Tampilkan postingan dengan label sawdust briquette. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sawdust briquette. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 November 2024

Limbah Produksi Wood Chip untuk Produksi Wood Pellet atau Wood Briquette

Produksi wood chip sebagai bahan bakar biomasa pada cofiring PLTU milik PLN semakin marak akhir-akhir ini. Produksi wood chip adalah produksi bahan bakar biomasa paling mudah dibandingkan berbagai produk bahan bakar biomasa yang diproduksi industri saat ini. Ketersediaan bahan baku menjadi faktor utama keberlangsungan produksi. Nilai kalori dari wood chip tergantung dari spesies atau jenis kayu yang digunakan dan level kekeringannya (kadar air). Kayu-kayu keras dan kadar air rendah adalah produk ideal untuk wood chip tersebut. Dan karena memiliki bulk density yang rendah yakni sekitar 250 – 350 kg/m3 maka faktor transportasi menjadi aspek lain yang sangat diperhatikan untuk pengiriman produk wood chip tersebut.

Ukuran partikel wood chip juga sudah ditentukan sehingga handling dan penyimpanan lebih mudah dilakukan. Untuk mendapatkan ukuran wood chip sesuai ukuran partikel yang dikehendaki maka dilakukan pengayakan (screening) setelah batang atau potongan kayu dicacah dengan mesin chipper kayu. Dengan prasyarat tersebut maka ada produk yang ditolak / reject dari proses produksi tersebut yakni produk wood chip yang terlalu besar (oversize) dan produk yang terlalu kecil (undersize). Produk yang terlalu besar (oversize) tersebut bisa dikembalikan ke mesin chipper untuk dicacah kembali, tetapi produk wood chip yang ukuran partikelnya terlalu kecil (undersize) harus dimanfaatkan untuk hal lain sehingga selain produksi wood chip bisa zero waste juga memberi tambahan pendapatan bagi produsen wood chip tersebut. 

Ukuran partikel yang kecil seperti serbuk gergaji (sawdust) dari produksi limbah wood chip tersebut bisa dimanfaatkan untuk produksi wood pellet maupun wood briquette (pini kay briquette). Dan bahkan wood briquette lebih toleran terhadap ukuran partikel yang sedikit lebih besar karena produk wood briquette memiliki kepadatan (density) lebih tinggi dibanding wood pellet, selain itu wood briquette juga bisa diproses lanjut menjadi produk arang briket (sawdust charcoal briquette). Wood briquette sendiri biasa digunakan di negara-negara empat musim khususnya pada musim dingin untuk pemanas ruangan (home heating). Sedangkan arang briket (sawdust charcoal briquette) biasa digunakan untuk BBQ khususnya untuk negara-negara Timur Tengah dan Turki. 

Pada produksi wood chip tersebut diperkirakan limbah biomasa yang kurang lebih seukuran serbuk gergaji tersebut sekitar 20-25%, artinya jika produksi wood chip mencapai 5.000 ton/bulan maka limbahnya sekitar 1.000 – 1.250 ton/bulan. Hal ini cukup memadai untuk produksi wood briquette maupun arang briket (sawdust charcoal briquette) tersebut. Sedangkan apabila mau produksi wood pellet apalagi untuk pasar export biasanya dibutuhkan kapasitas produksi bisa sekitar 5.000 – 10.000 ton/bulan. Tentu saja hal tersebut tidak bisa dilakukan. Selain itu investasi peralatan untuk produksi wood briquette, arang briket (sawdust charcoal briquette) bahkan wood pellet untuk maksud tersebut juga jauh lebih besar dibandingkan dari produksi wood chip. Hal tersebut sehingga akan lebih masuk akal apabila produksi wood briquette ataupun arang briket (sawdust charcoal briquette) dilakukan oleh pihak lain. Pihak lain tersebut akan mengolah limbah pabrik wood chip tersebut menjadi wood briquette, arang briket (sawdust charcoal briquette) dan karena kompleksitas produksi serta biaya peralatan juga lebih tinggi maka wajar jika keuntungan yang didapat dari pengolahan limbah tersebut juga lebih tinggi. 

 

Harga wood pellet dunia seperti juga cangkang sawit atau PKS (palm kernel shell) banyak mengalami fluktuasi, bahkan akhir-akhir ini harganya cenderung rendah. Cangkang sawit atau PKS (palm kernel shell) sendiri adalah bahan bakar biomasa yang menjadi kompetitor wood pellet di pasar global tetapi harganya lebih murah, karena berasal dari salah satu limbah padat pabrik sawit yang diproses dengan sederhana. Dengan kondisi tersebut ditambah dengan mendapatkan volume limbah dari pabrik wood chip yang memadai juga sangat sulit maka produksi wood briquette (pini kay briquette) atau arang briquette (sawdust chracoal briquette) menjadi pilihan yang rasional. Selain itu harga yang stabil dari dua produk tersebut membuat daya tarik semakin besar untuk mempertimbangkannya. 

Sabtu, 19 September 2020

Consumer Briquette dan Industrial Briquette

Penggunaan briket biomasa baik dari limbah-limbah kayu maupun limbah-limbah pertanian belum populer di Indonesia, penggunaanya masih sangat terbatas. Dan briket yang digunakan itupun sebenarnya produk antara pada industri sawdust charcoal briquette. Sawdust briquette atau wood briquette tersebut adalah produk briquette yang keluar dari screw extruder dan sebenarnya bisa diolah lanjut menjadi sawdust charcoal briquette melalui proses karbonisasi. Produk sawdust charcoal briquette sendiri terutama digunakan untuk barbeque atau memanggang daging terutama di negara-negara Timur Tengah, Turki dan Arab Saudi. Penggunaan sawdust charcoal briquette di dalam negeri juga masih sangat terbatas. Ditinjau dari jenis briket tersebut sebenarnya produk yang dihasilkan adalah jenis consumer briquette atau briquette yang dijual retail untuk penggunaan rumah tangga. 

Produksi industrial briquette hampir belum ditemukan di Indonesia saat ini. Industrial briquette adalah briket yang digunakan untuk bahan bakar di industri seperti bahan bakar boiler atau bahkan pembangkit listrik. Padahal ditinjau dari proses produksinya pembriketan lebih mudah dan murah dibandingkan pemelletan seperti produksi wood pellet. Selain itu investasi peralatan untuk pembriketan juga lebih murah dibandingkan pemelletan. Sejumlah material biomasa yang umumnya sulit dipelletkan biasanya mudah dengan pembriketan. Penyiapan bahan baku untuk pembriketan juga lebih mudah daripada pellet karena toleransi untuk ukuran partikel dan tingkat kekeringan (kadar air) yang lebih longgar. 

Berbeda dengan pemelletan selain hanya ada satu jenis teknologi untuk pemadatannya yakni dengan roller press, pembriketan memiliki 3 jenis teknologi yakni mechanical press, piston press dan screw press. Selain itu bentuk, ukuran dan kepadatan briquette yang dihasilkan juga lebih variatif Industrial briquette dibuat dengan teknologi mechanical press, sedangkan consumer briquette dibuat bisa dengan mechanical press, piston press atau screw press. Bentuk kepingan (puck) adalah contoh bentuk terbaik untuk industrial briquette. Tandan kosong kelapa sawit atau EFB (empty fruit bunch) dan juga sabut (mesocarp fiber)-nya sangat potensial untuk produksi industrial briquette tersebut, untuk lebih detail bisa dibaca disini.

Puck shape industrial briquette

 

Consumer Briquette
Selain itu limbah serbuk kayu dari industri MDF (Medium Density Fibreboard) juga bisa digunakan untuk produksi industrial briquette tersebut. Sedangkan consumer briquette yang dibuat dengan mechanical press bentuknya silinder panjang, atau kalau dengan screw press bentuknya oktagonal atau hexagonal, sedangkan dengan piston press biasanya berbentuk balok. Consumer briquette terutama digunakan untuk pemanas ruangan pada musim dingin. Di negara-negara subtropis ketika musim dingin tiba hal yang bisa dilakukan terutama adalah pengkondisian ruangan sehingga manusia di daerah tersebut tetap beraktivitas yakni dengan menghangatkan ruangan tempat tinggalnya.

Sabtu, 16 Mei 2020

Wood Briquette untuk UKM


Sejumlah UKM telah menggunakan wood pellet sebagai bahan bakarnya seperti pada video di atas. Alasan utama penggunaan wood pellet tersebut adalah penghematan atau faktor ekonomi yakni penghematan sekitar 30% dibandingkan gas LPG bersubsidi 12 kg. Dengan menggunakan burner khusus, api dari pembakaran wood pellet tersebut seperti nyala api dari burner gas. Penggunaan wood pellet UKM-UKM tersebut berkisar dari beberap ton/bulan hingga puluhan ton/bulannya. Selain mudah digunakan, wood pellet juga mudah dan aman disimpan. Keseragaman ukuran dan tingkat kekeringan membuat kualitas wood pellet lebih terjaga dibanding bahan bakar biomasa lainnya. Salah satu nilai lebih dari penggunaan bahan bakar padat khususnya wood pellet adalah anti meledak. Penggunaan bahan bakar gas seperti LPG cenderung lebih berhati-hati pada bahaya ledakan tersebut.

LPG 12 kg non-subsidi
Produk bahan bakar biomasa yang mirip wood pellet dan bisa digunakan seperti wood pellet di atas adalah wood briquette atau sawdust briquette. Kedua produk tersebut dibuat dengan cara pemadatan biomasa (biomass densification), hanya ukuran briquette lebih besar dibandingkan pellet. Penggunaan wood briquette bahkan lebih mudah dibandingkan wood pellet, karena tidak membutuhkan burner khusus. Wood briquette cukup dimasukkan ke lubang tungku sama seperti penggunaan kayu bakar. Kualitas wood briquette juga lebih baik dibandingkan kayu bakar dan wood pellet sekalipun, yakni karena tingkat kepadatan (density) lebih tinggi dibandingkan kedua bahan bakar tersebut. Kayu bakar memiliki kepadatan sekitar 500 kg/m3, sedangkan wood pellet 700 kg/m3 dan wood briquette 1100 kg/m3. Proses produksi wood briquette juga sangat mirip dengan wood pellet, sehingga wood briquette juga memiliki ukuran yang seragam dan tingkat kekeringan tinggi, bedanya dimensi wood briquette lebih besar dibandingkan wood pellet. Sedangkan dari segi penghematan dibandingkan gas LPG 12 kg, penghematan wood briquette hampir sama dengan wood briquette yakni dikisaran 30%. Tetapi dengan tanpa adanya burner khusus, penggunaan wood briquette menjadi lebih mudah dan murah dibandingkan wood pellet.

Tentu wood briquette memiliki spesifikasi yang berbeda dengan briquette batubara. Hal tersebut terutama dari sumber bahan baku yang digunakan. Batubara mengandung sulfur sehingga akan merusak citarasa makanan apabila digunakan untuk memasak karena menimbulkan bau yang kurang sedap. Sedangkan wood briquette sama seperti wood pellet dibuat dari biomasa kayu yang dipadatkan. Selain itu abu batubara termasuk limbah B3 karena mengandung logam berat, sedangkan wood briquette seperti halnya wood pellet abunya adalah seperti abu pembakaran kayu saja.
Ditinjau dari aspek lingkungan penggunaan bahan bakar biomasa merupakan bahan bakar ramah lingkungan karena berasal dari tumbuh-tumbuhan dan saat ini umumnya dibuat dari limbah industri perkayuan. Supaya bahan bakar biomasa tersebut terus berkelanjutan (sustainable) maka tumbuh-tumbuhan atau pepohonan sebagai sumbernya harus dikelola dengan baik dan benar. Dan karena kayu tersebut merupakan produk photosintesis dari tumbuhan dan ketika dibakar lagi tidak menambah konsentrasi gas CO2 di atmosfer atau bahan bakar carbon neutral. Untuk memproduksi untuk kebutuhan energi tersebut, maka untuk skala besar dan berkelanjutan skenario kebun energi adalah opsi terbaik. Dengan kebun energi, selain kayunya bisa untuk produksi wood briquette dan wood pellet juga bisa diintegrasikan dengan usaha peternakan, untuk lebih detail bisa dibaca disini.

Rabu, 10 Juli 2019

Startup Business Berbasis Kebun Energi

Startup business menjadi trend hari ini dan tidak sedikit khususnya kalangan muda yang sangat tertarik dengan pola bisnis ini. Teknologi informasi berupa internet telah memudahkan menjalankan bisnis startup tersebut. Hari ini kita bisa saksikan bahwa dengan pola startup tersebut sejumlah perusahaan besar telah exist dan berdiri dengan menjual produk dan layanannya. Produk inovatif yang bisa memberi solusi jitu dari berbagai permasalahan yang ada akan perusahaan tersebut terus exist dan berkembang. Tetapi ternyata menjalankan dan mengembangkan startup business ini juga bukan hal mudah dan tanpa kendala. Faktanya sampai saat ini kemungkinan startup muncul dan mampu bertahan hanya 8% artinya dari 100 startup muncul hanya 8 startup saja yang bisa bertahan sampai tahun kedua. Bahkan kalau dihitung hingga tahun kelima, hanya 2 startup saja yang bisa bertahan. Tetapi fakta diatas bukan halangan sehingga menurunkan semangat untuk terus menekuni startup business tersebut justru sebaliknya menjadi penyemangat tentang perlunya ilmu dan bekal yang cukup sehingga bahkan memperbaiki kondisi tersebut.

Sama halnya dengan bisnis pada umumnya, bisnis startup juga akan senantiasa bisa bertahan dan berkembang bila memang terus dibutuhkan oleh konsumen. Ada sejumlah komoditas mendasar yang akan selalu terus dibutuhkan diantaranya yaitu pangan dan energi. Kebutuhan pangan dan energi selalu berbanding lurus dengan populasi manusia. Energi terbarukan khususnya berbasis biomasa yang juga menjadi salah satu fokus dari blog ini, memiliki prospek cerah dimasa mendatang. Kebun energi bisa menjadi basis untuk sebuah startup business. Kebun energi selain memiliki manfaat yang besar bagi lingkungan, juga memiliki manfaat ekonomi dan sosial. Selain itu pada faktanya implementasi kebun energi juga saat ini belum ada yang menggarap secara profesinal, sehingga perlu akselerasi. Pada tahap awal startup bisa fokus pada komoditas yang mudah dan dibutuhkan pasarnya, seperti skema dibawah ini.
Startup Business Berbasis Kebun Energi Tahap 1
Kebun energi memiliki sejumlah output yang bisa dikomersialkan atau dijual, yakni kayu  untuk bahan baku wood pellet, daun untuk pakan ternak dan bunga untuk produksi madu. Sejumlah output atau hasil panen tersebut jelas akan memaksimalkan keuntungan kebun energi tersebut. Luasnya lahan tidur, lahan kritis dan sejumlah lahan tidak produktif yang mencapai puluhan juta hektar adalah tantangan tersendiri untuk implementasi kebun energi tersebut. Semakin banyak lahan dimanfaatkan dan semakin tinggi tingkat keuntungan yang didapat maka tentunya akan semakin banyak para investor berinventasi pada sektor ini. Program swasembada daging dari produksi dalam negeri juga semakin terbantu dan bisa diakselerasi dengan hijauan pakan ternak dari daun kebun energi tersebut. Kebun energi dengan menggunakan tanaman kelompok leguminoceae (polong-polongan) seperti kaliandra dan gamal/gliricidae, dengan akar yang bersimbiosis dengan azetobacter sehingga bisa mengikat nitrogen dari atmosfer membuat daun-daunnya kaya protein sehingga menjadi pakan bergizi bagi ternak.
Startup Business Berbasis Kebun Energi Tahap 2
Pada tahap 2 seperti skema diatas keuntungan yang didapat bisa lebih ditingkatkan lagi. Hal tersebut karena perusahaan tidak hanya memproduksi bahan mentah yang digunakan industri lain tetapi lebih jauh lagi, yakni menghasilkan produk jadi yang siap dikonsumsi. Walaupun demikian panjangnya mata rantai proses produksi memang menjadikan tanggungjawab produsen semakin besar dan kompleks. Startup business yang sudah berpengalaman atau sudah melampaui skema tahap 1 biasanya akan lebih mudah untuk menjalankan tahap 2. Pasar untuk tahap ini juga sebagian besar untuk eksport karena sampai saat ini pasar dalam negeri belum siap, misalnya wood pellet untuk bahan bakar pembangkit listrik berteknologi fulidized bed combustion. PKS (palm kernel shell) atau cangkang sawit saat ini telah banyak digunakan untuk untuk pembangkit listrik tersebut, dan karena ketersediaan juga terbatas akan sangat mungkin pada era mendatang wood pellet dari kebun energi sebagai penggantinya.

Pasar bahan bakar biomasa khususnya PKS dan wood pellet sangat terbuka khususnya pasar export. Jepang dan Korea adalah konsumen bahan bakar biomasa terbesar saat ini untuk kawasan Asia, untuk lebih detail tentang karakteristik pasar Jepang dan Korea bisa dibaca disini. Sedangkan Eropa dengan program RED (Renewable Energy Directive) II pada tahun 2030 mentargetkan bahwa hampir 1/3 konsumsi energi berasal dari energi terbarukan dengan bahan bakar biomasa mendapat porsi 80%. Jumlah tersebut tentu sangat besar, dengan kondisi saat ini saja Eropa masih membutuhkan sekitar 5 juta ton wood pellet padahal RED I yang berlaku sampai 2020 hanya mentargetkan 20% konsumsi energi dari energi terbarukan dan biomasa mendapat porsi 80%.

Jumat, 06 Juli 2018

Produksi Pellet dan Briket Dari Limbah Pabrik Kayu Sengon

Pohon sengon adalah pohon yang banyak ditanam masyarakat diberbagai daerah dalam kawasan hutan rakyat. Saat ini diperkirakan luas perkebunan sengon tersebut mencapai lebih dari 1 juta hektar. Kayu adalah produk utama dari perkebunan sengon tersebut. Kayu tersebut diolah menjadi berbagai produk dari kayu gelondongan, kayu papan, kayu lapis, barecore, hingga pallet. Kayu sengon termasuk kayu lunak dan dihasilkan dari panen kayu dari perkenunan tersebut diusia pohon kurang lebih 5 tahun. Sentra-sentra perkebunan sengon di Indonesia terpusat pulau Jawa dan Kalimantan.

Limbah dari pengolahan kayu sengon tersebut yakni serbuk gergaji (sawdust), potongan-potongan kayu, kulit kayu dan kayu serutan (planner shaving). Masih banyak limbah-limbah tersebut yang belum dimanfaatkan bahkan mencemari lingkungan. Produksi wood pellet dan wood briquette dengan bahan baku tersebut akan mengatasi masalah lingkungan, menggerakkan sektor ekonomi dari pengolahan limbah atau khususnya bioeconomy yang diprediksi akan menjadi trend dalam waktu tidak lama lagi. Industri pengolahan kayu sengon paling sederhana yakni penggergajian kayu (saw mill) yang jumlahnya paling banyak dibandingkan industri pengolahan lebih hilir. Setiap penggergajian kayu rata-rata menghasilkan limbah serbuk gergaji 3 m3/hari (600 kg/hari) sehingga untuk 10 saw mill saja dihasilkan 6 ton/hari serbuk gergaji dengan kadar air rata-rata 30%.

Produksi briket dan pellet dari limbah kayu tersebut banyak kesamaannya, karena pada dasarnya teknologinya sama yakni pemadatan biomasa (biomass densification). Perbedaan dari produksi briket dan pellet hanya pada bagian akhir saja yakni mesin pemadatan atau mesin press (compactor)-nya. Pada produksi pellet di industri bentuknya sama yakni berupa silinder, hanya diameternya saja yang berbeda dan tidak ada perbedaan teknologi pemelletan tersebut. Ring die pellet press adalah pelletiser yang umum digunakan untuk pemelletan biomasa di industri khususnya berbahan baku biomasa kayu (woody biomass). Sedangkan pada briket, selain ukuran yang berbeda-beda, bentuk dari briket juga berbeda-beda. Briket umumnya juga memiliki tingkat kepadatan (densitas) lebih tinggi daripada pellet, bahkan bisa lebih dari dua kali lipatnya. Pellet memiliki kepadatan sekitar 650 kg/m3 sedangkan briket bisa mencapai 1400 kg/m3. 
Cara paling mudah membedakan briket dengan pellet yakni dari ukuran fisiknya. Briket memiliki ukuran lebih besar daripada pellet. Pembriketan pada umumnya juga lebih mudah dibandingkan pemelletan. Berbeda dengan pellet yang hanya menggunakan roller press, produksi briket menggunakan beberapa macam teknologi yakni, screw press, hydraulic dan piston press. Ulasan singkat teknologi tersebut bisa dibaca disini. Teknologi screw press memiliki banyak kelebihan dibandingkan hydraulic dan piston press, antara lain pada teknologi screw press briket yang dihasilkan juga memiliki lubang ditengah sehingga memudahkan pembakaran, dan juga mudah untuk diarangkan (karbonisasi). Teknologi screw press juga menghasilkan briket secara kontinyu, tidak seperti hydraulic yang beroperasi secara batch.
Faktor lain yang juga sangat mempengaruhi pengolahan limbah kayu sengon ini, tentu saja investasi atau harga peralatan atau unit produksi tersebut. Unit produksi pellet secara umum lebih mahal daripada briket, bahkan unit produksi briket hanya sekitar separuh unit produksi pellet. Hal tersebut membuat entry barrier produksi briket lebih mudah atau lebih kecil dibandingkan produksi pellet. Bahkan teknologi screw press briket telah dikuasai dengan baik di Indonesia termasuk sampai proses karbonisasinya dan telah beroperasi lebih dari 25 tahun. Fabrikasi dan suku cadang screw press briquette juga telah sepenuhnya dikuasai, sehingga pengolahan limbah kayu sengon lebih mudah diimplementasikan segera. 

Senin, 28 Agustus 2017

Briket Sekam Padi Mudah, Cepat Dan Bahan Baku Berlimpah

Faktanya Indonesia saat ini adalah net importer minyak bumi karena kapasitas produksi tidak mencukupi akan kebutuhan yang ada. Pada tahun 1980an produksi minyak kita sekitar 1.700 barrel per hari (BPH), sedangkan kebutuhan untuk konsumsi hanya sekitar 400an BPH. Sedangkan saat ini produksi tingkat dikisaran 800an BPH sementara kebutuhan kebutuhan konsumsinya bisa mencapai 1400an BPH. Hal ini seharusnya mendorong penggunaan berbagai energi terbarukan. Apalagi masalah ketahanan atau kedaulatan energi juga merupakan hal penting bagi eksistensi suatu negara. Apabila sumber energi tersebut mudah dan murah tersedia serta mudah juga dalam pemanfaatannya tentu menjadi pilihan tersendiri. Briket sekam padi (ricehusk briquette) walaupun jenis bahan bakar padat tetapi juga menjadi salah satu solusinya, karena makanan pokok kita dari beras yang menghasilkan limbah sekam padi. Sekam padi yang pada awalnya memiliki kepadatan (density) sekitar 125 kg/m3 bisa menjadi  1200 kg/m3 atau hampir dua kali lebih padat dari batang kayu keras dan juga jauh lebih padat daripada wood pellet yang berkisar 650 kg/m3. Dengan dibriketkan menjadi hemat biaya transportasi juga mudah dalam penggunaannya.
Produksi padi Indonesia tahun 2008 sebanyak 59,9 juta ton gabah kering giling (GKG), dengan rata-rata prosentase sekam padi 25% /ton padi maka akan didapat 15 juta ton/tahun. Indonesia juga merupakan importir tiga besar importir beras terbesar di dunia menurut IndexMundi tahun 2014 yakni mencapai 1.5 juta ton. Sementara Cina menempati urutan pertama dengan 3 juta ton, dan Nigeria 2,4 juta ton. Swasembada pangan yakni padi atau beras ini juga merupakan hal yang tidak kalah penting. Apabila swasembada beras dengan menambah produksi 1,5 juta ton maka limbah sekam padi yang dihasilkan juga banyak maka produksi briket sekam padi (ricehusk briquette) juga bisa ditingkatkan.

Proses produksi briket sekam padi (ricehusk) juga mudah apalagi dibandingkan briket serbuk gergaji (sawdust briquette). Hal ini karena sekam padi tidak perlu pengeringan dan bahan bakunya sudah homogen, sehingga setelah ditampung sementara dalam silo atau bin bisa langsung didistribusikan ke screw extruder untuk dibriketkan. Dengan kandungan lignin 17-19% dari sekam padi maka tidak dibutuhkan perekat tambahan pada pembriketan sekam padi. Briket tersebut selanjutnya didinginkan dan selanjutnya bisa dikemas untuk dikirim atau dipasarkan ke pengguna. Proses pengeringan selain menambah biaya produksi juga perlu investasi berupa alat pengeringan itu sendiri yang pada umumnya menggunakan rotary dryer (drum dryer). 

Penggunaan briket sekam padi (ricehusk briquette) juga sama seperti briket serbuk gergaji (sawdust briquette) yakni untuk bahan bakar. Industri-industri bisa menggunakan briket tersebut sebagai sumber panas seperti memasak dan produksi kukus (steam) dengan boiler. Dibandingkan dengan briket serbuk gergaji, briket sekam padi memiliki nilai kalor lebih rendah yakni berkisar 3500 kcal/kg dan juga kadar abu yang tinggi berkisar 20%, sehingga tipe ruang bakar (combustor) static grate tidak cocok, karena banyaknya abu tersebut yang membuat pori-pori grate menjadi buntu. Sedangkan ruang bakar moving grate (chain grate) cocok digunakan untuk briket sekam padi. Abu sekam padi banyak mengandung kalium (potassium) atau K yang sangat baik dikembalikan ke tanah sebagai pupuk. Silica juga bisa diekstrak abu briket sekam padi karena juga kandungannya cukup tinggi.
Aplikasi lain adalah untuk melapisi baja cair di pabrik baja untuk meningkatkan kandungan karbon dalam baja tersebut, tetapi dalam bentuk arang sekam padi. Untuk itu briket sekam padi selanjutnya diarangkan atau karbonisasi sehingga menjadi briket arang sekam padi (ricehusk charcoal briquette). Pengarangan (karbonisasi) briket sekam padi bisa dilakukan dalam tungku-tungku pengarangan yang dirancang secara khusus dengan setiap tungku biasanya mampu menampung sekitar 2,5 ton briket sekam padi dan tingkat konversi 20% ke arang dengan rentang waktu 10-14 hari. Apabila saat ini arang sekam tidak dibriketkan dan dikirim ke pabrik baja, tentu masalah transport menjadi tidak efisien, sehingga pembriketan adalah solusi hal tersebut. Selain itu tentu saja briket arang sekam (ricehusk charcoal briquette) padi tersebut juga bisa untuk memanggang daging, dan ikan seperti halnya briket arang serbuk gergaji (sawdust charcoal briquette).
InsyaAllah kami bisa menyediakan peralatan/mesin briket sekam padi termasuk tungku pengarangannya (jika dibutuhkan). Bagi yang berminat silahkan silahkan mengirim email ke eko.sbs@gmail.com





Minggu, 07 Mei 2017

Memasyarakatkan Wood Briquette Sebagai Bahan Bakar Terbarukan da Ramah Lingkungan Bagian 2


Salah satu hambatan atau bottle-neck kurang tersosialisasinya wood briquette adalah belum tersedianya kompor wood briquette tersebut. Kompor wood briquette yang dirancang khusus untuk membakar wood briquette sehingga bisa dimanfaatkan untuk memasak adalah faktor pendukung utama supaya wood briquette diterima oleh pasar rumah tangga dan industri kecil menengah. Industri makanan dan farmasi terutama membutuhkan bahan bakar yang 'bersih' berbasis biomasa seperti wood briquette. Aroma maupun citarasa makanan tidak berubah ataupun kontaminan pada industri farmasi bisa diminimalisir.


Supply wood briquette juga lebih mudah dilakukan karena proses produksi dan teknologi juga telah dikuasai. Semua peralatan bahkan telah bisa dibuat atau difabrikasi sendiri di dalam negeri termasuk extruder atau screw press yang merupakan alat ini dari pembriketan. Berbeda dengan wood pellet yang pelletisers masih harus import karena belum bisa dibuat didalam negeri. Investasi untuk mesin produksi atau peralatan wood briquette juga lebih murah dibandingkan wood pellet, bahkan bisa mendekati setengahnya.


Untuk mengumpankan atau memasukkan wood briquette ke dalam kompor dilakukan secara manual, hal ini karena ukuran wood briquette jauh lebih besar dari wood pellet. Pada kompor wood briquette biasanya dipasang pintu pada bagian atas untuk memasukkan briket tersebut. Sedangkan pada wood pellet pemasukkannya bisa dilakukan dengan screw conveyor karena wood pellet ukurannya kecil dan bisa dituang (pourable). Selain itu wood briquette juga memiliki bentuk yang bermacam-macam seperti silinder, heksagonal, balok, dan sebagainya. Bentuk-bentuk briket tersebut terbentuk karena teknologi pembriketannya yang berbeda-beda, seperti bisa dibaca disini. Dan semua bentuk briket tersebut bisa menggunakan kompor briket tersebut asalkan ukuran dan panjangnya sesuai. Pembriketan pada umumnya juga lebih mudah daripada pemelletan. Bahan baku yang berhasil dibriket belum tentu bisa dibuat pellet tetapi tidak sebaliknya.

Contoh kompor briket dari India, photo diambil dari sini 
 

Kompor untuk penghangat ruangan dan memasak di Eropa yang semula menggunakan bahan bakar potongan kayu,bisa digantikan dengan wood briquette
Efisiensi kompor juga bisa tinggi ketika panas dari pembakaran tersebut tidak hilang atau lepas ke lingkungan. Wood briquette memiliki kadar air yang rendah atau kekeringan tinggi sehingga asap yang terjadi dari pembakaran juga minimal. Dengan harga wood briquette lebih murah per-satuan kalori panas dibandingkan LPG, maka menggunakan wood briquette juga akan memberikan penghematan. Operasional kompor yang lebih mudah dan praktis akan lebih mendorong pemakaian wood briquette tersebut. Kompor tersebut juga bisa dilengkapi TEG (thermo-electric generator) untuk mendapatkan listrik kecil.

Tandan kosong kelapa sawit


Briket tankos sawit
Selain limbah-limbah kayu sehingga menghasilkan wood briquette, limbah-limbah pertanian juga bisa dibuat menjadi biomass briquette, seperti sekam padi, kulit kacang, kulit kopi, tandan kosong kelapa sawit (TKKS), tongkol jagung, baggase, pelepah sawit dan sebagainya. Sejumlah limbah tersebut banyak tersedia di sejumlah daerah di Indonesia. Tandan kosong kelapa sawit (TKKS) atau EFB (empty fruit bunch) misalnya banyak terdapat di pabrik-pabrik sawit. TKKS tersebut apabila bisa dibriket akan lebih mudah dimanfaatkan sebagai bahan bakar.

Selasa, 03 Februari 2015

Menilik Produksi Wood Pellet dan Wood Briquette



Selain teknologi sama, faktor biaya produksi wood pellet ternyata hampir sama dengan produksi wood briquette tipe screw, yakni daya 1 hp setara untuk produksi wood pellet 8,3 kg sedangkan pada wood briquette tipe screw 1 hp setara untuk produksi wood briquette 8 kg. Tetapi pada wood briquette perlu tambahan pemanasan pada ujung die untuk membantu proses densifikasi tersebut. Biaya pengeringan diantara keduanya juga hampir sama, yakni berkisar Rp 250/kg dengan mensyaratkan tingkat kekeringan atau kadar air yang sama sebagai umpan pellet maupun briquette pada level sekitar 10%.  Sedangkan biaya size reduction apabila bahan baku perlu penyesuaian ukuran menjadi sesuai untuk partikel yang dibutuhkan untuk produksi wood pellet dan wood briquette, juga relatif sama yakni setara 30 watt untuk setiap kilogramnya.  



Kelebihan pada wood briquette adalah bisa diproses lanjut menjadi charcoal briquette sedangkan pada wood pellet tidak. Tetapi wood pellet karena ukurannya kecil dan relatif mudah “mengalir” untuk pengumpanan sehingga banyak diaplikasikan pada pengumpanan otomoatis (automatic feeding). Mau produksi wood pellet atau wood briquette? Tentu harus dipertimbangkan masak-masak plus minus kedua produk tersebut.

Ujicoba Boiler Biomasa dan Pemilihan Bahan Bakar Biomasa yang Sesuai

Seiring dengan trend dekarbonisasi dan sustainibility diberbagai sektor kehidupan, khususnya di industri-industri pengolahan (industri manuf...