Tampilkan postingan dengan label hutan tanaman industri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hutan tanaman industri. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 September 2022

Produksi Wood Pellet dari Limbah HTI Akasia

Hutan atau kebun akasia di Indonesia diperkirakan mencapai 2 juta hektar dan hampir semua hutan akasia tersebut untuk menyuplai pabrik pulp and paper. Setiap pabrik pulp and paper selalu memiliki hutan akasia dengan luasan ribuan hektar untuk memenuhi pabrik pulp and paper tersebut. Kayu akasia dengan diameter minimal 8 cm digunakan sebagai bahan baku tersebut, sedangkan yang memiliki diameter lebih kecil dari itu hanya sebagai limbah saja. Setelah pohon ditebang selanjutnya dilakukan penanaman baru (replanting). Apabila setiap satu hektar dihasilkan 20 ton limbah kayu akasia, maka dengan luasan 20.000 hektar sudah dihasilkan 400.000 ton limbah kayu akasia. Luasan 20.000 hektar perkebunan akasia bukanlah sesuatu yang terlalu besar, hal ini karena ada sejumlah pemegang konsesi HTI (hutan tanaman industri) yang luasnya mencapai ratusan ribu hektar, sehingga volume limbah kayu yang dihasilkan juga sangat besar. Limbah kayu tersebut sangat potensial untuk produksi wood pellet. Kebutuhan wood pellet juga semakin meningkat seiring program dekarbonisasi atau subtitusi bahan bakar fossil.

Produk-produk kayu berasal dari bagian-bagian pohon yang berbeda, setiap pohon memiliki potensi unik, tergantung sejumlah faktor diantaranya diameter dan kelurusan dari batang.Pada pohon akasia diameter batang adalah parameter utama.

Untuk produksi wood pellet bisa menggunakan bahan baku dari limbah kayu maupun kayu-kayu yang seharga kayu limbah. Hal inilah mengapa kayu-kayu yang berharga atau memiliki ekonomi tinggi tidak cocok untuk produksi wood pellet (ditinjau dari aspek ekonomi). Pengguna wood pellet terutama untuk pembangkit listrik sehingga volume kebutuhannya besar. Kayu – kayu limbah seperti dari perkebunan akasia ini sangat potensial dan cocok untuk produksi wood pellet kapasitas besar tersebut. Selain Jepang dan Korea sebagai pasar wood pellet terbesar di Asia, saat ini Eropa juga semakin didorong untuk menggunakan wood pellet. Terjadinya perang Rusia – Ukraina adalah salah satu daya dorongnya. Ketergantungan bahan bakar fosil dari Rusia menjadi perhatian negara-negara Eropa khususnya sehingga dorogan untuk menggunakan energi terbarukan semakin besar. Biomasa khususnya wood pellet juga memiliki porsi besar dalam rencana penggunaan energi terbarukan di Eropa khususnya dalam RED (Renewable Energy Directive) II. Bahkan dalam kondisi perang saat ini kebutuhan wood pellet untuk pemanas ruangan juga semakin besar, walaupun untuk segmen ini terutama kayu bakar adalah bahan bakar utama mereka. Dengan terganggunya pasokan energi dari Rusia maka diprediksikan bahwa musim dingin kali ini akan menjadi musim dingin yang berat di Eropa. 

Kamis, 10 September 2020

Produksi Arang Kayu Akasia Sebagai Solusi Pemanfaatan Kayu Akasia Dalam Era Pandemi dan Juga Jangka Panjang

Wabah korona diprediksi masih lama bahkan di Indonesia kasusnya terus bertambah dan sampai saat ini belum terlihat adanya penurunan kurve. Puncak wabah bahkan diprediksi masih tahun 2021, hal ini membuat wabah ini semakin banyak memakan korban jiwa. Untuk mengurangi korban berjatuhan juga menurunkan angka kasus tersebut maka sejumlah aktivitas pendidikan dari usia dini sampai pendidikan tinggi dilkukan secara online, demikian juga aktivitas perkantoran dari berbagai perusahaan. Kondisi tersebut mengurangi kebutuhan jumlah kertas secara signifikan, karena semua aktivitas tersebut bisa dikatakan tidak membutuhkan kertas (paperless). Pabrik-pabrik kertas menjadi mengurangi produksi kertasnya bahkan ada sampai menutupnya. 

Kebun atau hutan akasia sebagai hutan kawasan industri atau hutan rakyat adalah sumber utama produksi kertas (pulp and paper) tersebut. Dengan adanya penurunan produksi kertas tersebut maka kebutuhan bahan baku juga otomatis terjadi penurunan. Produksi kayu akasia menjadi tidak laku sehingga perusahaan pengelola hutan tersebut juga menderita karena tidak ada pemasukan atau income. Kondisi ini harus segera diatasi sehingga perusahaan bisa berjalan normal lagi. Pemanfaatan kayu akasia sehingga menjadi produk yang bernilai tambah adalah solusi masalah tersebut. 

 Produksi arang adalah solusi jitu untuk mengatasi hal tersebut. Dengan produksi secara modern maka kualitas dan kuantitas arang yang diproduksi akan standar dan stabil dan juga tidak mencemari lingkungan dalam proses produksinya. Produk arang akasia berkualitas banyak dibutuhkan sejumlah industri. Teknologi produksi arang kami bahkan mampu menghasilkan kualitas arang yang lebih tinggi dari standard Eropa yakni NF EN 1860-2. Selain itu aspek pemasaran produk arang tersebut juga bisa kami bantu. 

Dibandingkan dengan produksi wood pellets yang sebagian besar untuk pembangkit listrik, maka kebutuhan investasinya juga jauh lebih besar sehingga banyak perusahaan yang kurang tertarik. Volume pengapalan wood pellet setiap kali sebanyak 10 ribu ton adalah jumlah yang banyak sehingga aspek logistik dan prasarannya juga tidak mudah dan murah. Kebutuhan listrik untuk produksi wood pellets juga besar sehingga mungkin akan sulit dilakukan di sejumlah daerah tertentu.

Tentu saja semua berharap bahwa wabah korona ini segera hilang. Tetapi melakukan antisipasi sekaligus solusi baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang tentu hal yang baik, sehingga diharapkan menjadi usaha yang berkelanjutan (sustainable).  Produksi arang kayu akasia bisa dilakukan dengan skala menengah dengan kebutuhan investasi juga tidak terlalu besar. Kebutuhan listrik untuk pabrik produksi arang tersebut juga kecil saja. Bagi perusahaan pengelola hutan akasia yang tertarik untuk produksi arang akasia, silahkan kontak eko.sbs@gmail.com

Minggu, 29 Desember 2019

Kebun Energi : Mananam Kaliandra atau Gliricidae ?

Setiap tanaman memiliki lokasi optimum untuk pertumbuhannya. Walaupun bisa tumbuh kalau bukan pada lokasi optimumnya maka hasilnya juga tidak sebaik lokasi optimumnya. Tanaman yang ditanam pada lokasi optimalnya maka besar harapan untuk mencapai hasil optimalnya, baik kayu, buah, bunga dan sebagainya. Apabila menanam teh, apel, atau edelweiss di dataran rendah atau bahkan di pesisir laut maka hampir mustahil untuk mendapat hasil optimumnya, bahkan mungkin malah layu dan mati. Pemilihan lokasi terbaik yang sesuai dengan karakteristik tanaman adalah hal penting untuk mendapatkan hasil optimum dari budidaya tersebut.
Gliricidae di pinggir pantai Depok, Bantul, Yogyakarta

Kaliandra di lereng gunung Merapi, Magelang, Jawa Tengah
Demikian juga dengan kebun energi. Selain pemilihan spesies tanaman yang ditanam, lokasi kebun seharusnya juga diperhatikan terkait akan jenis tanaman yang akan ditanam tersebut. Kebun energi pada umumnya menggunakan tanaman rotasi cepat dari jenis leguminoceae (polong-polongan) karena memiliki banyak keunggulan antara lain, usia panen cepat (rata-rata hanya 2 tahun), perawatan sangat mudah, tidak perlu replanting hingga belasan tahun, akarnya bisa menyerap nitrogen dari atmosfer sehingga menyuburkan tanah, akarnya juga kuat sehingga mampu menahan erosi, tanaman juga sangat efisien dalam penggunaan air sehingga bisa ditanam di daerah tandus sekalipun, daunnya untuk pakan ternak bernutrisi tinggi, dan bunganya untuk peternakan lebah madu. Singkatnya untuk optimalisasi pemanfaatan lahan tersebut maka kebun energi diintegrasikan dengan usaha peternakan.

Gliricidae & kaliandra adalah 2 species yang biasa digunakan sebagai tanaman kebun energi. Gliricidae lebih sesuai untuk dataran rendah hingga pesisir pantai, sementara kaliandra untuk dataran tinggi. Praktek penanaman kaliandra juga banyak dilakukan di daerah tinggi, sedangkan gliricidae di dataran rendah. Suhu, kelembaban, kesuburan tanah, curah hujan juga berpengaruh untuk menghasilkan produk kebun energi yang optimal. Sri Lanka adalah contoh negara yang banyak menanam gliricidae khususnya sebagai tanaman sela kebun kelapa. Indonesia sebagai negeri rayuan pulau kelapa seharusnya bisa juga melakukan hal yang sama. Dengan kondisi tersebut maka produksi wood pellet juga bisa dilakuan demikian juga menghidupkan industri kelapa terpadu (lebih detail bisa dibaca di sini, sini dan sini) dan peternakan,untuk optimalisasi lahan terbaik. 


Bioeconomy didefinisikan sebagai produksi berbasis pengetahuan dan menggunakan sumberdaya biologi atau makhluk hidup untuk menghasilkan produk-produk, proses-proses, dan jasa-jasa pada sektor ekonomi dalam kerangka sistem ekonomi berkelanjutan.Dengan pola diatas maka kebun-kebun energi bisa dibuat dibanyak tempat lokasi sentra kelapa di Indonesia seperti Riau, Jambi, Bengkulu, Gorontalo dan Sumatera Selatan untuk mengoptimalkan potensi bioeconomy tersebut. Selain itu jutaan hektar lahan tidur, marginal, tandus dan lahan kritis bisa dihidupkan dan diselamatkan hingga membawa keuntungan. Bahkan pohon-pohon kayu keras pada HTI (hutan tanaman industri) yang memakan waktu lama dan juga kadang-kadang membutuhkan biaya sosial yang tinggi untuk perawatannya bisa juga dikonversi dengan tanaman rotasi cepat dengan kebun energi.  Lahan yang tidak diolah akan semakin rusak seperti erosi , tanah longsor hingga terjadi penggurunan (desertifikasi) sehingga misi penyelamatan lingkungan juga sudah otomatis menjadi bagian dari aktivitas kebun energi di atas.  

Minggu, 12 Agustus 2018

Bioeconomy Model Untuk Indonesia Bagian 2

Selain dengan menggunakan pohon leguminoceae seperti kaliandra dalam bentuk kebun energi, seperti diuraikan lebih rinci pada bioeconomy model untuk Indonesia bagian 1, pohon bambu juga bisa digunakan sebagai tanaman perintis dan berdampak berkembangnya berbagai aktivitas bioeconomy turunannya. Mengapa pohon bambu juga bisa digunakan dalam hal ini? Pohon bambu yang termasuk kelompok rumput-rumputan (gramineae) bisa tumbuh di hampir semua tempat di Indonesia dan tahan terhadap kondisi kering, hal ini juga karena tumbuhan bambu termasuk jenis tumbuhan dengan photosintesis C4. Air tanah juga akan terangkat naik ke permukaan oleh tanaman bambu, sehingga daerah yang semula kering bisa menjadi subur dan air mudah tersedia, bahkan munculnya mata air sebagai akibat hutan atau kebun bambu tersebut, seperti dibaca disini. 
Rusaknya lingkungan pada umumnya dimulai dari rusaknya tanah yang berubah menjadi kering dan tandus. Kondisi demikian menyebabkan tanah tidak dimanfaatkan dan semakin memperparah kerusakan hingga bisa terjadi penggurunan (desertifikasi). Rusaknya tanah bisa disebabkan penggunaan pupuk kimia, kurang atau tidak tersedia sumber air dan pengelolaan lahan yang tidak berkelanjutan. Pohon bambu yang juga mudah tumbuh bisa digunakan untuk memperbaiki kondisi tersebut. Untuk itu kebun bambu perlu banyak dibuat untuk merehabilitasi lahan dan juga manfaat secara ekonomi. Hanya memerlukan waktu sekitar 3 tahun pohon bambu sudah bisa dipanen dan selanjutnya bisa dipanen terus menerus hingga lebih dari 30 tahun. 

Bambu bisa untuk biomaterial, tetapi tentu pemanfaatan paling ekonomis adalah yang dicari. Bambu bisa dimanfaatkan untuk produksi berbagai macam produk seperti bahan bangunan, bahan baku kertas, sumber energi, activated carbon, hingga tekstil berkualitas tinggi dan untuk lebih rinci bisa dibaca disini. Banyaknya produk-produk yang bisa dihasilkan dari bambu tentu akan menjadi daya dorong tersendiri. Saat ini masih banyak sejumlah produk yang masih import, padahal seharusnya bisa diproduksi di dalam negeri. Bahan baku tekstil seperti katun dan wol adalah contoh bahan baku yang masih import dalam jumlah sangat besar, dan ini sebenarnya juga bisa disubtitusi dengan bahan baku dari bambu, bahkan kualitasnya lebih baik. 

Dengan perkebunan bambu yang memperbaiki kondisi lingkungan dan aspek ekonomi, selanjutnya pengembangan bisa terus dilakukan nantinya, seperti pembuatan kebun buah-buahan maupun peternakan khususnya domba. Tanah yang telah subur dan air mudah tersedia menjadikan berbagai pohon buah-buahan bisa tumbuh dengan baik, demikian pula bisa untuk pembuatan padang penggembalaan dengan rerumputan yang menghijau. Teknik penggembalaan rotasi sebagai teknik penggembalaan terbaik saat ini bisa diterapkan di padang penggembalaan tersebut. Sektor ekonomi berbasis hal tersebut menjadi semakin bergairah dan contoh bioeconomy riil. 
Bermula dari bambu, sektor ekonomi bangsa dan umat bisa menjadi kuat. Sektor-sektor strategis seperti pangan, sandang, papan, hingga energi bisa dicukupi dan tidak bergantung import. Ada puluhan juta hektar lahan tersedia di Indonesia, dan bisa digunakan untuk perkebunan bambu tersebut. Kondisi Indonesia yang beriklim tropis dengan curah hujan tinggi juga sangat mendukung perkebunan bambu di Indonesia. Mari kita perbaiki dan selamatkan lingkungan sekaligus untuk menjadi memimpin di era bioeconomy dengan perkebunan bambu,  industri pengolahannya dan pengembangannya. 

Jumat, 05 Mei 2017

HTI dan Wood Pellet

Potensi luasnya lahan dan kondisi iklim tropis harus senantiasa kita syukuri. Mensyukuri nikmat Allah SWT yang satu ini dengan cara tidak merusaknya dan memanfaatkan untuk mencukupi kebutuhan hidup manusia serta menjaga kelestariannya atau istilah hari ini keberlanjutannya (sustainibility). Luasnya lahan hutan  tanaman industri (HTI) yang belum dikelola secara optimal menjadikan manfaat dan kelestariannya juga kurang optimal. Padahal ada banyak manfaat apabila pengelolaannya maksimal dan bukan hanya manfaat ekonomi tetapi juga manfaat lingkungan yang tak ternilai harganya. Membiarkan tanah kosong tidak ditanami apa pun hanya membuat lahan tersebut terbengkalai, tandus dan bisa menyebabkan penggurunan (desertifikasi). Padahal kebutuhan manusia akan pangan, energi dan air senantiasa meningkat seiring meningkatnya jumlah manusia. Pangan, energi dan air inilah kebutuhan materi essential manusia sehingga ia bisa bertahan hidup dan melahirkan generasi penerusnya. Salah satu skenario untuk mendapatkan pangan, energi dan air tersebut adalah 5F project for the world. Produksi atau pengembangan energi pepohonan juga sesuai dengan petunjuk Al Qur'an.


Moratorium Sawit
Moratorium sawit yang ramai didengungkan saat ini, walaupun secara resmi belum diberlakukan adalah momen tepat untuk mempertimbangkan kebun energi. Ditinjau dari permodalan atau investasi usaha kelapa sawit juga membutuhkan modal besar, selain itu masalah perawatan kebun dan kualitas lahan juga menjadi faktor penting dan membutuhkan biaya yang juga besar. Kebun energi dengan tanaman leguminoceae seperti kaliandra dan gamal (gliricidae), hanya membutuhkan perawatan yang mudah dan murah. Apalagi hanya membutuhkan waktu kurang lebih 1 tahun untuk bisa dipanen kayunya dan bisa dipanen terus menerus setiap tahunnya tanpa harus replanting. Leguminoceae adalah jenis tanaman perintis yang mampu menyuburkan tanah dengan simbiosis bakteri pengikat nitrogen pada akarnya. Berbeda dengan pohon sawit yang membutuhkan biaya perawatan dan pupuk yang tinggi, leguminoceae adalah sebaliknya. Pohon sawit juga membutuhkan air yang banyak, hal ini juga berkebalikan dengan leguminoceae. Kebun energi seperti kaliandra juga memberi manfaat penting yakni menjaga terpenuhinya pangan, energi dan air. Perbandingan antara keduanya juga bisa dibaca disini.



Kedaulatan dan produsen energi
Harus diakui bahwa saat ini Indonesia tidak lagi menjadi eksportir minyak bumi sehingga tidak lagi menjadi anggota OPEC tetapi sebagai negara importir minyak bumi yang semakin hari jumlahnya semakin bertambah untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Sementara kebutuhan energi semakin meningkat dari hari ke hari akibat pertumbuhan penduduk. Semakin tinggi ketergantungan terhadap bahan bakar import tersebut semakin tidak berdaulat Indonesia dari sektor energi. Bahkan energi adalah sektor penting dan vital bagi kedaulatan satu negara sehingga perangkat kebijakan yang mengaturnya juga tidak sederhana. Di Sisi lain padahal sebenarnya terbuka peluang besar untuk berdaulat pada sektor energi salah satunya dengan kebun energi, yakni dengan memanfaatkan jutaan hektar tanah-tanah yang saat ini belum atau tidak dimanfaatkan. Selain berdaulat dari pada sektor energi, visi lebih jauh yakni menjadi produsen energi yang menyuplai kebutuhan energi khususnya energi terbarukan ke berbagai belahan dunia. Dengan potensi luasnya lahan tersebut bukan mustahil Indonesia menjadi produsen terbesar energi terbarukan dari biomasa yakni wood pellet. Walaupun proyeksi pemerintah hanya menargekan 17% energi terbarukan pada tahun 2025 melalui kebijakan energi nasional melalui Peraturan Presiden no. 5 tahun 2006.

Ada sejumlah keuntungan riil yang bisa didapat dari kebun energi baik berupa keuntungan ekonomi maupun keuntungan dari sisi lingkungan, seperti bisa dibaca disini. Produksi dan penggunaan wood pellet demikian juga. Skema atau diagram sederhana produksi wood pellet dari kebun energi kaliandra bisa dibaca disini.

Biochar, Kesehatan Tanah dan Keberlanjutan Produktivitas Sawit

Tanah sehat pasti subur, tetapi tanah subur belum tentu sehat. Tanah yang sehat memiliki kehidupan mikroorganisme seperti cacing dan organis...