Tampilkan postingan dengan label gliricidae. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gliricidae. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Januari 2020

Membangun Pabrik Wood Pellet Berorientasi Export Dari Kebun Energi

Walaupun secara geografis, Indonesia merupakan negara terluas di kawasan Asia Tenggara dan beriklim tropis tetapi export wood pellet dari Indonesia masih sangat kecil dan kalah jauh dari Vietnam. Tujuan export wood pellet Vietnam ke Korea dan Jepang. Import wood pellet Jepang pada tahun 2018 diperkirakan lebih dari 1 juta ton, atau jumlah tersebut hampir dua kali lipat dari tahun 2017, dengan prosentase 63% berasal dari Kanada dan 31% dari Vietnam. Itu berari dengan luas wilayah yang kecil tetapi mampu mengeksport wood pelletnya ke Jepang miimal 310 ribu ton/tahun, sedangkan Indonesia diperkirakan kurang dari 100 ribu ton/tahun.

Indonesia juga sangat potensial untuk mengembangkan kebun energi untuk produksi wood pellet tersebut. Bahkan kebun energi tersebut bisa diintegrasikan peternakan besar seperti domba, sapi dan kambing serta peternakan lebah madu, untuk lebih detail bisa dibaca disini. Sehingga selain sektor energi, sektor pangan serta konservasi lingkungan berupa air dan tanah juga bisa terpelihara. Mengapa saat ini belum atau tidak ada produsen wood pellet dari kebun energi berorientasi export di Indonesia? Padahal potensi bahan baku dan pasar sangat besar. Estimasi keuntungan juga menarik apalagi dengan optimalisasi pemanfaatan lahan dan panen kebun energi tersebut.
Ada beberapa analisis, untuk menjawab hal tersebut, antara lain sebagai berikut, pertama adalah akses pasar. Pasar atau pembeli adalah hal penting untuk investasi pabrik wood pellet seharga ratusan milyar, maka jaminan pasar tersebut sangat penting. Produksi melimpah tetapi tidak ada yang menyerapnya atau pembelinya maka hal tersebut akan membuat pabriknya berhenti produksi dan bangkrut. Karakteristik produk wood pellet juga akan menentukan user atau pengguna wood pellet tersebut. Walaupun sama-sama untuk konsumsi pembangkit listrik tetapi teknologi pembangkit listrik tersebut juga berbeda-beda, sehingga membutuhkan spesifikasi teknis wood pellet yang berbeda-beda juga.

Kedua, faktor biaya. Faktor biaya bisa jadi merupakan halangan utama, hal ini karena pabrik wood pellet dari kebun energi adalah bukan sesuatu yang murah, tetapi memang umumnya lebih murah dibandingkan pabrik sawit dan perkebunannya, untuk lebih detail bisa dibaca disini. Tetapi dengan prospek yang bagus pada sektor energi terbarukan dari biomasa ini semestinya banyak investor yang berminat untuk investasi pada bisnis ini. Investasi yang saling menguntungkan non-riba adalah pilihan terbaik untuk mengeksekusinya. Diperkirakan untuk pabrik wood pellet dengan kapasitas 10.000 ton/bulan (20 ton/jam) lebih dari 100 milyar rupiah.

Selanjutnya, faktor ketiga yakni infrastruktur. Sejumlah daerah memang belum memiliki infrastruktur yang memadai walaupun tersedia tanah sangat luas. Penyediaan infrastruktur seperti jalan, jembatan dan sebagainya bukanlah sesuatu yang mudah dan murah, sehingga bisa menjadi kendala yang berarti. Hal inilah mengapa pemilihan lokasi adalah hal penting. Ketersediaan listrik adalah hal lain yang perlu diperhatikan dan menjadi pertimbangan penting. Listrik sangat vital untuk produksi atau pabrik wood pellet. Apabila ternyata tidak ada pasokan listrik, maka pabrik wood pellet tersebut harus membuat pembangkit listrik. Dengan kisaran kebutuhan listrik 250 KW untuk setiap ton/jam produksi wood pellet, maka untuk produksi wood pellet dengan volume standar export yakni minimal 10.000 ton/bulan atau 10.000 ton/shipment atau 20 ton/jam membutuhkan 5 MW.


Pembangkit listrik tersebut cukup besar, karena untuk ukuran pabrik sawit besar saja kebutuhan listrik hanya sekitar 2,5 MW dan investasi pembangkit listrik untuk setiap MW adalah 1 juta US dollar, sehingga untuk 5 MW membutuhkan 5 juta US dollar atau sekitar 70 milyar rupiah. Infrastruktur seperti pelabuhan yang memadai juga sangat penting. Pabrik-pabrik wood pellet pada umumnya memiliki unit penyimpanan wood pellet dekat dengan pelabuhan sehingga mudah untuk pengapalannya. Fasilitas penyimpanan wood pellet dengan kapasitas 10.000 ton juga butuh bangunan cukup besar, yang diperkirakan lebih dari 50 milyar rupiah.
Pelabuhan wood pellet dengan fasilitas penyimpanan di Prince Rupert, BC, Kanada
Saat ini pada umumnya produksi wood pellet hanya mengandalkan limbah-limbah penggergajian kayu (sawmill) dan limbah industri kayu. Pasokan bahan baku dengan cara fluktuatif baik kualitas maupun kuantitas. Pada musim penghujan pada umumnya pabrik-pabrik pengolahan kayu membutuhkan lebih banyak limbahnya untuk bahan bakar pengeringan kayu yang diolahnya, sehingga limbah kayu yang bisa diambil berkurang atau hanya sedikit, bahkan tidak tersisa. Hal ini berbeda dengan produksi wood pellet dari kebun energi karena jaminan pasokan bahan baku lebih terjaga. Tetapi teknologi budidaya dan pemanenan juga harus bisa dikuasai dengan baik untuk bisa lebih menjamin pasokan bahan baku tersebut ke pabrik. Bagi pabrik, keterjaminan pasokan bahan baku adalah hal vital. Pabrik akan langsung tutup jika tidak bahan baku untuk diolah. Pabrik wood pellet pada umumnya memiliki gudang bahan baku yang besar, yang juga berfungsi sebagai penyangga (buffer) terhadap produksi mereka.

Selanjutnya adalah penguasaan teknologi produksi wood pellet itu sendiri. Untuk menjaga kualitas dan kuantitas wood pellet yang sesuai harapan, maka penguasaan teknologi produksi mutlak dibutuhkan, selain itu juga handling produk tersebut hingga ke pengapalan. Titik-titik kritis proses produksi seperti ukuran partikel, tingkat kekeringan, pemelettan dan pendinginan harus menjadi perhatian tersendiri. Produk wood pellet yang bisa diterima pasar internasional hampir semua harus memenuhi 2 persyaratan standar, yakni standar kualitas dan standar lingkungan (sustainibility). Standar kualitas sangat berkaitan dengan aspek teknis wood pellet itu sendiri atau aspek produksinya. Sedangkan aspek lingkungan sangat terkait dengan asal bahan baku, dan berbagai aspek lingkungan yang membuat bahan baku wood pellet bisa berkelanjutan (sustainable), dan untuk lebih detail bisa dibaca disini.
Momentum kebun energi diprediksi tidak akan lama lagi, bahkan Sri Lanka dalam waktu yang tidak lama lagi akan produksi wood pellet dari kebun energi gliricidae sebesar 150 ribu ton/tahun atau lebih dari 10 ribu ton/bulannya, untuk lebih detail silahkan baca disini. Gliricidae atau gamal sama halnya dengan kaliandra merupakan kelompok tanaman polong-polongan (leguminoceae) dan gliricidae lebih populer serta telah ditanam masyarakat sejak puluhan bahkan ratusan tahun lalu yang biasanya untuk tanaman pagar dan daunnya untuk pakan ternak. Sedangkan kaliandra merah yang juga walaupun telah ditanam masyarakat mungkin juga sejak ratusan tahun lalu, tetapi umumnya adalah untuk daerah-derah tinggi saja. Untuk lebih detail perbandingan tentang tanaman kaliandra dan gliricidae, bisa dibaca disini.   

Minggu, 29 Desember 2019

Kebun Energi : Mananam Kaliandra atau Gliricidae ?

Setiap tanaman memiliki lokasi optimum untuk pertumbuhannya. Walaupun bisa tumbuh kalau bukan pada lokasi optimumnya maka hasilnya juga tidak sebaik lokasi optimumnya. Tanaman yang ditanam pada lokasi optimalnya maka besar harapan untuk mencapai hasil optimalnya, baik kayu, buah, bunga dan sebagainya. Apabila menanam teh, apel, atau edelweiss di dataran rendah atau bahkan di pesisir laut maka hampir mustahil untuk mendapat hasil optimumnya, bahkan mungkin malah layu dan mati. Pemilihan lokasi terbaik yang sesuai dengan karakteristik tanaman adalah hal penting untuk mendapatkan hasil optimum dari budidaya tersebut.
Gliricidae di pinggir pantai Depok, Bantul, Yogyakarta

Kaliandra di lereng gunung Merapi, Magelang, Jawa Tengah
Demikian juga dengan kebun energi. Selain pemilihan spesies tanaman yang ditanam, lokasi kebun seharusnya juga diperhatikan terkait akan jenis tanaman yang akan ditanam tersebut. Kebun energi pada umumnya menggunakan tanaman rotasi cepat dari jenis leguminoceae (polong-polongan) karena memiliki banyak keunggulan antara lain, usia panen cepat (rata-rata hanya 2 tahun), perawatan sangat mudah, tidak perlu replanting hingga belasan tahun, akarnya bisa menyerap nitrogen dari atmosfer sehingga menyuburkan tanah, akarnya juga kuat sehingga mampu menahan erosi, tanaman juga sangat efisien dalam penggunaan air sehingga bisa ditanam di daerah tandus sekalipun, daunnya untuk pakan ternak bernutrisi tinggi, dan bunganya untuk peternakan lebah madu. Singkatnya untuk optimalisasi pemanfaatan lahan tersebut maka kebun energi diintegrasikan dengan usaha peternakan.

Gliricidae & kaliandra adalah 2 species yang biasa digunakan sebagai tanaman kebun energi. Gliricidae lebih sesuai untuk dataran rendah hingga pesisir pantai, sementara kaliandra untuk dataran tinggi. Praktek penanaman kaliandra juga banyak dilakukan di daerah tinggi, sedangkan gliricidae di dataran rendah. Suhu, kelembaban, kesuburan tanah, curah hujan juga berpengaruh untuk menghasilkan produk kebun energi yang optimal. Sri Lanka adalah contoh negara yang banyak menanam gliricidae khususnya sebagai tanaman sela kebun kelapa. Indonesia sebagai negeri rayuan pulau kelapa seharusnya bisa juga melakukan hal yang sama. Dengan kondisi tersebut maka produksi wood pellet juga bisa dilakuan demikian juga menghidupkan industri kelapa terpadu (lebih detail bisa dibaca di sini, sini dan sini) dan peternakan,untuk optimalisasi lahan terbaik. 


Bioeconomy didefinisikan sebagai produksi berbasis pengetahuan dan menggunakan sumberdaya biologi atau makhluk hidup untuk menghasilkan produk-produk, proses-proses, dan jasa-jasa pada sektor ekonomi dalam kerangka sistem ekonomi berkelanjutan.Dengan pola diatas maka kebun-kebun energi bisa dibuat dibanyak tempat lokasi sentra kelapa di Indonesia seperti Riau, Jambi, Bengkulu, Gorontalo dan Sumatera Selatan untuk mengoptimalkan potensi bioeconomy tersebut. Selain itu jutaan hektar lahan tidur, marginal, tandus dan lahan kritis bisa dihidupkan dan diselamatkan hingga membawa keuntungan. Bahkan pohon-pohon kayu keras pada HTI (hutan tanaman industri) yang memakan waktu lama dan juga kadang-kadang membutuhkan biaya sosial yang tinggi untuk perawatannya bisa juga dikonversi dengan tanaman rotasi cepat dengan kebun energi.  Lahan yang tidak diolah akan semakin rusak seperti erosi , tanah longsor hingga terjadi penggurunan (desertifikasi) sehingga misi penyelamatan lingkungan juga sudah otomatis menjadi bagian dari aktivitas kebun energi di atas.  

Minggu, 22 Desember 2019

Menghidupkan Industri Kelapa Terpadu Bagian 3

Ketika pirolisis kontinyu digunakan untuk pengolahan tempurung kelapa dan menghasilkan arang (charcoal) serta tidak diolah lanjut menjadi arang aktif (activated carbon), maka excess syngas dan biooil bisa digunakan sumber energi pengolahan daging buah dan air kelapanya. Daging buah dan air kelapa tersebut bisa diolah menjadi bermacam-macam produk yang dibutuhkan pasar. Biaya produksi berbagai produk olahan kelapa tersebut menjadi sangat kompetitif karena biaya energi sangat minimal bahkan nol. Selain itu kebutuhan energi juga masih bisa ditambahkan dari sabut kelapa yang digunakan sebagai bahan bakar juga. Sumber energi tersebut bisa digunakan untuk sumber listrik atau panas atau keduanya tergantung kebutuhan industrinya.
Apabila gliricidae ditanam sebagai tanaman sela dari perkebunan kelapa, maka produk kayu juga akan didapat. Kayu tersebut bisa sebagai bahan baku wood pellet sebagai komoditas export yang diprediksi kebutuhan terus meningkat seiring kesadaran masalah lingkungan dan perubahan iklim. Limbah daun gliricidae juga bisa digunakan sebagai pakan ternak seperti kambing, domba dan sapi. Perawatan tanaman gliricidae sangat mudah dan pola penanaman sebagai tanaman sela dengan perkebunan kelapa juga sudah biasa dilakukan di Sri Lanka. Optimasi lahan juga bisa dilakukan dengan menggunakan tanah-tanah di sela-sela kebun kelapa dan gliricidae sebagai padang gembalaan seperti kambing, domba dan sapi tersebut serta untuk peternakan lebah madu.
Untuk menjadikan bisnis tersebut menjadi menguntungkan dan berkelanjutan (sustainable), tentu pengelolaan yang professional perlu diterapkan dalam usaha tersebut. Pengelolaan sektor hulu berupa perkebunan dan peternakan seharusnya dipisahkan dengan sektor hilir berupa pabrik sebagai unit pengolahan. Hal tersebut mirip pada organisasi di perusahaan kelapa sawit yang memisahkan divisi kebun dengan divisi pabrik. Selain akan memudahkan operasional bisnisnya juga bisnis tersebut akan menjadi efisien dan kompetitif.      

Minggu, 21 April 2019

Kebun Energi Untuk Reklamasi Tambang Batubara


Indonesia sebagai salah satu penghasil batubara terbesar di dunia, ternyata menyisakan masalah lingkungan pada aktivitas penambangannya. Diperkirakan sekitar 8 juta hektar atau sekitar 3/4 luas perkebunan kelapa sawit Indonesia merupakan lubang bekas tambang batubara tersebut. Lubang-lubang tersebut menjadi semacam danau yang juga sering memakan korban. Peraturan yang berlaku adalah mereklamasi lubang tersebut yakni dengan mengembalikan tanah yang digali setelah diambil atau diekstrak deposit batubaranya. Prakteknya memang masih sangat sedikit yang melakukan hal ini sehingga lubang-lubang seperti danau masih bertebaran dimana-mana. Dari yang sangat sedikit tersebut, juga sebagian besar hanya melakukan secara simbolis semata, artinya penghijauan kembali lahan reklamasi hanya dilakukan di area tertentu saja.

Kebun energi dengan tanaman rotasi cepat dan kelompok leguminoceae seperti kaliandra dan gliricidae adalah solusi jitu untuk mengurangi dampak lingkungan tersebut. Setelah direklamasi kebun energi bisa dibuat dalam area bekas lubang batubara tersebut. Dengan luasan ribuan hingga jutaan hektar, maka produksi kayu dari kebun energi juga akan besar jumlahnya. Kayu tersebut selanjutnya digunakan sebagai sumber energi juga. Perusahaan batubara pada dasarnya adalah perusahaan energi, sehingga akan sejalan apabila juga menghasilkan kayu sebagai sumber energi juga. Bedanya kayu dari kebun energi tersebut merupakan energi terbarukan, merupakan bahan bakar karbon netral dan berkelanjutan (sustainable). Reklamasi dengan kebun energi juga memberi citra positif bagi perusahaan tersebut. Supaya memberi nilai tambah yang tinggi maka kayu tersebut bisa diolah menjadi wood chip atau wood pellet.
Mengapa tanaman rotasi cepat dari kelompok leguminoceae seperti kaliandra atau gliricidae dipilih sebagai tanaman kebun energi? Hal tersebut karena sejumlah keunggulan tanaman tersebut antara lain merupakan tanaman perintis dan sangat mudah tumbuh, mudah dalam perawatan, bisa dipanen cepat dan dengan akar yang bersimbiosis dengan azetobacter sehingga mampu mengikat nitrogen dari atmosfer untuk meningkatkan kesuburan tanah. Kondisi lahan reklamasi yang kurang subur bisa diperbaiki juga dengan kebun energi tersebut. Posisi Indonesia yang berada di katulistiwa juga sangat mendukung untuk produksi dan penggunaan energi dari biomasa khususnya kebun energi. Banyaknya terjadi mendung karena negara kepulauan membuat penggunaan energi matahari solar panel kurang sesuai diterapkan di Indonesia, untuk lebih detail bisa dibaca disini.
Penggunaan energi terbarukan secara bertahap mulai menggantikan energi fossil. Energi terbarukan khususnya biomasa adalah energi ramah lingkungan dan berkelanjutan (sustainable). Pembangkit listrik batubara juga bisa secara bertahap menggunakan biomasa sebagai bahan bakarnya yakni dengan cara cofiring. Cofiring adalah cara termudah dan termurah bagi pembangkit listrik batubara menuju pembangkit listrik biomasa. Dengan cara tersebut otomatis limbah fly ash juga akan berkurang. Konversi hingga 100% biomass atau full firing adalah target untuk pembangkit listrik batubara tersebut. Selain itu pembangkit listrik juga tidak harus tersentralisasi dengan kapasitas besar misalnya ratusan MW atau ribuan MW tetapi lebih tersebar dengan kapasitas kecil hingga menengah dengan bahan bakar biomasa khususnya yang diusahakan secara intensif dengan kebun energi yang bisa dibuat diberbagai pelosok nusantara. Teknologi gasifikasi dan fluidized bed adalah sejumlah teknologi yang bisa digunakan untuk pembangkit listrik skala kecil dan menengah dan menggunakan biomasa kayu sebagai bahan bakarnya. Bahkan tidak mustahil pembangkit listrik itu hanya seukuran kulkas.

Senin, 11 Maret 2019

Efisiensi Pembangkit Listrik Lebih Tinggi Menuntut Kualitas Bahan Bakar Lebih Tinggi

 
Saat kita hendak mengisi bahan bakar kendaraan kita di SPBU tentu kita memilih bahan bakar apa yang paling cocok dengan kendaraan kita. Kendaraan kita akan bisa berjalan dengan optimal jika menggunakan bahan bakar yang sesuai. Kualitas bahan bakar terlalu tinggi (over spec) ataupun terlalu rendah (under spec) hanya akan memberikan kinerja yang kurang optimal. Secara teknis kendaraan tersebut telah dirancang dengan rasio tekanan tertentu pada sistem pembakarannya, apabila bahan bakar dengan kualitas terlalu tinggi maka pada kompresi rendah menjadi sulit terbakar sempurna, dan demikian juga sebaliknya. Pada operasional kendaraan bahkan bahan bakar yang terbakar sebelum waktunya atau setelah waktunya akan menghasilkan performa yang tidak optimal. Bahan bakar dengan kualitas tinggi juga memiliki harga lebih tinggi sehingga secara ekonomi juga tidak menguntungkan, demikian juga dengan bahan bakar kualitas rendah, walaupun lebih murah tetapi performa juga dibawah standar.
Analogi diatas juga kurang lebih sama untuk pembangkit listrik. Semakin tinggi tingkat efisiensi semakin tinggi kualitas bahan bakar yang dipersyaratkan karena kondisi operasi juga di atas rata-rata biasanya, misalnya kompresi, temperatur dan sebagainya. Kalau pada bensin kualitas dinyatakan dengan angka oktan, atau pada solar atau minyak diesel kualitas dinyatakan dengan angka cetan, maka pada bahan bakar padat seperti wood pellet ukuran kualitas dinyatakan dengan nilai kalori. Unsur-unsur lain yang juga diperhatikan pada bahan bakar yakni unsur-unsur yang bisa merusak alat atau mesin yang digunakan. Khusus pada wood pellet kandungan potassium dan klorin yang tinggi bisa berefek buruk pada pembangkit listrik tersebut. Potassium akan menjadi deposit/fouling pada pipa boiler sehingga menurunkan efisiensinya, sedangkan khlorin yang bersifat korosif akan memperpendek umur pakai pembangkit listrik tersebut.


Pada tahun 2030 Jepang akan menerapkan penggunaan pembangkit listrik dengan efisiensi yang lebih tinggi yakni minimum 41% sedangkan sebagian besar efisiensi pembangkit listrik batubara saat ini berkisar 30-35%. Untuk mencapai tingkat efisiensi lebih dari 41% teknologi yang digunakan adalah ultra supercritical pulverized coal. Teknologi ultra supercritical pulverized coal pada dasarnya adalah pengembangan lanjut teknologi pulverized coal yang paling banyak digunakan oleh pembangkit listrik batubara atau lebih dari 95% di seluruh dunia. Perbedaan teknologi ultra supercritical pulverized dengan pulverized adalah pada penggunaan tekanan dan temperature lebih tinggi sehingga efisiensinya juga lebih tinggi. Modifikasi pembangkit listrik juga bisa dilakukan untuk peningkatan efisiensi tersebut. Penggunaan bahan bakar biomasa seperti wood pellet bisa dengan cara cofiring maupun full firing (100% wood pellet). Karakteristik bahan bakar yang digunakan juga akan berpengaruh pada teknologi boiler yang digunakan.
Kadar abu wood pellet yang dipersyaratkan untuk industri seperti pembangkit listrik bisa sampai 6% menurut pellet fuel institute (PFI) Amerika. Tetapi kimia abu menjadi pertimbangan penting pada pemakaian pembangkit listrik tersebut. Korea Selatan misalnya saat ini mensyaratkan kadar klorin maksimal 500 ppm (500 mg/kg) atau Jepang mensyaratkan kadar potassium maksimal 1000 ppm (1000 mg/kg). Hal ini membuat produksi wood pellet mengikuti spesifikasi tersebut apabila spesifikasi belum sesuai. Sejumlah pretreatment khusus perlu dilakukan untuk mencapai spesifikasi tersebut. Potensi wood pellet dari kebun energi di Indonesia sangat besar, demikian juga pellet fuel dari limbah pertanian atau perkebunan seperti tandan kosong sawit yang diperkirakan jumlahnya mencapai kurang lebih 38 juta ton per tahun. Tetapi sekali lagi spesifikasi pellet (wood pellet atau agro waste pellet) yang diproduksi perlu disesuaikan dengan kebutuhan pembangkit listrik di Jepang atau Korea Selatan - dua negara yang sangat tergantung dengan energi - tentunya apabila produsen pellet tersebut berorientasi export. pertanyaan selanjutnya pretreatment seperti apa yang perlu dilakukan pada produksi pellet tersebut? InsyaAllah kita bahas pada kesempatan yang lain.

Senin, 22 Mei 2017

Kebun Energi Gamal Pilihan Korea?

Ada banyak persamaan antara kaliandra dan gamal, antara lain keduanya merupakan kelompok leguminoceae, kayunya memiliki nilai kalor tinggi, mudah tumbuh, cocok dibudidayakan untuk kebun energi dengan kemampuan trubus cepat setelah dipanen kayunya, dan bisa diintegrasikan dengan usaha peternakan dengan memanfaatkan hijauan daunnya. Tetapi gamal (gliricidae sepium) lebih mudah dan banyak dijumpai di berbagai tempat. Hal ini karena gamal memiliki beberapa kelebihan dibanding kaliandra yakni sebagai pohon naungan, tanaman pagar dan tiang bangunan sederhana. Gamal juga bisa tumbuh diberbagai tempat dan jenis tanah, terbukti dari pinggiran laut sampai pegunungan tinggi. Sedangkan untuk sektor energi, kayu kaliandra memiliki kelebihan lebih cepat kering sehingga bisa segera dimanfaatkan atau lebih mudah untuk diproses lebih lanjut.
Sebagai kelompok leguminoceae baik gamal maupun kaliandra mampu menyuburkan tanah karena akarnya yang mampu mengikat nitrogen dari atmosfer, meningkatkan bahan organik tanah, perbaikan karakteristik fisik tanah, aerasi dan drainase, mengurangi erosi permukaan tanah, menurunkan temperatur tanah dan mengurangi penguapan air tanah. Tanah-tanah kritis, marjinal maupun lahan tidur akan bisa diperbaiki dengan tanaman leguminoceae tersebut. Masalah materi essential manusia seperti air, energi dan pangan juga bisa dicukupi dengan perkebunan tersebut. Seperti halnya kaliandra, untuk optimalisasinya gamal juga bisa diintegrasikan pada program 5F projects for the world!

Ketersediaan bahan organik pada berbagai tanaman perkebunan




Sejak menerapkan RPS  (Renewable Portofolio Standard)  tahun 2012 Korea berkomitmen untuk meningkatkan penggunaan energi terbarukan khususnya biomasa dan lebih khusus lagi wood pellet pada sektor energinya. Berdasar RPS tersebut Korea mensyaratkan PLTU batubara untuk minimum menggunakan 2% energi terbarukan pada 2012, dengan peningkatan 0,5% /tahun sampai 2020.  Pada tahun 2020 mereka akan membutuhkan minimum 10% energi terbarukan dengan komposisi diharapkan 60% energi terbarukan berasal dari biomasa kayu, sedangkan 40% sisanya dari sumber lain. Cangkang sawit (palm kernel shell) juga menjadi solusi jangka pendek dan menengah, dan wood pellet untuk jangka panjangnya. Sejak beberapa tahun lalu beberapa kebun energi gamal telah dibuat dengan bekerja sama dengan Korea. Walaupun sampai saat ini produksi wood pellet dengan gamal secara komersial belum terealisasi, tetapi nampaknya tidak akan lama lagi direalisasikan. Beberapa daya dorongnya antara lain ketersediaan cangkang sawit (palm kernel shell) terbatas, wood pellet dari bahan baku limbah-limbah kayu juga terbatas, dan biomass pellet dari berbagai limbah pertanian kualitasnya rendah serta sering membutuhkan berbagai treatment / proses sebelum dipelletkan. Nampaknya gamal akan segera dibudidayakan secara massif untuk memenuhi energi terbarukan di Korea.

Selasa, 12 Agustus 2014

Produksi Wood Pellet Dengan Integrasi Pemanfaatan Lahan Tidur Untuk Kebun Energi, Peternakan Sapi dan Sumber Biogas

Photo diambil dari sini
Kebutuhan wood pellet yang sangat besar dan dilain sisi juga luasnya lahan tidur di sejumlah tempat di Indonesia yang potensial dimanfaatkan sebagai kebun energi dengan output berupa kayu sebagai bahan baku wood pellet. Saat ini diperkirakan lebih dari 6 juta hektar lahan tidur di Indonesia. Sedangkan hijauan dari tanaman SRC (trubusan) seperti gliricidae (gamal) dan kaliandra akan bermanfaat sebagai pakan ternak yakni sapi. Untuk setiap hektarnya diperkirakan bisa menjadi sumber pakan sapi sebanyak sekitar 6 ekor. Apabila ada 5000 ha lahan tidur maka akan dihasilkan sekitar 100.000 ton kayu basah sebagai sumber bahan baku wood pellet dan memelihara 30.000 ekor sapi. Banyaknya jumlah sapi tersebut potensial sebagai sumber biogas untuk mencukupi sendiri kebutuhan energi usaha tersebut.



Akar dari tanaman SRC mampu mengikat nitrogen seperti jenis-jenis polong lainnya sehingga menyuburkan tanah. Akar tersebut mampu  melakukan hubungan simbiosis dengan bakteri yang ada di dalam tanah, yaitu Rhizobium  spp. Pohon menyediakan karbohidrat dan energi bagi bakteri rhizobia, dan rhizobia mengubah nitrogen dari atmosfer di  dalam tanah menjadi nitrogen yang dapat dimanfaatkan oleh akar pohon. Proses ini dikenal sebagai penambatan nitrogen,yang berlangsung pada bintil yang terbentuk di akar pohon. Bintil akar mestinya banyak, dan kalau dibuka di dalamnya berwarna merah atau merah-jambu. Jika bintil akar berwarna hijau, coklat atau hitam, bintil ini tidak mengikat nitrogen. Dan ditambah pupuk organik dari residue biogas sehingga tanah akan semakin subur dan keberadaan kebun semakin bisa diharapkan akan terus keberkesinambungannya.


Manajemen yang baik dengan didukung tim yang profesial dibidangnya akan menunjang keberhasilan bisnis nantinya. Produksi wood pellet bisa dijadikan prioritas nomer 1 atau unggulan, diikuti peternakan sapi dan biogas serta pupuk organik sebagai pendukung. Konsep zero waste, green industry dan berkesinambungan (sustainibility) terimplementasi dalam integrasi usaha ini.

Buah Kelapa Reject (Non- Standard) untuk Produksi Bioavtur / SAF

Organisasi penerbangan sipil internasional / International Civil Aviation Organization (ICAO) telah memasukkan kelapa non-standar di dalam p...