Selasa, 28 April 2015

Gelombang Energi Biomasa Dunia


Menurut organisasi FAO (Food and Agricultural Organization) produksi wood pellet pada tahun 2013 melebihi 22 juta ton dan lebih dari setengahnya diperdagangkan secara internasional dengan 80% dari produksi tersebut dikonsumsi oleh negara-negara Eropa. Faktor utama yang mempengaruhi hal tersebut adalah European Union's Renewable Energy Directive, yang menginstrusikan pemakaian energi terbarukan hingga 20% dalam bauran energi mereka pada tahun 2020. Sedangkan pada tahun 2024 produksi wood pellet global diprediksi 50 juta ton.

Perkembangan industri wood pellet yang sangat cepat sebenarnya bisa ditelusuri, yakni pada tahun 2007 ketika European Commision mengeluarkan program ambisius yakni  Renewable Energy Directive seperti tersebut diatas, dimana faktor pendorongnya pada awalnya adalah ratifikasi negara-negara dunia pada Protokol Kyoto. Selanjutnya dari  Renewable Energy Directive tersebut negara-negara di Eropa secara individual membuat mekanisme kebijakan sendiri untuk mencapai tujuan tersebut. Salah satu pendekatan yang murah dan efektif adalah mengurangi CO2 pada pembamgkit listrik yakni dengan mengganti sejumlah batubara yang dibakar pada pembangkit listrik dengan biomasa, yang utamanya adalah wood pellet. Para pembuat kebijakan tertarik dengan pendekatan diatas, karena akan menghasilkan percepatan implementasi daripada angin, matahari, air maupun panas bumi (geothermal). 


Di Inggris kebijakannya pada awalnya diatur dalam Renewables Obligation Program selanjutnya direvisi menjadi mekanisme Contracts-for-Difference (CfD), sedangkan di Belanda program sejenis  pada awalnya dikenal MEP dan selanjutnya juga direvisi yang saat ini bernama SDE-plus. Negara-negara di Asia juga perlahan mulai mengikuti, saat ini dua negara ekonomi kuat yakni Korea Selatan dan Jepang mulai menerapkannya. Program tersebut di Korea Selatan diatur dalam RPS (Renewable Portofolio Standard) dan Jepang menerapkan kebijakan dalam FIT (Feed-in-Tarrif).  Secara bertahap terlihat berbagai negara mulai mengikutinya. Sedangkan di Amerika Serikat dan Kanada, sebagian besar wood pellet digunakan untuk pemanas ruangan (residential/space heating) terutama pada musim dingin.

Ketakutan Deforestasi
Perkembangan produksi wood pellet yang masif tersebut banyak dikhawatirkan oleh sejumlah pihak akan memacu arus deforestasi atau penggundulan hutan termasuk kalangan scientist dan pemerhati kebijakan mempertanyakan apakah energi yang dihasilkan dari wood pellet mampu mencapai tujuan tersebut. Sebenarnya hal tersebut tidak perlu dirisaukan, apabila mengetahui proses produksi sekaligus harga jual wood pellet itu sendiri. Wood pellet yang dibuat dari bahan baku biomasa kayu bisa berasal dari limbah-limbah kayu ataupun kayu yang sengaja dibudidayakan melalui kebun atau hutan energi, tetapi dengan catatan bahwa harga biomasa kayu sebagai bahan baku wood pellet tersebut haruslah seharga kayu limbah. Apabila harga biomasa kayu melebihi harga kayu limbah dipasaran maka produksi wood pellet menjadi tidak ekonomis.

Pohon-pohon atau tanaman-tanaman hutan industri ataupun hutan rakyat akan menghasilkan kayu-kayu yang terutama untuk penggergajian, industri-industri pengolahan kayu seperti plywood, kayu pertukangan, mebel, konstruksi, atau bahkan CLT (cross laminated timber) dan sebagainya dengan harga jauh diatas kayu limbah tentunya. Pabrik wood pellet juga tidak akan membeli kayu-kayu tersebut karena alasan ekonomis. Sedangkan apabila hutan atau kebun energi maka tanaman atau pohon yang ditanam adalah tanaman cepat tumbuh sesuai tujuan untuk mendapatkan biomasa kayu dalam jumlah banyak dan waktu cepat dengan memanfaatkan lahan-lahan marginal atau lahan tidur, sehingga ekonomis untuk produksi wood pellet.

Kayu dari pohon sebagai sumber energi adalah merupakan bahan bakar karbon netral pada pembakaran. Hutan sebagai Carbon Sink jika kecepatan panen dan penggunaan kayu tidak melebihi kecepatan tumbuh pohon atau tanaman tersebut, dalam hal ini terutama hutan atau kebun energi. Selain itu setiap MWh listrik dari batubara juga mengeluarkan gas CO2 lebih banyak dibandingkan dari wood pellet, yakni   pada batubara dikeluarkan 150 kg CO2 sedangkan dengan wood pellet hanya 45 kg. Sehingga penggunaan wood pellet dikatakan juga merupakan aktivitas low carbon economy.


Peluang Indonesia
Indonesia memiliki peluang yang sangat besar untuk menangkap peluang ini, hal ini karena luasnya lahan yang tersedia, kesuburan tanah dan iklim tropisnya. Tanaman trubusan seperti kaliandra sangat cocok dibididayakan untuk mendapatkan bahan baku wood pellet tersebut. Jika pada kondisi di Eropa atau negara sub-tropis butuh waktu 4 tahun untuk panen kayu dari tanaman trubusan yakni poplar dan willow, maka di Indonesia hanya butuh waktu 1 tahun bagi kaliandra mencapai kondisi seperti poplar dan willow. Hutan atau kebun energi yang diintegrasikan dengan agro-forestry lainnya maupun peternakan sapi atau kambing menjadi daya tarik tersendiri. 

Senin, 13 April 2015

Pemanfaatan Kompos Sampah Kota Untuk Kebun Energi dan Peternakan Sapi

Saat ini permasalahan sampah kota telah melanda sebagian besar wilayah di Indonesia. Limbah organik sampah kota tersebut beberapa tempat diolah menjadi kompos yang dapat menyuburkan tanah. Pengomposan sampah kota adalah pilihan pengolahan sampah kota yang paling mudah dan murah, dibanding teknologi lainnya. Tetapi kompos yang dihasilkan dari limbah organik sampah kota yang terdiri dari bahan yang sangat beragam dan rentan berbagai kontaminan tidak bisa digunakan untuk pupuk tanaman pangan  tetapi bisa digunakan untuk sejumlah tanaman non-pangan. Kompos yang dihasilkan dari sampah kota jumlahnya cukup banyak sebanding dengan jumlah penduduk, sehingga perlu didistribusikan secara masif pula. Tanaman seperti kaliandra yang daunnya bisa digunakan sebagai pakan sapi sekaligus kayunya sebagai sumber energi biomasa, yang secara tradisional untuk kayu bakar. 

Kebun kaliandra harus dibuat cukup besar sehingga mampu untuk produksi komoditas eksport seperti wood pellet dan disatu sisi seluruh kompos yang dihasilkan juga bisa terserap dengan baik. Wood pellet adalah komoditas eksport yang kebutuhannya semakin meningkat setiap tahun seiring kesadaran untuk penggunaan energi terbarukan untuk mitigasi bencana dan perubahan iklim secara global. 

Saat ini banyak sekali kita temui peternakan sapi yang memanfaatkan sampah kota sebagai sumber pakan sapi-sapi tersebut. Hal ini tentu saja membahayakan bagi produk daging yang dihasilkan dari sapi tersebut. Sampah kota memiliki kandungan limbah organik sekitar 60% dengan komposisi sangat beragam dan banyak tercemar berbagai kontaminan. Sejumlah sapi yang memakan limbah tersebut ditemukan darahnya menjadi biru mengindikasikan bahwa banyaknya pencemaran logam berat dalam pakannya. Apabila dikonsumsi manusia maka deposit logam berat tersebut akan berpindah ke manusia sehingga akan mengakibatkan sejumlah penyakit berbahaya dalam rentang waktu tertentu.

Untuk mendukung peternakan sapi yang semula memakan sampah organik sampah kota lalu menjadi pemakan hijauan berupa daun kaliandra, maka luasan kebun yang akan dibuat juga harus sebanding dengan peternakan sapi yang akan dibudidayakan. Dengan hal ini maka daging sapi juga akan jauh lebih sehat dan layak konsumsi manusia, lalu sampah organik bisa dimanfaatkan untuk kebun kaliandra tersebut dan hasil kayunya untuk sumber energi biomasa.Multiplier effect diatas tentulah sangat menarik untuk segera diimplementasikan sehingga bisa memberikan keuntungan yang berkeadilan diantara semua pihak.

Minggu, 29 Maret 2015

Menentukan Kapasitas Pabrik Wood Pellet



Untuk menentukan kapasitas produksi dan membuat pabrik wood pellet tidak hanya melihat jumlah bahan baku yang tersedia saja. Sisi lain berupa kebutuhan pasar dan karakteristik pasar juga menjadi pertimbangan penting. Dan saat ini juga belum ada pabrik wood pellet di Indonesia dengan kapasitas produksi diatas 100.000 ton/tahun, walaupun dari sisi potensi untuk penyediaan bahan baku dan kebutuhan pasar sangat memungkinkan dan tidak menjadi masalah. Dibawah ini tabel produksi wood pellet dari negara-negara produsen utama dunia :




Saat ini pasar utama wood pellet dari Indonesia adalah Korea Selatan karena adanya peraturan pemerintah disana untuk pemakaian wood pellet, yakni di Renewable Portofolio Standard (RPS) sejak tahun 2012. Kompetitor lain dari Asia Tenggara seperti Vietnam, Thailand dan Malaysia juga mulai meramaikan pasar wood pellet. Dengan kondisi seperti itu pihak pembeli atau pasar umumnya mau membeli secara kontrak dengan kapasitas tertentu dan waktu tertentu. Sebagian besar pembeli melakukan praktek kontrak pembelian untuk kapasitas minimal 1000 ton/bulan selama minimal 6 bulan. Hal ini berdampak pada kapasitas pabrik wood pellet yang akan dibuat, yakni minimal 1000 ton/bulan. Kapasitas 1000 ton/bulan atau 40 ton/hari atau 2 ton/jam (20 jam operasi) pabrik wood pellet direkomendasikan sebagai kapasitas minimal pabrik wood pellet saat ini bagi para pengusaha yang akan berkecimpung pada produksi wood pellet.



Kebutuhan wood pellet diprediksi akan terus meningkat seiring trend global untuk pemakaian energi terbarukan, dengan prediksi pada tahun 2024 yakni  50 juta ton secara global atau untuk Korea Selatan saja lebih dari 3 juta ton. Dalam beberapa tahun lagi kebijakan seperti Korea Selatan akan diikuti beberapa negara ekonomi kuat di Asia.

Sabtu, 21 Maret 2015

Wood Pellet dan MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN)

Integrasi ekonomi diantara anggota ASEAN dalam MEA  (atau AEC = ASEAN Economic Community) yang rencananya akhir tahun ini akan dimulai, merupakan bentuk hubungan lanjut dari AFTA yang sifatnya lebih menyeluruh daripada sekedar perdagangan (trade). Integrasi paling tinggi pada aspek ekonomi seperti halnya di negara-negara yang tergabung dalam masyarakat ekonomi Eropa (MEE) adalah penyatuan mata uang, tetapi ini kelihatanya belum akan dilakukan dalam waktu dekat pada MEA. MEA ini membuat berbagai negara-negara ASEAN membuat suatu regulasi atau aturan bersama dalam wilayah kawasan ekonominya. Blok-blok perdagangan dan ekonomi memang banyak dibuat saat ini berdasarkan kawasan atau regional tertentu yang jelas juga memiliki tujuan tertentu juga. Integrasi atau penyatuan ekonomi dalam MEA tersebut membuat berbagai negara-negara ASEAN saling berlomba untuk meningkatkan daya saing untuk tetap bisa memimpin percaturan dalam regional tersebut. Indonesia dengan luas wilayah dan penduduk terbesar (sekitar 250 juta) ditambah melimpahnya sumberdaya alam adalah potensi ekonomi yang luar biasa atau negri zamrud katulistiwa ini akan menjadi fokus atau perhatian utama pada MEA.

Bonus demografi berupa jumlah penduduk usia produktif melebihi usia non-produktif juga akan faktor lain yang akan menambah daya tarik Indonesia, yang kondisi ini berkebalikan dengan kondisi negara-negara Eropa, Jepang dan negara-negara ekonomi kuat lainnya. Tentu dengan kondisi tersebut Indonesia seharusnya tidak hanya menjadi pasar berbagai produk luar negeri dan ekonomi kuat yang membuat neraca perdagangan tidak seimbang dan akan selalu membuat kondisi Indonesia semakin terpuruk. Peluang sekaligus tantangan akan dihadapi sehingga seharusnya perlu persiapan serius dan matang. Sejumlah negara ASEAN telah menyiapkan jauh-jauh hari untuk menghadapi MEA ini, tetapi Indonesia terlihat belum secara serius mempersiapkan untuk menghadapi MEA ini.



Wood pellet memiliki peran strategis dalam menghadapi MEA karena banyaknya permintaan seiring tingginya kesadaran pada mitigasi bencana, perubahan iklim dan pemanasan global. Luasnya lahan, suburnya tanah dan iklim tropis membuat bahan baku wood pellet yang bisa dibilang salah satu faktor kunci kesuksesan bisnis wood pellet, tidak sulit untuk diusahakan. Sejumlah kesatuan pengelolaan hutan (KPH) yang memang dipersiapkan untuk hutan tanaman industri (HTI) dan bisa dikerjasamakan dengan pihak swasta puluhan hingga ratusan ribu hektar tersedia. Selain itu jutaan hektar lahan marjinal dan lahan tidur juga sangat potensial, mengingat tanaman untuk bahan baku wood pellet ini juga sangat mudah tumbuh dan dibudidayakan. Pembuatan kebun energi atau istilah yang dipakai untuk kebun untuk produksi bahan baku wood pellet memiliki banyak keunggulan. Ekonomi yang dikembangkan pada usaha wood pellet adalah ekonomi yang rendah karbon. Pada prinsipnya membuat suatu usaha yang saling menguntungkan antara berbagai pihak dan tidak merusak alam sehingga bisa terus berkesinambungan harus dipegang kuat apapun yang akan dihadapi termasuk MEA ini.  

Selasa, 10 Maret 2015

10 Keuntungan Dengan Membuat Kebun Energi Untuk Produksi Wood Pellet



Keterjaminan pasokan bahan baku adalah salah satu faktor kunci dari keberhasilan usaha wood pellet. Ada 2 cara untuk mendapatkan bahan baku yang umum dilakukan saat ini :
a. Membeli dari pemilik atau sumber bahan baku.
b. Mengusahakan sendiri ketersediaan bahan sendiri.
Sedangkan cara ke-3 dan ini masih belum banyak dilakukan pengusaha wood pellet adalah dengan cara campuran atau mix, yakni sebagian mengusahakan sendiri ketersediaan bahan bakunya dan sebagian sisanya membeli dari pemilik atau sumber bahan baku.


Sedangkan ditinjau dari jenis biomasa bahan bakunya ada 2 macam, yakni
a. Biomasa kayu
b. Biomasa yang non-kayu seperti limbah-limbah pertanian (tandan kosong sawit, tongkol jagung, sekam padi dan sebagianya). Saat ini biomasa kayu masih menjadi prioritas untuk dipelletkan menjadi produk wood pellet karena sejumlah keunggulan dibanding biomasa non-kayu yang umumnya merupakan limbah-limbah pertanian, yang dimasukkan dalam kategori biomass pellet atau agri-waste pellet.  Perbandingan antara wood pellet dan biomass pellet / agri-waste pellet bisa dibaca disini.

Sedangkan biomasa kayu apabila ditinjau lebih khusus untuk produksi wood pellet maka sumber bahan baku dibedakan menjadi 2 macam :
a.  Limbah-limbah industri pengolahan kayu.
b. Kayu dari produk kebun energi.
Sedangkan ditinjau dari kekeringan bahan baku, maka ada bahan baku kering dan baha baku basah. Tingkat kekeringan bahan baku juga harus diatur sehingga bisa menghasilkan wood pellet berkualitas.



Kebun energi sebagai sumber bahan baku yang diusahakan sendiri memiliki banyak keunggulan, antara lain :

1. Kebun energi bisa dibuat sendiri sehingga kontrol bahan baku internal usaha wood pellet lebih mudah, seperti fluktuasi pasokan, perubahan harga pasar, tidak tergantung sumber-sumber kayu limbah dan sebagainya.

2. Produk samping dari kebun energi berupa hijauan bisa dimanfaatkan untuk peternakan seperti sapi atau kambing, dan peternakan lebam madu yang memanfaatkan bunga dari tanaman kebun energi.

3. Lokasi pabrik wood pellet bisa sangat dekat atau bahkan berada ditengah-tengah kebun energi (raw material oriented), sehingga biaya/harga bahan baku murah.

4. Kebun energi juga menyerap CO2 dari atmosfer (Carbon negative), aplikasi wood pellet merupakan Carbon neutral sehingga bisa masuk dalam perdagangan karbon, kegiatan mitigasi perubahan iklim melalui aforestasi (penanaman/penambahan stok karbon), dan pembangunan unit SFM (Sustainable Forest Management).


Photo-Photo Pembibitan Tanaman Kaliandra Untuk Pembuatan Kebun Energi Seluas 1200 ha


5. Pola penyediaan bahan baku mix (campur) dengan sebagian kebun energi milik perusahaan (inti) dan sebagian yang lain milik masyarakat (plasma) bisa dilakukan. Pola ini akan mengikutsertakan peran masyarakat dan mengembangkannya.

6. Penghasilan tambahan dengan memanfaatkan sela tanaman kebun energi dengan tanaman lain (model agroforestry) sehingga budidaya bersifat polikultur yang lebih tahan penyakit.

7. Lahan tidur atau bahkan lahan marginal yang jumlahnya jutaan hektar bisa dimanfaatkan secara efektif.

8. Menyuburkan dan memperbaiki kondisi tanah termasuk pencegahan erosi. Akar tanaman kaliandra yang berbentuk bintil-bintil mampu mengikat nitrogen sehingga menyuburkan tanah.

9. Tanaman cepat panen dan tumbuh (trubus) lagi, tanpa perlu penanaman ulang. Tanaman kebun energi seperti kaliandra hanya ditanam sekali lalu trubus atau tumbuh lagi setelah ditebang (panen) hingga puluhan tahun, hasil lebih banyak dan perawatan sangat mudah.

10. Pengembangan atau perbesaran kapasitas pabrik wood pellet sangat dimungkinkan selama lahan masih tersedia. Dan saat ini masih ada jutaan hektar yang potensial untuk pembuatan kebun energi tersebut.


Indonesia sebagai negara tropis dan tanahnya subur sangat potensial untuk pengembangan kebun energi dan juga produsen wood pellet terkemuka didunia.     

Rabu, 18 Februari 2015

Potensi Biomasa Untuk Produksi Bahan Kimia

Biomasa adalah sumber terbarukan berbasis karbon sehingga semua produk yang bisa diproduksi dengan bahan baku minyak dan gas bumi di industri petrokimia, juga bisa diproduksi dari biomasa di industri yang bisa dikatakan biorefinery dan sejenisnya. Senyawa kimia hidrokarbon yang paling digunakan dan diproduksi saat ini adalah etilene (ethylene). Pabrik petrokimia dengan produksi ratusan ribu hingga  jutaan ton per tahun banyak berdiri di seantero dunia. Dari senyawa etilene tersebut bisa dibuat banyak sekali produk terutama berbagai jenis plastik antara lain polyethylene (PE), polyethylene terephthalate (PET), polyvinyl chloride (PVC), polystyrene (PS) dan berbagai kimia organik lainnya. Produk-produk tersebut banyak sekali penggunaannya dalam kehidupan manusia seperti kemasan, transportasi, kelistrikan, elektronik, tekstil, konstruksi dan pengguna bahan kimia, pelapisan (coating) dan bahan perekat (adhesive).


Penggunaan terbesar ethylene terhitung sekitar 60% dari penggunaan global adalah untuk polyethylene, dengan jenis Low density polyethylene (LDPE), Linear low density polyethylene (LLDPE) dan High density polyethylene (HDPE). Konsumen pengguna terbesar kedua dari etilen adalah untuk ethylene oxide (EO) yang utamanya untuk membuat ethylene glycol.  Ethylene dichloride (EDC) dibuat dari klorinasi ethylene dan kemudian dipecah rantainya menjadi vinyl chloride monomer (VCM). Hampir semua VCM kemudian digunakan untuk membuat polyvinyl chloride (PVC) dengan aplikasi utama untuk industri konstruksi.  Ethylene dapat direaksikan dengan benzene untuk membuat ethylbenzene yang kemudian diproses lanjut menjadi styrene. Produk akhir dari styrene adalah polimer dan synthetic rubber seperti polystyrene, acrylonitrile-butadiene-styrene (ABS) dan styrene butadiene rubber (SBR).
 


Rute proses kimia pada dasarnya adalah sangat banyak dan lebih merupakan sisi “seni” bagi para perancang proses kimia terutama tergantung dari karakteristik bahan baku dan spesifikasi produk akhir yang menjadi target. Etilen dapat diproduksi dari gas metana. Pirolisis biomasa dan fermentasi limbah organik (proses biogas/bio-proses) akan dihasilkan gas terutama metana. Proses fermentasi biomasa mungkin akan dihasilkan jumlah gas metana lebih banyak tetapi proses produksi lebih lama. Hal ini karena proses biologi (bio-process) seperti fermentasi pada umumnya akan memakan waktu lebih lama daripada rute thermal (thermochemical) seperti pirolisis. Sedangkan pada industri petrokimia bahan baku untuk memproduksi ethylene sebagian besar menggunakan naphta. Harga gas metana dari proses tersebut dibandingkan gas metana dari tambang gas (LNG atau CNG) menjadi salah satu faktor penentu keekonomiannya. Metana dari proses pengolahan biomasa tersebut juga bisa diolah menjadi metanol.  Metanol dapat digunakan sebagai bahan baku produk kimia lainnya atau bahan bakar seperti bahan bakar jet. Tantangan terbesar untuk produksi bahan kimia dari biomasa saat ini adalah biaya produksi lebih rendah tetapi memiliki kualitas setara bahan kimia minyak bumi atau memberikan keunggulan lebih dengan biaya yang sama.

Rabu, 11 Februari 2015

Memilih Pembangkit Listrik Energi Biomasa



Sejumlah daerah di Indonesia masih banyak yang belum teraliri listrik terutama daerah terpencil atau pelosok, padahal listrik adalah bentuk energi yang sangat banyak pemanfaatannya sehingga memudahkan manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Sedangkan di sisi lain dengan luasnya daerah dan iklim tropis, Indonesia adalah sumber biomasa melimpah baik berupa limbah-limbah agroindustri/pertanian ataupun yang diusahakan dengan cara ditanam. Biomasa ini bisa digunakan sebagai sumber energi pembangkit listrik.


Ada sejumlah teknologi melalui proses thermal untuk menghasilkan listrik tersebut. Teknologi gasifikasi paling populer untuk tujuan tersebut dibandingkan dengan pembakaran (combustion) dan pirolisis. Hal ini karena teknologi gasifikasi bisa dirancang untuk kapasitas relatif kecil dan masih ekonomis, sedangkan pembakaran (combustion) khususnya pada jenis steam powerplant  hanya ekonomis dan efisien pada kapasitas pembangkit listrik cukup besar yakni lebih dari  1 MW, sedangkan pembakaran (combustion) pada sistem Organic Rankine Cycle (ORC) mampu untuk produksi listrik skala lebih kecil. Perbedaan steam powerplant  yakni menggunakan fluida berupa kukus atau steam sedangkan pada ORC memanfaatkan fluida organik yang mampu menguap pada temperatur rendah. Jenis fluida organik tersebut saat ini masih mahal dan teknologi ini  tergolong masih baru sehingga belum banyak dikenal sehingga belum tentu cocok untuk digunakan di daerah terpencil atau pelosok Indonesia. Sedangkan pirolisis lebih cocok untuk produksi material seperti arang, torrefied biomass atau biooil, yang dipakai sebagai bahan bakar atau bahan kimia, atau arang bisa diolah lanjut sebagai arang aktif

Teknologi gasifikasi inilah yang saat ini paling populer dan banyak digunakan untuk membangkitkan listrik dari biomasa. Dan apabila ditinjau lebih spesifik maka gasifikasi tumpukan tetap (fixed bed) dengan aliran udara downdraft –lah yang paling banyak digunakan karena terutama operasional lebih mudah dan syngas yang dihasilkan lebih bersih sehingga mudah dikondisikan sebagai bahan bakar generator untuk menghasilkan listrik.  Sedangkan gasifikasi fluidized bed banyak digunakan pada kapasitas pembangkit lebih besar dan bahan bakar limbah agroindustri/pertanian, karena alasan salah satunya kandungan klorin yang tinggi limbah agroindustri/pertanian yang korosif terhadap logam. 

Pabrik Sawit: Ganti Boiler Saja? Apa Sekaligus Mencari Solusi untuk Bebas Problem Tandan Kosong Sawit dan Keuntungan Tambahan ?

Seiring dengan bertambah luasnya perkebunan sawit di Indonesia yang saat ini sekitar 17 juta hektar, maka demikian juga pabrik sawit yang di...