make the best use of their own back- or front yards to cultivate some basic commodity.

“In 2010, because of climate change, it rained practically all year long, the farmers could not plant chillies. As a result, in 2011, the price of chillies soared to Rp 120,000 ($10.35) per kilogram. We even had to hold a special cabinet meeting because people were demonstrating across the country, it was that serious,” he said.

With the sustainable food reserve garden, Prihasto said, people would be able to fulfill their domestic needs by a simple farming method.

“And please don’t think the threat of climate change is not real, every 1 degree Celsius rise in temperature raise will cause a 10 percent drop of our rice harvest. If the prediction was correct that Indonesia will suffer from 4 to 5 degree Celsius temperature increase, our crop will drop by half, we can’t let that happen,” he said.

Source : http://www.thejakartaglobe.com/news/indonesia-can-develop-biomass-energy/

Kamis, 20 Maret 2014

Berpacu Menurunkan Suhu Bumi

Walaupun skenario carbon neutral tidak mengurangi konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer, tetapi dengan skenario ini tidak menambah lagi gas rumah kaca di atmosfer. Penggunaan bahan bakar carbon neutral dari biomasa adalah langkah konkritnya. Secara bertahap peran bahan bakar biomasa ini ditingkatkan penggunaannya dan dikuatkan dengan dukungan oleh regulasi negara. Sejumlah negara telah berani mengambil policy yang ambisius untuk pemanfaatan biomasa dalam skala yang massif. Faktor keyakinan sebagai solusi bagi masalah lingkungan berupa perubahan iklim dan pemanasan global, menipisnya cadangan bahan bakar fossil, citra sebagai negara yang ramah lingkungan, dan ekonomi adalah beberapa pendorong negara-negara tersebut menerapkan policy tersebut.


Untuk Asia, Korea Selatan telah memulai menggunakan biomasa secara massif dengan resmi dikeluarkannya RenewablePortofolio Standard (RPS) di Korea pada 2012.  RPS itu menyatakan bahwa 2% listrik harus berasal dari energi terbarukan. Prosentase dari energi terbarukan yang dibutuhkan akan meningkat secara incremental mencapai 10% pada 2022. Pendorong lainnya adalah skema perdagangan emisi yang akan dikeluarkan pada Januari 2015. Sedangkan di Jepang strategi energinya menjadi terlantar sejak meledaknya reaktor nuklir beberapa waktu lalu. Strategi aktual termasuk pembuatan pembangkit listrik dengan komposisi dari nuklir dan energi terbarukan dari 30% ke 70% sampai 2030. Jepang dengan jumlah penduduk sekitar setengah penduduk Indonesia tetapi konsumsi energinya 5 kali Indonesia. Jepang juga mentargetkan pembuatan pembangkit listrik dari energi biomasa dengan kapasitas 1100 MW sampai 2020. Sedangkan untuk pemakaian energi terbarukan Jepang memiliki target untuk mengurangi emisi CO2 dengan level seperti tahun 1990 pada tahun 2030.   Sedangkan China memiliki goal untuk menggunakan 11,4% dari non-fossil fuels dari konsumsi energi primernya pada 2015. Emisi CO2-nya akan dikurangi sebanyak 17%. Target pengurangan emisi CO2 sebanyak 40-45% pada tahun 2020 untuk mencapai level seperti tahun 2005. Di Eropa dengan target 20-20-20 telah mendorong permintaan bahan bakar biomasa terutama pellet. Target 20-20-20 adalah pengurangan gas rumah kaca 20%, penggunaan energi terbarukan 20% dan efisiensi energi 20%. Alat efektif di Eropa untuk mencapai target tersebut adalah skema perdagangan emisi (emission trading scheme / EU ETS).

Indonesia juga telah mencanangkan untuk mengurangi energi fossil, yakni pada tahun 2025 dengan porsi bahan bakar fossil 83% & renewable energy sekitar 17% secara khusus biomasa mendapat porsi kurang dari 5%. Potensi energi biomasa di Indonesia sangat besar yakni setara 49.810 MW listrik tetapi yang termanfaatkan masih kurang dari 4% atau kurang lebih setara 1.680,4 MW. Lahan kritis dan lahan tidur yang luasnya mencapai jutaan hektar, juga potensi luar biasa untuk dijadikan kebun energi sebagai sumber energi biomasa tersebut. Optimalisasi potensi tersebut akan mendukung tercapainya target yang dicanangkan pemakaian energi biomasa sebagai energi terbarukan dalam bauran energi total. Akhirnya terciptanya ekonomi yang rendah karbon bisa sebagai solusi bagi kesejahteraan masyarakat dan meningkatkan kualitas lingkungan, dengan komoditas yang paling populer yakni wood pellet. Global pasar pellet ini diprediksi akan meningkat dari 16 juta tons (2010) menjadi 46 juta ton pada 2020.  

Rabu, 12 Maret 2014

Pellet Fuel dari Tongkol dan Batang Jagung


 
Tongkol dan batang jagung adalah limbah dari usaha budidaya jagung. Umumnya kedua limbah tersebut hanya dibuang dan tidak dimanfaatkan. Mahalnya harga energi, solusi masalah limbah dan peningkatan nilai tambah pemanfaatan limbah tersebut adalah pendorong pemanfaatan limbah ini. Data tahun 2006 dengan produksi jagung secara nasional 11,7 juta ton, limbah pertanian dihasilkan yakni 12,1 juta ton. Dengan potensi energi batang dan daun kering diperkirakan 66,35 GJ dan tongkol jagung sebesar 55,75 GJ tentu sangat potensial untuk sumber energi.  Batang dan daun kering jagung memiliki nilai kalori 4370 kkal/kg sedangkan tongkol jagung pada 4451 kkal/kg (MC=7,53%).


Pellet tongkol jagung dan pellet batang jagung
Pemelletan untuk menjadi pellet bahan bakar (pellet fuel) adalah pilihan terbaik untuk sumber energi tersebut. Pellet dari limbah pertanian jagung ini bisa dimanfaatkan untuk bahan bakar kompor pada daerah pertanian tersebut atau untuk industri atau pemabngkit listrik dan potensial untuk dieksport ke luar negeri. Ditinjau dari asalnya karena pellet fuel dari limbah pertanian jagung ini termasuk biomass pellet atau agri-pellet, yang spesifikasinya sedikit berbeda dengan pellet kayu (wood pellet). Teknologi produksi pellet dari limbah jagung ini juga hampir sama dengan produksi wood pellet.



Sejumlah sentra-sentra produksi jagung di seluruh Indonesia potensial untuk mengembangkan komoditas ini karena ketersediaan bahan baku, mengatasi masalah limbah pertanian, kebutuhan energi yang terus meningkat dan faktor ekonomi. Sebagai bahan bakar yang ramah lingkungan, mudah disimpan dan digunakan, sebagai bahan bakar carbon neutral akan mengurangi dampak perubahan iklim akibat gas rumah kaca serta mendorong ekonomi rendah karbon.

Buah Kelapa Reject (Non- Standard) untuk Produksi Bioavtur / SAF

Organisasi penerbangan sipil internasional / International Civil Aviation Organization (ICAO) telah memasukkan kelapa non-standar di dalam p...