Sabtu, 27 Desember 2014

Mau Produksi Wood Pellet atau Sawdust Briquette?

Biaya produksi untuk pembuatan wood pellet dengan sawdust briquette hampir sama. Alat-alat atau mesin untuk produksinya pun juga hampir sama. Keduanya juga menggunakan bahan baku yang umumnya adalah limbah kayu berupa serbuk gergaji. Keduanya juga punya pasar untuk konsumsi rumah tangga dan industri.

Bedanya wood pellet saat ini mempunyai pasar yang lebihbesar daripada sawdust briquette. Hampir semua pembangkit listrik yang melakukan program co-firing menggunakan wood pellet daripada sawdust briquette. Stove untuk penghangat ruangan juga sebagian besar dibuat untuk bahan bakar wood pellet. Oleh karena itu ada sejumlah pabrik wood pellet yang kapasitasnya sangat besar karena besarnya permintaan pasar tersebut, sedangkan pabrik sawdust briquette umumnya hanya memiliki kapasitas sedang saja.

Biasanya di luar negeri wood pellet dikemas dalam kemasan plastik beberapa kg untuk pasaran retail dan jumbo bag hingga curah untuk kebutuhan lebih besar. Sedangkan sawdust briquette biasanya dikemas dalam carton box dengan ada lapisan plastik didalamnya. Sawdust briquette biasa juga disebut heatlog, extruded fuel atau wood log. Selain jenis extruded atau screw briquette ada juga sawdust briquette jenis piston/ram, perbedaan antara briquette tersebut bisa dibaca di sini. Segmen pasar, besarnya kapasitas pabrik dan ketersediaan bahan baku adalah pilihan untuk produksi wood pellet atau sawdust briquette tersebut. 

Kamis, 20 November 2014

Campuran Komposisi Bahan Baku yang Homogen dan Kualitas Biomass Pellet dan Briket

Kualitas produk pemadatan biomasa (biomass densification) yani pellet dan briket diawali dengan seleksi bahan baku yang benar. Bahan baku juga harus memiliki konsistensi yang sama terus-menerus  supaya produk yang dihasilkan selalu standard an stabil. Dalam banyak kasus sulit untuk untuk mendapatkan bahan baku dari satu jenis bahan saja (single material) karena ketersediaan yang tidak mencukupi atau faktor lain, sehingga harus dari beberapa bahan baku (mixed material). Untuk hal tersebut diperlukan mixer atau alat pencampur untuk mendapatkan komposisi bahan baku yang sesuai, misalkan bahan baku terdiri 30% kayu keras dan sisanya kayu lunak.

Kapasitas pabrik wood / biomass pellet dan briket umumnya mulai 1 ton/jam hingga puluhan ton/jam-nya. Hal tersebut membutuhkan mixer yang mampu memenuhi untuk proses produksi tersebut, baik dari sisi kualitas dan kuantitas outputnya.  


Saat ini masih banyak ditemui yang masih melakukan pencampuran bahan baku tersebut secara manual seperti menggunakan sekop sehingga hasilnya masih belum optimal. Ada juga yang menggunakan bantuan alat mekanis seperti loader, walaupun hasilnya lebih baik dari cara pertama tetapi derajat homogenitas dan konsistensi masih bisa ditingkatkan dengan penggunaan mixer sesuai.

continuous muller
static mixer flow diagram
Static mixer
Mixer yang dibutuhkan adalah mixer jenis kontinyu sehingga kapasitasnya tercapai dan operasional lebih mudah.  Mixer jenis continuous muller (stationary shell) dan static mixer bisa digunakan untuk hal ini. Pada mixer jenis continuous muller dibutuhkan motor penggerak untuk menggerakkan pengaduk sedangkan pada static mixer tidak dibutuhkan motor penggerak. Proses pencampuran pada static mixer yakni dengan dilewatkan bahan baku tersebut didalamnya baik secara horizontal maupun vertical. Pertimbangan disisi teknis dan keekonomian menjadi faktor penting pemilihan alat tersebut.

Jumat, 03 Oktober 2014

Permintaan Wood Pellet Diprediksi Mencapai 50 Juta Ton Pada Tahun 2024



Sebagai energi alternatif wood pellet memiliki peningkatan permintaan cukup signifikan, walaupun dibanding energi primer yakni dari energi fossil prosentasenya juga belum seberapa. Sebuah studi menyatakan bahwa pada tahun 2014 estimasi permintaan wood pellet  hingga 23 juta ton dan pada tahun 2024 akan mencapai 50 juta ton secara global. Ketersediaan bahan baku dan keberlangsungan pasokannya tetap menjadi issue penting untuk suksesnya produksi wood pellet secara berkesinambungan. Sedangkan untuk pasar Eropa dan Amerika Utara adalah pasar utama diikuti kemudian oleh Asia. Eropa dan Amerika Utara mengunakan wood pellet sebagai pemanas ruangan (space heating) disamping untuk industri sedangkan Asia penggunaan wood pellet terutama untuk industri. 



Photo diambil dari sini
Studi tersebut berfokus pada European industrial market, European heating market, North American heating market, dan Asian industrial market. Prediksi permintaan global tersebut lebih detailnya sebagai berikut :
- European Industrial Markets—termasuk Belgia, Denmark, Belanda, Swedia dan Inggris.
- European Heating Markets—termasuk  Austria, Denmark, Prancis, Jerman, Italia dan Swedia
- Asian Industrial Markets—Termasuk Korea dan Jepang
- North American Markets—Termasuk Amerika Serikat dan Kanada
 
Diagram Carbon-Flow

Dilihat dari aspek lingkungan pemanfaatan bahan bakar wood pellet dari biomasa berkayu adalah strategi carbon neutral. Sedangkan pemanfaatan biomasa sebagai carbon negative dengan biochar tampaknya belum menjadi perhatian ataupun kombinasi carbon neutral dan carbon negative dengan pemanfaatan teknologi paling cocok untuk itu yakni continous slow pyrolysis nampaknya juga belum mengarah ke situ.

Minggu, 24 Agustus 2014

Wood Pellet untuk Green…Green World!

Tumbuhnya kesadaran manusia akibat kerusakan lingkungan berupa perubahan iklim dan pemanasan global menumbuhkan berbagai upaya untuk mengurangi besarnya dampak kerusakan lingkungan tersebut. Sumber penyebab kerusakan lingkungan tersebut karena keserakahan manusia melalui aktivitas ekonominya dengan mengeksploitasi alam secara berlebihan. Manusia hendaknya menjadi pengelola alam ini secara bijaksana bukan malah sebaliknya akibat kepentingan sesaat hawa nafsunya. Tumbuhnya kesadaran tersebut harus terus dipelihara dan diatur sedemikian rupa sehingga membuahkan berbagai upaya konkrit. Tanpa peraturan yang jelas dan mengikat aktivitas semua manusia dimuka bumi maka mustahil upaya perbaikan alam tersebut akan terlaksana dengan baik.



Kita saksikan saat ini berbagai perusahaan hingga negara ingin mendapat pengakuan sebagai perusahaan atau negara yang paling peduli masalah lingkungan tidak terkecuali di Indonesia. Dengan begitu mereka berlomba-lomba dengan program Go Green-nya seperti CO2 Reduction atau pengurangan emisi CO2 dan semacamnya. Dengan pengakuan tersebut umumnya mereka ingin mendapat tempat tersendiri  dikalangan konsumen ataupun mitra-mitra mereka sehingga produk ataupun program-program mereka nantinya juga mudah diterima kalangan-kalangan tersebut. Aktivitas tersebut juga menimbulkan aktivitas ekonomi baru yakni Green Economy. Seberapa besar Green Economy atau Green Business ini? Jawabnya tentu saja tergantung seberapa besar program mitigasi perubahan iklim dan lingkungan dalam entitas perusahaan atau negara yang bersangkutan hingga dalam lingkup global.


Wood pellet adalah salah satu solusi yang populer untuk mitigasi masalah lingkungan dan perubahan iklim tersebut. Wood pellet yang berasal dari biomasa kayu merupakan bahan bakar karbon netral dan merupakan sumber energi terbarukan dengan syarat biomasa kayu sebagai sumber bahan baku wood pellet tersebut  harus diusahakan secara berkesinambungan dan tidak merusak lingkungan. Ketersediaan bahan baku yang kontinyu adalah salah satu faktor kunci suksesnya usaha produksi wood pellet, sehingga karena keterbatasannya saat ini pellet tidak hanya  dari kayu tetapi juga dari limbah-limbah pertanian atau perkebunan yang bisa disebut biomass pellet atau agri-wastepellet. Kebun energi dengan tanaman trubusan atau SRC adalah salah satu cara menghasilkan biomasa kayu sebagai sumber bahan baku wood pellet lebih cepat dan bisa berkesinambungan. Potensi Indonesia sangat besar untuk kebun energi tersebut dan akan lebih baik bila diintegrasikan dengan sektor  yang lain. 

Selasa, 12 Agustus 2014

Produksi Wood Pellet Dengan Integrasi Pemanfaatan Lahan Tidur Untuk Kebun Energi, Peternakan Sapi dan Sumber Biogas

Photo diambil dari sini
Kebutuhan wood pellet yang sangat besar dan dilain sisi juga luasnya lahan tidur di sejumlah tempat di Indonesia yang potensial dimanfaatkan sebagai kebun energi dengan output berupa kayu sebagai bahan baku wood pellet. Saat ini diperkirakan lebih dari 6 juta hektar lahan tidur di Indonesia. Sedangkan hijauan dari tanaman SRC (trubusan) seperti gliricidae (gamal) dan kaliandra akan bermanfaat sebagai pakan ternak yakni sapi. Untuk setiap hektarnya diperkirakan bisa menjadi sumber pakan sapi sebanyak sekitar 6 ekor. Apabila ada 5000 ha lahan tidur maka akan dihasilkan sekitar 100.000 ton kayu basah sebagai sumber bahan baku wood pellet dan memelihara 30.000 ekor sapi. Banyaknya jumlah sapi tersebut potensial sebagai sumber biogas untuk mencukupi sendiri kebutuhan energi usaha tersebut.



Akar dari tanaman SRC mampu mengikat nitrogen seperti jenis-jenis polong lainnya sehingga menyuburkan tanah. Akar tersebut mampu  melakukan hubungan simbiosis dengan bakteri yang ada di dalam tanah, yaitu Rhizobium  spp. Pohon menyediakan karbohidrat dan energi bagi bakteri rhizobia, dan rhizobia mengubah nitrogen dari atmosfer di  dalam tanah menjadi nitrogen yang dapat dimanfaatkan oleh akar pohon. Proses ini dikenal sebagai penambatan nitrogen,yang berlangsung pada bintil yang terbentuk di akar pohon. Bintil akar mestinya banyak, dan kalau dibuka di dalamnya berwarna merah atau merah-jambu. Jika bintil akar berwarna hijau, coklat atau hitam, bintil ini tidak mengikat nitrogen. Dan ditambah pupuk organik dari residue biogas sehingga tanah akan semakin subur dan keberadaan kebun semakin bisa diharapkan akan terus keberkesinambungannya.


Manajemen yang baik dengan didukung tim yang profesial dibidangnya akan menunjang keberhasilan bisnis nantinya. Produksi wood pellet bisa dijadikan prioritas nomer 1 atau unggulan, diikuti peternakan sapi dan biogas serta pupuk organik sebagai pendukung. Konsep zero waste, green industry dan berkesinambungan (sustainibility) terimplementasi dalam integrasi usaha ini.

Jumat, 08 Agustus 2014

Persaingan Pasar Global Wood Pellet

Permintaan wood pellet yang massif terutama dari Korea Selatan sebagai pasar utama wood pellet telah mendorong pertumbuhan industri wood pellet di kawasan Asia Tenggara. Indonesia, Malaysia, Thailand dan Vietnam adalah negara-negara yang merespon positif permintaan wood pellet dari Korea Selatan tersebut. Pertumbuhan industri wood pellet di tiap-tiap negara berbeda kecepatannya tergantung dari kesiapan industri, ketersediaan bahan baku dan kemudahan berbagai sarana penunjang bisnis lainnya. Walaupun Indonesia tergolong lambat merespon permintaan wood pellet tersebut, tetapi sebenarnya Indonesia memiliki peluang sangat besar untuk memimpin industri ini dikarenakan potensi ketersediaan bahan baku melimpah baik dari limbah-limbah kayu maupun diusahakan dengan cara membuat kebun atau hutan energi.

Potensi luar biasa yang dimiliki Indonesia dilirik Korea untuk dipacu meningkatkan volume eksport wood pelletnya ke Korea, yang artinya pertumbuhan industri wood pellet harus dipercepat. Semakin besar permintaan dan kurangnya suplai mendorong harga wood pellet mahal, sehingga semakin banyak industri tumbuh untuk mendapatkan momentum saat ini, yakni ketika permintaan sangat besar sedangkan suplai-nya minim. Limbah-limbah industri perkayuan yang awalnya menjadi masalah saat ini mulai dilihat sebagai bahan baku potensial untuk bahan baku industri wood pellet ini.

Pasar wood pellet akan semakin baik jika kesadaran global terhadap pemakaian energi terbarukan khususnya biomasa semakin baik dan diusahakan secara berkelanjutan atau secara global negara-negara berlomba untuk menurunkan suhu bumi.  Untuk pasar wood pellet di Asia,selain Korea kini  Jepang juga sudah mulai menggeliat.  Ketersediaan biomasa berkayu untuk produksi wood pellet dan apabila bahan baku diusahakan lewat kebun atau hutan energi memerlukan waktu lebih lama, telah membuat pellet dari biomasa lainnya seperti pellet dari tandan kosong sawit (EFB Pellet) juga telah diterima, karena desakan kebutuhan  saat ini. Jika kesadaran terhadap lingkungan dan perubahan iklim telah dipahami dan dimplementasikan dalam peraturan lingkungan atau energi secara global maka trend industri atau bisnis wood pellet  pada khususnya dan biomass to energy pada umumnya akan semakin berkembang dan bertahan cukup lama.

Minggu, 20 Juli 2014

Cost to Benefit Ratio pada Pabrik Wood / Biomass Pellet

Pabrik wood atau biomass pellet mempunyai peran vital pada produksi wood atau biomass pellet.  Target produksi dengan kualitas standard & stabil hanya bisa dicapai apabila pabrik wood atau biomass pellet bekerja secara optimal. Penggunaan mesin-mesin yang berkualitas merupakan salah satu sarana supaya proses produksi berjalan secara optimal tersebut. Beberapa kriteria untuk membantu pemilihan mesin-mesin untuk pabrik wood atau biomass pellet antara lain :

1.       Telah terbukti dan teruji, secara kualitas dan kuantitas.
2.       Kemudahan dalam operasional dan perawatan.
3.        Kemudahan start up hingga produksinya stabil.
4.       Awet dan bandel, sehingga jarang terjadi masalah dan efektif untuk waktu untuk alat produksi dalam jangka waktu yang lama.
5.       Memenuhi aturan “3 x 3” yakni mesin-mesin tersebut telah digunakan di 3 tempat berbeda dengan waktu operasional lebih dari 3 tahun.
6.       Layanan purna jual yang handal seperti kemudahan mendapatkan spare part dan bahan-bahan pembantu proses lainnya serta solusi cepat jika sewaktu-waktu terjadi masalah pada operasional pabrik. Bahkan telah ada juga pabrik wood atau biomass pellet yang terkoneksi internet dan bisa melaporkan berbagai masalah yang terjadi pada pabrik tersebut dengan sangat cepat sehingga bisa diambil tindakan dengan cepat pula.
7.  Aspek Safety yang baik dan dampak polusi lingkungan yang minimum 

Memang mendapatkan penyedia mesin-mesin pabrik wood atau biomass pellet yang memenuhi persyaratan-persyaratan di atas bukanlah hal yang mudah apalagi  di Indonesia khususnya, industry wood atau biomass pellet adalah hal yang baru. Para calon produsen wood atau biomass pellet harus cukup jeli memperhatikan hal ini, apalagi hanya sekedar diiming-imingi harga murah saja, tanpa berpikir lebih jauh untuk orientasi jangka panjang.

Memang tidak ada jaminan bahwa sesuatu yang mahal pasti memberikan hasil lebih baik, begitu juga untuk mesin-mesin pabrik wood atau biomass pellet ini. Tanpa mengindahkan sejumlah kriteria diatas bisa jadi anda hanya mengalami kerugian karena mengeluarkan biaya yang besar untuk pembelian mesin-mesin tersebut, tetapi hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Mesin-mesin pabrik wood pellet yang memenuhi kriteria   diatas biasanya harganya cukup mahal, tetapi cost to benefit ratio-nya baik sehingga pada umumnya akan memberikan keuntungan yang baik pula. Optimasinya adalah bagaimana mendapatkan mesin-mesin wood atau biomass pellet yang memenuhi kriteria  diatas dengan harga yang cukup terjangkau. Hal ini bisa dilakukan salahsatunya dengan meng-import mesin-mesin yang vital saja pada pabrik wood atau biomass pellet dan sisanya dibuat didalam negeri. 

Buah Kelapa Reject (Non- Standard) untuk Produksi Bioavtur / SAF

Organisasi penerbangan sipil internasional / International Civil Aviation Organization (ICAO) telah memasukkan kelapa non-standar di dalam p...