Rabu, 21 Agustus 2019

Besek Bambu dan Bioeconomy


Besek bambu telah lama dikenal masyarakat sebagai bahan untuk mengemas berbagai makanan. Penggunaannya saat ini mulai berkurang seiring penggunaan plastik untuk mengemas makanan. Plastik adalah bahan polimer yang saat ini hampir semua berasal dari minyak bumi pada awalnya merupakan penemuan luar bisa yang spektakuler sehingga. material yang sangat diharapkan bisa banyak digunakan dalam kehidupan manusia termasuk menggantikan logam yang berat, tidak tahan karat, harga mahal dan sebagainya. Juga plastik tersebut bisa mensubtitusi penggunaan bahan-bahan alami untuk mengemas makanan seperti daun dan besek bambu. Plastik memang sangat banyak digunakan dalam kehidupan manusia dengan variasi kualitasnya yang juga sangat beragam. Plastik dengan kualitas tinggi juga harganya mahal dan penggunaannya juga sangat spesifik. Penggunaan plastik sebagai pengemas makanan dan juga membawa barang memang sangat praktis, ringan dan murah. Hal ini membuat konsumsi plastik untuk keperluan tersebut sangat besar atau diperkirakan mencapai 5,5 juta ton/tahun. Ternyata dari sisi lingkungan penggunaan plastik tersebut banyak menimbulkan masalah yakni pencemaran lingkungan karena perlu waktu sangat lama hingga ratusan tahun untuk mendekomposisi secara alamiah. Microplastic dari hasil peruraian plastik juga banyak berbahaya khususnya bagi kesehatan.

Indonesia bahkan menempati peringkat kedua dalam hal pencemaran plastik di lautan atau peringkat kedua setelah China, tentu ini menjadi keprihatinan tersendiri. Hal tersebut tentu banyak menimbulkan masalah lingkungan walaupun di laut sekalipun seperti mengganggu pertumbuhan biota laut misalnya terumbu karang, dan penyu. Banyak banjir juga terjadi akibat tersumbatnya saluran air dan setelah dicermati akibat banyaknya sampah plastik. Sampah plastik tersebut juga akan mencemari tanah hingga puluhan atau ratusan tahun, sehingga tentu berdampak bagi lingkungan. Saat ini sangat banyak yang mengeluhkan masalah plastik tersebut bahkan ada wacana untuk membatasi dan melarang termasuk memajakinya. Tentu saja hal tersebut berpotensi akan menurunkan penggunaan plastik tetapi tanpa ada solusi efektif maka peraturan juga tidak akan efektif. Pirolisis adalah proses thermal yang bisa digunakan untuk mengatasi limbah plastik tersebut. Tetapi karena teknologi ini masih mahal sehingga belum banyak digunakan.
Geplak Bantul
Kembali ke besek bambu, apabila pengemasan makanan kembali ke bahan-bahan alami tentu penggunaan plastik bisa dikurangi. Geplak adalah makanan tradisional khas Bantul, Yogyakarta yang biasanya masih menggunakan besek bambu. Seiring meningkatnya minat masyarakat saat ini terhadap makanan-makanan tradisional seharusnya diikuti pula penggunaan pengemasan berbahan alami seperti penggunaan besek bambu tersebut. Baru-baru ini besek bambu juga sempat mendapat perhatian masyarakat karena himbauan Gubernur Jakarta, Anies Baswedan untuk menggunakan besek bambu untuk distribusi daging kurban pada Idul Adha 1440 H kemarin. Hal ini adalah suatu terobosan dan lompatan jitu untuk kembali mempopulerkan besek bambu. Apabila besek bambu semakin meningkat penggunaannya maka kebutuhan bambu sebagai bahan bakunya juga otomatis meningkat. Untuk itu kebun-kebun bambu perlu dibuat untuk menjaga keberlangsungan supplainya, untuk lebih detail bisa dibaca disini. Bahkan pohon bambu bisa memenuhi 9 poin dari 17 poin dari Sustainable Development Goals (SDGs) yang merupakan negara-negara yang bernaung dibawah PBB, untuk lebih detail bisa dibaca disini.

Katun bambu, photo diambil dari sini
Kebun bambu ternyata memiliki banyak manfaat lingkungan salah satunya untuk konservasi air dan menahan erosi. Bambu juga bisa terus dipanen sepanjang tahun setelah berumur 5 tahun selama 25 tahun atau masa produktifnya. Penggunaan bambu juga tidak hanya untuk kemasan makanan seperti besek bambu tersebut tetapi juga untuk berbagai hal lain. Pada dasarnya masyarakat Indonesia pada umumnya juga telah sangat familiar dengan bambu hanya saja pada era bioeconomy produksi /budidaya dan pengolahannya bisa dioptimalkan. Sejumlah penggunaan bambu yang cukup advance adalah dashboard Toyota Lexus, langit-langit di bandara Barajas, Madrid, Spanyol dan sepeda sport. Bambu seperti halnya biomasa kayu-kayuan lainnya juga bisa sebagai bahan baku pulp and paper, tekstile,  bioenergy (pellet & briket), biomaterial dan sebagainya. Bahkan sebuah rumah yang dibuat dengan papan bambu yang dibuat dengan proses khusus ternyata kualitasnya tidak kalah dengan perumahan mewah.

Jumat, 16 Agustus 2019

Momentum Kebun Energi Tidak Akan Lama Lagi

Seiring meningkatnya harga minyak dunia (pernah mencapai harga $30/barrel pada awal 2016) dan juga tekanan akibat kerusakan lingkungan dari pembakaran fossil maka penggunaan energi terbarukan khususnya biomasa semakin mendapat perhatian. Sejumlah biomasa sudah banyak digunakan untuk sumber energi seperti cangkang sawit (PKS / Palm Kernel Shell) dan wood pellet. Semakin baik karakteristik bahan bakar biomasa akan semakin banyak dicari dan digunakan. Semakin banyak digunakan berarti akan semakin terbatas ketersediaannya, sehingga perlu upaya penyediaannya. Sebagai sumber energi terbarukan tentu bukan hal sulit untuk menyediakan jenis energi tersebut. Urutan penyediaan bahan bakar biomasa akan tergantung pada permintaan, ketersediaan dan proses produksinya. Sebagai contoh cangkang sawit ditinjau dari permintaan besar, ketersediaan berlimpah dan proses produksi atau pengolahannya mudah sehingga bisa digunakan juga sangat mudah,  sehingga menjadi prioritas utama. Sedangkan wood pellet walaupun permintaan besar dan ketersediaan bahan baku juga melimpah tetapi membutuhkan proses produksi yang tidak sederhana sehingga menjadi prioritas kedua. Tentang pemanfaatan tandan kosong dan batang sawit bisa dibaca disini, disini dan disini. Selanjutnya sejumlah limbah biomasa perkebunan seperti tandan kosong sawit, pelepah dan batangnya yang jumlahnya juga berlimpah akan menjadi prioritas berikutnya.
Kebun energi walaupun membutuhkan rute lebih panjang, diyakini tidak akan lama lagi menemukan momentumnya.  Hal tersebut karena dengan kebun energi selain kapasitas supply lebih stabil dan terjamin juga kemampuan supply hingga puluhan tahun. Keamanan supply tersebut menjadi hal vital bagi suatu proses produksi misalnya produksi wood pellet, hingga pengguna akhir seperti pembangkit listrik. Indonesia dengan iklim tropis dan tanah luas banyak tersedia menjadikan potensi pengembangan kebun energi sangat potensial dan strategis. Hanya butuh waktu 1 tahun untuk menghasilkan kayu dari kebun energi di Indonesia sementara butuh waktu 4 tahun di negara sub-tropis. Walaupun kebun energi kemungkinan besar menjadi pilihan terakhir setelah pemanfaatan sejumlah limbah pertanian yang jumlahnya masih melimpah saat ini, tetapi diyakini tidak akan lama lagi akan banyak dikembangkan dan saat ini sudah ada sejumlah perusahaan yang mencanangkan kesana.
Pengembangan kebun energi juga memiliki kelebihan berupa manfaat lingkungan yakni meningkatkan kesuburan tanah, konservasi air dan penyerapan karbon. Manfaat lain lagi dari kebun energi adalah sektor pangan, khususnya melalui peternakan domba/sapi dan peternakan lebah madu. Supplai daging Indonesia yang masih rendah butuh pasokan dari dalam negeri dan juga peluang exportnya yang besar. Daun-daun dari kebun energi bisa sebagai sumber pakan ternak dan di lokasi yang sama dibuat padang penggembalaan, untuk memperjelas bisa dibaca disini. Optimalisasi kebun energi dengan integrasi peternakan sehingga terjadi semacam hubungan ketergantungan saling menguntungkan akan memberi manfaat yang optimal pula, baik secara ekonomi, sosial dan lingkungan. Pengembangan tersebut adalah pendekatan yang komprehensif, sebagai pendekatan terbaik untuk mencapai manfaat dan keseimbangan lingkungan terbaik serta bukan pengembangan parsial yang cenderung merusak lingkungan itu sendiri. Mari kita bersama-sama menciptakan peluang ini sekaligus menangkap dan menggarapnya. Secara lebih sistematis dan komprehensif berikut sejumlah indikator yang menjadi daya dorong percepatan implementasi kebun energi tersebut
:

1.      Permintaan bahan bakar biomasa dari pasar internasional semakin besar seiring kesadaran tentang lingkungan dan perubahan iklim. Dan khusus Asia saat ini Jepang dan Korea adalah konsumen / user terbesar bahan bakar biomasa khususnya wood pellet serta Eropa juga pengguna terbesar selanjutnya.  Tentang karakteristik pasar Korea dan Jepang dalam mengimport wood pellet ada sedikit perbedaan untuk lebih detail bisa dibaca disini.

2.      Melemahnya sektor ekonomi di Indonesia akibat tidak mandiri dan sangat tergantung pada utang luar negeri dalam membangun infrastruktur dan ekonomi dalam negeri. Hal tersebut terlihat dari rendahnya pertumbuhan ekonomi yakni sekitar 5%, bangkrut dan hancurnya perusahaan-perusahaan negara termasuk industri-industri strategis dan tingginya angka pengangguran.

3.      Investasi untuk kebun energi dan produksi wood pellet jauh lebih murah dibandingkan perkebunan sawit, selain itu hanya dibutuhkan waktu singkat yakni 1 tahun saja untuk bisa produksi untuk kebun energi tersebut. Produksi kayu dari pohon kayu-kayuan membutuhkan waktu hingga puluhan tahun untuk bisa dipanen, sehingga praktis tidak ada pemasukan selama puluhan tahun tersebut. Untuk itu peluang usaha baru pada sektor strategis khususnya energi, kehutanan dan pangan menjadi perhatian baru apalagi dengan investasi lebih kecil dan berorientasi jangka panjang.
4.      Dengan iklim tropisnnya Indonesia sangat potensial pengembangan kebun energi, bahkan lebih baik dibandingkan potensi solar photovoltaic atau energi matahari, untuk lebih detail bisa dibaca
disini. Secara teknis budidaya kebun energi juga lebih mudah dan cepat daripada perkebunan sawit dan semacamnya. Tetapi Sri Lanka bisa jadi akan mendahului Indonesia tentang ini, lebih detail baca disini.

5.      Kebun energi akan menyerap CO2 atau gas rumah kaca dari atmosfer, menahan erosi tanah,konservasi air dan menyuburkan tanah.Manfaat lingkungan yang tidak ternilai harganya.

6.      Integrasi dengan peternakan ruminansia (domba & sapi) serta peternakan lebah madu akan mengoptimalkan pemanfaatan lahan tersebut, terjadi keseimbangan lingkungan dengan pemanfaatan kotoran ternak tersebut untuk pupuk kebun energi serta mendorong swasembada daging (baca : pemerintah import daging kerbau 100.000 ton dan jika industri wood pellet 100% dikuasai asing) sehingga pemanfaatan kebun energi untuk produksi wood pellet & integrasi dengan peternakan tersebut sebagai salah satu upaya menghindari atau mencegah penguasaan asing dan aseng yang berlebihan terhadap tanah-tanah di Indonesia yang tidak berpihak pada mayoritas pendududuk Indonesia itu sendiri.

7.      Banyaknya lahan-lahan tidur, lahan-lahan marjinal dan lahan-lahan kritis yang perlu segera dimanfaatkan sebagai solusi energi, pangan, lingkungan, ketenagakerjaan dan sosial.

8.      Sebagai entry point menyambut era bioeconomy yang akan segera menggantikan era fossil economy.

Senin, 12 Agustus 2019

Abu Pembakaran Limbah Sawit Sebagai Biomaterial Konstruksi Beton

Cangkang dan sabut kelapa sawit biasa digunakan untuk bahan bakar pada pabrik kelapa sawit untuk produksi listrik dan steam untuk sterilisizer. Hasil samping dari pembakaran berupa abu banyak dihasilkan oleh proses tersebut. Suatu pabrik sawit bisa menghasilkan 5 ton/hari atau lebih abu tersebut tergantung jumlah yang dibakar karena kadar abu rata-rata dari limbah sawit tersebut berkisar 5%. Sebagian besar pabrik sawit tidak memanfaatkan abu sisa pembakaran tersebut tetapi hanya membuangnya begitu saja. Padahal abu tersebut sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk berbagai keperluan salah satunya yakni sebagai biomaterial pengganti pasir pada berbagai proyek konstruksi bangunan. Lokasi-lokasi pabrik-pabrik sawit atau masyarakat sekitar yang berada di pedalaman banyak yang kesulitan mendapatkan pasokan pasir untuk pembuatan berbagai bangunan, sehingga dengan adanya abu tersebut sebagai subtitusi pasir maka akan terbantu.
Unit boiler pada pabrik sawit
Saat ini juga sejumlah industri dalam negeri telah mulai menggunakan bahan bakar biomasa, sebagai bahan bakar yang ramah lingkungan. Cangkang sawit atau PKS (palm kernel shell) adalah salah satu bahan bakar biomasa favorit saat ini. Salah satu hal yang menarik dari cangkang sawit adalah sifat-sifatnya yang mirip dengan wood pellet, tetapi dengan harga yang lebih murah. Abu dari cangkang sawit tersebut sama halnya dengan abu dari pabrik sawit juga bisa digunakan untuk subtitusi pasir untuk berbagai proyek konstruksi bangunan. Lokasi industri-industri yang berada di perkotaan sehingga pemanfaatan abu tersebut juga bisa sejalan dengan berbagai konstruksi pembangunan kota tersebut seperti pembangunan jalan, gedung-gedung bertingkat dan landasan pesawat terbang. Walaupun abu tersebut tidak bisa menggantikan 100% pasir tetapi akan cukup membantu menghemat biaya dengan sekitar 25% disubtitusi dengan abu tersebut.

Kandungan Senyawa Utama Dalam Pasir
Kandungan Senyawa Utama Abu Kerak Boiler (Bottom Ash)
 Abu cangkang kelapa sawit sendiri mengandung silika yang tinggi yakni sekitar 60%, sedangkan campuran abu dari cangkang dan sabut kelapa sawit pada tungku boiler mengandung SiO2 sekitar 30%. SiO2 berfungsi sebagai bahan pengisi pada pembuatan beton yang akan berpengaruh dalam kekuatan beton.Sedangkan komposisi kandungan senyawa utama pada pasir terlihat bahwa SiO2 mempunyai komposisi yang relatif besar. Lumpur dalam pasir adalah pengotor sehingga kadar lumpur pada pasir tidak boleh melebihi 5%. Kadar lumpur yang lebih dari 5% mengakibatkan ikatan hidrogen pasta semen dan pasir berkurang akibat pengaruh lumpur sebagai pengotor.Abu kerak boiler dapat digunakan sebagai bahan pengganti pasir dalam pembuatan beton karena memiliki senyawa yang berperan dalam pembuatan beton. Jika hendak digunakan sebagai bahan subtitusi semen, suatu material haruslah mengandung senyawa kapur dalam jumlah yang relatif besar karena pada dasarnya semen berfungsi sebagai pengikat dan yang terutama menjalankan fungsi tersebut adalah senyawa kapur. Kandungan SiO2,Al2O3, dan CaO yang terkandung pada abu kerak boiler yang diperlukan dalam pembuatan beton.

Hasil massa jenis abu sebesar 2,11 g/cm3, lebih rendah dari massa jenis yang dimiliki pasir. Menurut ASTM C128-93, massa jenis yang baik untuk pembuatan beton di atas 2,50 % sehingga termasuk agregat kasar. Nilai penyerapan air yang dihasilkan abu kerak boiler memenuhi syarat mencegah atau mengurangi rongga kosong dalam beton. Batas maksimum kandungan SiO2 yang terdapat pasir untuk pembuatan beton berkisar 30%, sehingga abu kerak boiler ini termasuk dalam agregat yang baik dan memenuhi standar pengganti parsial pasir. Berdasarkan komposisi kandungan kimia, abu kerak boiler lebih unggul dibandingkan pasir karena CaO dalam abu berperan membantu semen sebagai bahan pengikat. Demikian pula Al2O3 sangat berpengaruh dalam mempercepat pengerasan pada beton.
Comprehensive concrete strength tester

Apabila dihitung potensinya abu dari limbah sawit tersebut juga cukup besar potensinya. Katakan dengan 1000 pabrik sawit yang beroperasi di Indonesia dengan masing-masing pabrik menghasilkan 5 ton/hari abu maka sehari 5000 ton abu atau sebulan 150.000 ton abu. Sedangkan kelebihan cangkang sawit dari pabrik sawit yang bisa dimanfaatkan oleh industri lain di Indonesia diperkirakan mencapai 11 juta ton yang berarti potensi abu yang bisa dihasilkan yakni 550 ribu ton. Di samping itu perbedaan antara abu dari limbah sawit yang tergolong abu biomasa dengan abu batubara adalah abu cangkang tidak termasuk limbah B3 sehingga handling lebih mudah sedangkan abu batubara termasuk limbah B3 yang handlingnya lebih sulit. Abu cangkang sawit juga berasal dari biomasa yang merupakan sumber terbarukan (renewable resource) sedangkan batubara dari kelompok non-renewable resource.

Referensi : Pemanfaatan Abu Kerak Boiler Hasil Pembakaran Limbah Kelapa Sawit SebagaiPengganti Parsial Pasir pada Pembuatan Beton

Kamis, 18 Juli 2019

Startup Business Berbasis Peternakan Domba

Daging domba adalah daging terbaik untuk konsumsi manusia. Para Nabi dan Rasul utusan Allah SWT pastilah pernah menjadi penggembala domba ini. Ada banyak hikmah dari aktivitas menggembala tersebut, untuk lebih detail bisa dibaca disini. Semakin meningkatnya konsumsi daging domba bahkan menjadi makanan favorit adalah suatu hal yang menggembirakan. Sejumlah warung-warung sate dan juga menawarkan sejumlah masakan daging domba selalu ramai dikunjungi. Diperkirakan sekitar 250 warung sate dan olahan domba tersebut tersebar diseluruh Yogyakarta. Tingginya minat dan konsumsi daging domba juga pasti berefek pada tingginya pasokan domba yang dibutuhkan. Kota-kota lain di Indonesia seharusnya juga mengikutinya. Tentunya ini akan menjadi peluang menarik termasuk dengan pola startup business. Bahkan ketika supply domba semakin besar, pasar export juga siap menanti.
Budidaya rumput tentu bukan hal sulit, bahkan tanpa ditanam pun rumput telah tumbuh lebat dan memenuhi kebun kita. Rumput yang tidak dikelola tersebut hanya mengganggu dan menimbulkan masalah. Tetapi sebaliknya jika pertumbuhan rumput tersebut dirancang dan dikelola dengan baik sehingga menjadi area penggembalaan domba tentu akan lain ceritanya. Pada industri peternakan apapun faktor pakan adalah komponen biaya tertinggi. Jika domba tersebut dikelola dengan digembala di padang rumput tersebut maka biaya pakan akan bisa diminimalisir sehingga keuntungan menjadi maksimal. Penggembalaan rotasi (rotation grazing) adalah teknik penggembalaan yang bisa untuk memaksimalkan keuntungan tersebut.
Selain rumput yang bisa dikatakan sebagai makanan pokok bagi domba-domba tersebut, makanan tambahan berupa supplement juga dibutuhkan untuk mendapat kualitas daging terbaik. Kebun energi seperti kebun kaliandra bisa sebagai pendukung peternakan domba tersebut. Daun-daun dari panen kebun energi bisa digunakan untuk pakan tambahan tersebut. Daun kaliandra dengan kandungan protein tinggi akan menjadi pakan bergizi bagi domba-domba tersebut. Selain itu kayu-kayu dari kebun energi juga bisa digunakan untuk produksi arang briket (sawdust charcoal briquette). Dengan menggunakan arang yang dibuat dari kayu kebun energi itu berarti tidak merusak lingkungan seperti menebang kayu hutan dan sebagainya. Kualitas arang briket (sawdust charcoal briquette) juga lebih baik dibandingkan arang biasa yang tidak dibriketkan, karena lebih padat, ukuran seragam dan waktu nyala lebih lama.
Pada kapasitas besar domba-domba tersebut juga bisa menjadi komoditas export. Padang-padang rumput yang luas dan kebun-kebun energi bisa banyak dibuat untuk tujuan export tersebut. Pemanfaatan teknologi semakin dibutuhkan untuk kapasitas besar tersebut misalnya drone untuk memantau dan mengawasi pergerakan domba tersebut. Lokasi di luar Jawa dan bahkan bisa diintegrasikan dengan perkebunan besar memiliki potensi sangat besar, untuk keterangan tambahan bisa dibaca disini. Indonesia sebagai pemilik perkebunan sawit terbesar di dunia dengan luas mencapai 12 juta hektar sangat potensial mengintegrasikan peternakan domba ini. Sebelumnya juga sudah kita dengar bahwa peternakan sapi telah diintegrasikan pada sejumlah perkebunan sawit, untuk lebih detail bisa dibaca disini. Selain dombanya yang akan menjadi komoditas export demikian juga sawdust charcoal briquette dari kebun energi tersebut.
Sate Domba Dalam Kemasan
Startup business berbasis peternakan domba tersebut akan mendorong memperbaiki kualitas makanan kita dan juga sekaligus memperbaiki lingkungan. Dan supaya berbagai wilayah juga mudah mendapatkan suplai daging domba tersebut maka daging domba juga bisa dikemas dalam bentuk sate siap saji, sehingga juga mudah bila hendak mengkonsumsi sate domba setiap hari. Pada saat hari raya Idul Adha startup business ini juga mendukung penyediaan hewan qurban, sebagai bagian menegakkan syariat Islam (QS. Al-Kautsar :2; QS. Al-Hajj:34) yang akan terus ada hingga hari kiamat. Bahkan khusus domba dibolehkan untuk hewan qurban yang masih berumur enam bulan, masuk bukan ketujuh (jadza'ah) sedangkan hewan qurban lain memenuhi syarat jika minimal sudah berumur satu tahun atau lebih (mussinnah) seperti kambing adalah tsany (umur satu tahun, masuk tahun kedua), sapi dua tahun, masuk tahun Ketiga dan unta lima tahun, masuk tahun keenam. Lebih jauh juga kebutuhan makanan halal adalah kebutuhan mutlak bagi semua muslim sehingga menjalankan bisnis untuk pemenuhan makanan halal juga seharusnya menjadi domain orang Islam seperti halnya bisnis umroh dan haji hingga wisata halal. Terlebih lagi banyak ayat dalam Al Qur'an tentang keutamaan domba dibanding hewan ternak lainnya, untuk lebih detail bisa dibaca disini. Mari kita menjadi bagian solusi pangan dan lingkungan dunia serta menegakkan syariat Allah SWT.

Rabu, 10 Juli 2019

Startup Business Berbasis Kebun Energi

Startup business menjadi trend hari ini dan tidak sedikit khususnya kalangan muda yang sangat tertarik dengan pola bisnis ini. Teknologi informasi berupa internet telah memudahkan menjalankan bisnis startup tersebut. Hari ini kita bisa saksikan bahwa dengan pola startup tersebut sejumlah perusahaan besar telah exist dan berdiri dengan menjual produk dan layanannya. Produk inovatif yang bisa memberi solusi jitu dari berbagai permasalahan yang ada akan perusahaan tersebut terus exist dan berkembang. Tetapi ternyata menjalankan dan mengembangkan startup business ini juga bukan hal mudah dan tanpa kendala. Faktanya sampai saat ini kemungkinan startup muncul dan mampu bertahan hanya 8% artinya dari 100 startup muncul hanya 8 startup saja yang bisa bertahan sampai tahun kedua. Bahkan kalau dihitung hingga tahun kelima, hanya 2 startup saja yang bisa bertahan. Tetapi fakta diatas bukan halangan sehingga menurunkan semangat untuk terus menekuni startup business tersebut justru sebaliknya menjadi penyemangat tentang perlunya ilmu dan bekal yang cukup sehingga bahkan memperbaiki kondisi tersebut.

Sama halnya dengan bisnis pada umumnya, bisnis startup juga akan senantiasa bisa bertahan dan berkembang bila memang terus dibutuhkan oleh konsumen. Ada sejumlah komoditas mendasar yang akan selalu terus dibutuhkan diantaranya yaitu pangan dan energi. Kebutuhan pangan dan energi selalu berbanding lurus dengan populasi manusia. Energi terbarukan khususnya berbasis biomasa yang juga menjadi salah satu fokus dari blog ini, memiliki prospek cerah dimasa mendatang. Kebun energi bisa menjadi basis untuk sebuah startup business. Kebun energi selain memiliki manfaat yang besar bagi lingkungan, juga memiliki manfaat ekonomi dan sosial. Selain itu pada faktanya implementasi kebun energi juga saat ini belum ada yang menggarap secara profesinal, sehingga perlu akselerasi. Pada tahap awal startup bisa fokus pada komoditas yang mudah dan dibutuhkan pasarnya, seperti skema dibawah ini.
Startup Business Berbasis Kebun Energi Tahap 1
Kebun energi memiliki sejumlah output yang bisa dikomersialkan atau dijual, yakni kayu  untuk bahan baku wood pellet, daun untuk pakan ternak dan bunga untuk produksi madu. Sejumlah output atau hasil panen tersebut jelas akan memaksimalkan keuntungan kebun energi tersebut. Luasnya lahan tidur, lahan kritis dan sejumlah lahan tidak produktif yang mencapai puluhan juta hektar adalah tantangan tersendiri untuk implementasi kebun energi tersebut. Semakin banyak lahan dimanfaatkan dan semakin tinggi tingkat keuntungan yang didapat maka tentunya akan semakin banyak para investor berinventasi pada sektor ini. Program swasembada daging dari produksi dalam negeri juga semakin terbantu dan bisa diakselerasi dengan hijauan pakan ternak dari daun kebun energi tersebut. Kebun energi dengan menggunakan tanaman kelompok leguminoceae (polong-polongan) seperti kaliandra dan gamal/gliricidae, dengan akar yang bersimbiosis dengan azetobacter sehingga bisa mengikat nitrogen dari atmosfer membuat daun-daunnya kaya protein sehingga menjadi pakan bergizi bagi ternak.
Startup Business Berbasis Kebun Energi Tahap 2
Pada tahap 2 seperti skema diatas keuntungan yang didapat bisa lebih ditingkatkan lagi. Hal tersebut karena perusahaan tidak hanya memproduksi bahan mentah yang digunakan industri lain tetapi lebih jauh lagi, yakni menghasilkan produk jadi yang siap dikonsumsi. Walaupun demikian panjangnya mata rantai proses produksi memang menjadikan tanggungjawab produsen semakin besar dan kompleks. Startup business yang sudah berpengalaman atau sudah melampaui skema tahap 1 biasanya akan lebih mudah untuk menjalankan tahap 2. Pasar untuk tahap ini juga sebagian besar untuk eksport karena sampai saat ini pasar dalam negeri belum siap, misalnya wood pellet untuk bahan bakar pembangkit listrik berteknologi fulidized bed combustion. PKS (palm kernel shell) atau cangkang sawit saat ini telah banyak digunakan untuk untuk pembangkit listrik tersebut, dan karena ketersediaan juga terbatas akan sangat mungkin pada era mendatang wood pellet dari kebun energi sebagai penggantinya.

Pasar bahan bakar biomasa khususnya PKS dan wood pellet sangat terbuka khususnya pasar export. Jepang dan Korea adalah konsumen bahan bakar biomasa terbesar saat ini untuk kawasan Asia, untuk lebih detail tentang karakteristik pasar Jepang dan Korea bisa dibaca disini. Sedangkan Eropa dengan program RED (Renewable Energy Directive) II pada tahun 2030 mentargetkan bahwa hampir 1/3 konsumsi energi berasal dari energi terbarukan dengan bahan bakar biomasa mendapat porsi 80%. Jumlah tersebut tentu sangat besar, dengan kondisi saat ini saja Eropa masih membutuhkan sekitar 5 juta ton wood pellet padahal RED I yang berlaku sampai 2020 hanya mentargetkan 20% konsumsi energi dari energi terbarukan dan biomasa mendapat porsi 80%.

Kamis, 04 Juli 2019

Vibrating Screen untuk Membersihkan PKS Berorientasi Export

Salah satu parameter kualitas untuk PKS atau cangkang sawit untuk pasar export adalah faktor kebersihannya. Faktor kebersihan ini sangat terkait dengan banyak sedikitnya benda-benda pengotor di dalamnya. PKS di pabrik sawit biasanya hanya ditumpuk di hamparan tanah bagian belakang pabrik sawit. Hal tersebut sangat memungkinkan tercampur dengan sejumlah pengotor yang berada di sekitar lokasi tersebut atau karena sejumlah limbah atau sampah yang mungkin juga dibuang di lokasi tumpukan PKS tersebut. Pengotor PKS yang biasa ditemui adalah logam, plastik dan batu. Untuk tujuan export tersebut jumlah pengotor yang diperbolehkan atau tingkat toleransi sangat kecil yakni berkisar 1% saja. Mengapa PKS tersebut perlu dibersihkan sedemikian rupa? Hal tersebut karena pengotor-pengotor tersebut akan menggangu proses pembakaran atau pemanfaatan PKS tersebut dan pembangkit listrik adalah pengguna terbesarnya. Dan untuk lebih detail bisa dibaca disini.
Ayakan Manual
Ayakan (screener) adalah peralatan yang digunakan untuk membersihkan PKS dari pengotor tersebut. Kotoran-kotoran tersebut akan terpisah dari PKS karena perbedaan ukurannya. Dan khusus untuk pengotor logam maka pemisahannya dilakukan dengan magnet (magnetic separator). Proses pembersihan dengan ayakan ini pada dasarnya sangat mudah, bahkan dengan ayakan manual saja bisa dilakukan. Tetapi untuk volume yang cukup besar misalnya hingga ribuan ton maka ayakan manual tidak efisien dan membutuhkan waktu lama sehingga dibutuhkan ayakan yang bekerja secara mekanik. Ada dua ayakan mekanik yang biasa digunakan yakni ayakan getar (vibrating screen) dan ayakan putar (rotary screen). 
Pada prakteknya jenis vibrating screen lebih populer dibandingkan rotary screen. Hal tersebut karena konstruksi dan operasional vibrating screen lebih mudah, selain itu harga vibrating screen juga lebih murah dibanding rotary screen. Vibrating screen adalah ayakan yang beroperasi akibat adanya getaran dari gerakan eksentrik. Semakin tinggi rpm maka gerakan vibrating screen akan semakin halus. Baik vibrating screen juga bisa dilengkapi beberapa ayakan atau ayakan bertingkat sehingga bisa didapat sejumlah fraksi produk berdasarkan ukurannya. Hanya saja  hal tersebut juga lebih mudah dilakukan dengan vibrating screen. Pada pengayakan PKS biasanya hanya satu hingga tiga tingkat pengayakan saja.

Kebutuhan PKS untuk pasar Asia dan Eropa diprediksi terus meningkat setiap tahunnya hingga mencapai jutaan ton. Hal tersebut karena produksi listrik dengan menggunakan PKS semakin meningkat. Supplai atau pasokan PKS terutama berasal dari Indonesia dan Malaysia, serta beberapa negara di Afrika Barat, tempat asal pohon sawit. Indonesia dan Malaysia terutama menyuplai kebutuhan Jepang dan Korea di Asia sedangkan Afrika Barat menyuplai negara-negara di Eropa. PKS sebagai bahan bakar biomasa juga memiliki kompetitor terutama adalah wood pellet. Harga PKS di pasar dunia jauh lebih murah dibandingkan wood pellet sehingga banyak pembangkit listrik biomasa lebih memilih PKS. Produksi PKS untuk export juga lebih mudah dibandingkan wood pellet. Export PKS dari Indonesia dan Malaysia cukup besar jumlahnya hal ini karena jumlah PKS yang dihasilkan juga besar sedangkan kebutuhan juga besar. Selain itu juga penggunaan PKS di dalam negeri yang masih kecil membuat export PKS lebih dominan.

Untuk pemesanan mesin vibrating screen tersebut bisa email di cakbentra@gmail.com atau telpon di 081328841805

Minggu, 02 Juni 2019

Mencari Pasokan PKS dari Indonesia

Dengan jumlah pabrik kelapa sawit diperkirakan mencapai lebih dari 1000 unit dengan 12 juta hektar perkebunan sawit dan lebih dari 40 juta ton/tahun CPO, maka potensi PKS yang dihasilkan mencapai 15 juta ton/tahun. Dengan properties mirip dengan wood pellet dan harga jauh lebih murah, maka PKS menjadi primadona bahan bakar biomasa. Tetapi dengan lokasi pabrik kelapa sawit yang lokasinya sebagian besar sangat terpencil dan PKS masih dianggap sebagai limbah bagi pabrik kelapa sawit maka seringkali mendapatkan PKS tidak mudah. Faktor infrastruktur dan jauhnya jarak dengan pelabuhan export sering menjadi kendala. Hal tersebut membuat sebagian pabrik sawit hanya membuang atau menimbun PKS di lokasi sekitar pabrik mereka. Bagi pabrik kelapa sawit yang memiliki bisnis utama minyak sawit atau CPO, masih banyak pabrik sawit kurang memperhatikan PKS sebagai sumber penghasilan tambahan.
Jepang khususnya adalah konsumen PKS terbesar, disusul Korea dan beberapa negara Eropa. Kebutuhan mereka diperkirakan hingga jutaan ton setiap tahunnya. Export PKS ke Jepang dan Korea lebih mudah dan sering dilakukan karena jarak relatif dekat dibandingkan ke Eropa. Export PKS ke Jepang dan Korea biasanya sudah cukup ekonomis dengan volume 10.000 ton setiap pengapalan sedangkan untuk ke Eropa dengan jarak lebih jauh maka supaya tetap ekonomis volume pengapalan harus cukup besar misalnya lebih dari 25.000 ton setiap pengapalan. Diprediksi pada tahun 2021 atau 2022 kebutuhan PKS Jepang akan meningkat pesat dan kemudian relatif stabil untuk rentang 20 tahun ke depan. Hal ini karena pembangkit-pembangkit listrik biomasa sudah bisa dikatakan sepenuhnya beroperasi pada tahun tersebut. Rencana awal sebenarnya tahun 2019 pembangkit-pembangkit listrik biomasa tersebut bisa beroperasi, tetapi karena adanya sejumlah kendala sehingga mundur hingga tahun 2021 atau 2022. Untuk lebih detail tentang keterlambatan pembangunan pembangkit listrik di Jepang tersebut bisa dibaca disini.
PKS tersebut berasal dari pabrik sawit dan dikumpulkan di suatu tempat hingga mencapai volume tertentu sehingga siap dikapalkan. Supaya bisa diterima oleh pembangkit listrik, PKS dibersihkan dari sejumlah pengotor dan dikeringkan hingga kadar air dibawah 20%. Pembersihan dari pengotor tersebut dilakukan dengan alat ayakan dan pengeringan dilakukan hanya dijemur matahari ataupun diangin-anginkan. Selain itu untuk bisa menjaga kebersihan dan kekeringan PKS khususnya pada musim penghujan, bangunan seperti gudang besar serta lantai beton dibutuhkan. Bahkan tidak sedikit pembeli PKS dari Jepang mensyaratkan bangunan gudang besar dengan lantai beton tersebut sehingga kualitas PKS bisa terjaga.
Tipikal Circulating Fluidized Bed (CFB) di Jepang

Teknologi pembakaran fluidized bed untuk pembangkit listrik mulai banyak digunakan di Jepang. Dengan teknologi fluidized bed combustion tersebut PKS bisa digunakan sebagai bahan bakar bahkan biomass pellet yang berasal dari limbah pertanian juga bisa digunakan untuk teknologi tersebut. Teknologi fluidized bed combustion dengan suhu operasi lebih rendah dibandingkan pulverized combustion membuatnya lebih toleran terhadap berbagai jenis bahan bakar. Hal itu juga berarti EFB pellet (Pellet tankos sawit), dan wood pellet dari kebun energi bisa digunakan untuk bahan bakar fluidized bed combustion.


Pembangkit listrik biomasa yang mengandalkan PKS untuk rentang waktu 20 tahun tentu sangat memperhatikan keberlangsungan pasokan PKS dalam rentang tersebut. Setiap hal yang bisa mengganggu pasokan PKS baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang akan secara serius menjadi perhatian mereka. Sebagai contoh penggunaan PKS di dalam negeri juga ada kecenderungan meningkat yang bisa jadi peningkatan penggunaan biomasa sebagai bahan bakar maupun sektor lain seperti produksi activated carbon dari PKS. Pada kondisi tersebut tentu mereka akan membuat perhitungan terkait pasokan PKS dan pihak exporter PKS . Program ekstensifikasi perkebunan sawit juga dilain sisi akan semakin pasokan PKS karena pabrik sawit akan mengolah TBS dari kebun tersebut dan menghasilkan PKS sebagai limbah atau produk sampingnya.
Loading PKS untuk Export

Para pemain atau exporter PKS saat ini pada umumnya telah memiliki kontrak dengan pembeli Jepang baik untuk spot trading bahkan untuk kontrak yang lebih lama. Dan tidak sedikit para exporter tersebut telah kehabisan quota PKS untuk pembeli baru. Pada kondisi demikian pembeli baru harus bisa mencari supplier/exporter PKS lain. Supplier baru bisa jadi belum ada pengalaman export dan bahkan tidak memiliki sejumlah fasilitas untuk mengolah PKS, tetapi hanya memiliki jaringan dengan sejumlah pabrik sawit sebagai sumber atau produsen PKS. Kondisi tersebut membuat export PKS tidak bisa langsung dijalankan, tetapi membutuhkan sejumlah persiapan dari kedua belah pihak. Mengingat masih ada waktu 1-3 tahun lagi dari sekarang kedua belah pihak bisa menyiapkan bisnis tersebut mulai saat ini, sehingga bisnis jangka panjang tersebut bisa terlaksana dan sesuai harapan.

Buah Kelapa Reject (Non- Standard) untuk Produksi Bioavtur / SAF

Organisasi penerbangan sipil internasional / International Civil Aviation Organization (ICAO) telah memasukkan kelapa non-standar di dalam p...